Tag Archives: menu masakan gunung

Pendakian Papandayan: Tanpa Mencapai Summit Puncak

5 Apr

Saat ini sudah keempat kalinya mendengar teman saya melakukan pendakian ke Gunung Papandayan. Tak lama sejak itu, teman-teman pramuka yang sudah sangat rindu dengan alam merencakan untuk mendaki. Hasrat saya untuk mendaki ke Gunung Papandayan yang akhirnya membuat saya mengusulkan untuk melakukan perjalanan ke sana. Ya, perencanaan matang untuk pendakian sebulan kemudian.

Tak disangka, cuaca Jakarta semakin memprihatinkan. Hujan mengguyur dengan derasnya, disertai dengan banjir dimana-mana. Ya, 10 dari 15 teman saya yang berencana pergi, mengundurkan diri untuk ikut. Sempat merasa ragu karena hal ini. Namun, keinginan saya dan keempat teman saya (Septi, Sandy, Erwin, dan Ogie) tetap bulat. Kebetulan kami berempat memang pecinta alam. Sehingga tidak terlalu sulit untuk mengumpulkan peralatan walau hanya berlima dan melengkapinya. Dengan persiapan alat dan bahan keperluan hanya H-1 (satu hari sebelum keberangkatan), kami pun memutuskan untuk tetap mendaki.

Berikut beberapa perlengkapannya:

Perlengkapan Kelompok:

-       Tenda + Pasak

-       Tali Rafia

-       Matras

-       Kompor trangia

-       Parafin

-       Nasting

-       Kebutuhan makan utk 2hari

-       Flysheet

-       Matras

Perlengkapan pribadi:

-       Tas Carriel

-       Pack cover (bungkus luar tas carriel)

-       Tas kecil (isinya dompet,obat pribadi,hp,dll)

-       Senter (prefer headlamp)

-       Kacamata

-       Peralatan jahit (untuk darurat saja)

-       Plastik dan Trashbag (untuk bungkus baju kotor, baju bersih, dan cover dalam tas carriel)

-       Camera

-       Sleeping bag

-       Jas hujan / ponco

-       Alat tulis

-       Jaket

-       Sendal gunung da sandal jepit

-       Baju ganti 2 hari (luar-dalam)

-       Alat makan

-       Air minum

-       Alat mandi

-       Alat Shalat

Kami berencana hanya dua hari berada di sana, sehingga tas yang saya bawa cukup 45L + 10 (45 liter, dengan eksten 10 liter). Hasil googling, dan saya dapatkan cara untuk packing yang benar (source tercantum pada gambar). Kebetulan tas yang saya gunakan kecil, sehingga tenda dan kompor, bukan di tas saya. Hehe.

1

Source : hsgautama.multiply.com

Ada tiga cara berangkat dari Jakarta menuju Terminal Guntur (Garut):

  • < jam 9 malam : dari Terminal Lebak Bulus (Jakarta-Garut) Rp. 35.000 per orang
  • > jam 9 malam : dari Terminal Kp Rambutan (Jakarta-Garut) Rp. 35.000 per orang
  • >jam 9 malam :dari Terminal Lebak Bulus (Jakarta-Cileunyi) Rp. 26.000 per orang

kemudian dengan naik mobil elf Cileunyi-Garut Rp. 10.000 per orang

Di luar dugaan, malam itu saya masih diharuskan atasan saya untuk lembur sampai jam 9 malam. Padahal kami seharusnya sudah berangkat dari Terminal Lebak Bulus jam 8 malam. Dan keempat teman saya sudah berada di terminal Lebak Bulus, sehingga mengharuskan kami mengambil cara ketiga (keterangan di atas). Perjalanan malam kami tempuh, agar dapat mendaki Gunung Papandayan di pagi harinya. Karena Gunung Papandayan masih aktif dan mengeluarkan asap belerang yang kuat, terlebih di atas jam 10 pagi.

Kami berangkat dari Lebak Bulus, Rabu, 23 Januari. Naik bus ke Cileunyi sekitar pukul 21.30 bus. Pukul 02.00 kami sampai di Cileunyi. Di Cileunyi  kami sempatkan untuk packing ulang, membagi perlengkapan ke carriel bag yang dirasa masih kosong (bukan punya saya tentunya, karena kecil. Hihi)

2

Kemudian dilanjut dengan elf dan tiba di Terminal Garut pukul 03.00. Kami menunggu subuh di sekitar Masjid di depan Terminal Guntur. Setelah pagi, kami lanjutkan perjalanan menggunakan elf yang hanya mau jalan ketika kuota penumpangnya sudah terisi penuh. Kerja sama dengan penumpang lain yang akan pergi ke Papandayan menjadi solusinya. Dalam waktu 30 menit kami sampai ke tujuan, Cisurupan, dengan kocek 10 ribu rupiah saja.

Angin dingin mulai terasa menusuk tulang di daerah ini. Tak jauh dari tempat kami diturunkan elf tadi, kami menemui Pasar Tradisional Cisurupan, dan membeli beberapa sayur-mayur segar untuk dimasak ketika di atas. Ya, menu kangkung, tempe, sop, siap disajikan di atas nanti.

Di Simpang Cisurupan sudah tersedia pick up yang siap mengantarkan para pendaki sampai ke alun-alun Papandayan. Tawar menawar, finalnya 120 ribu rupiah untuk 10 orang penumpang (5 orang lainnya adalah pendaki lain yang berasal dari Bogor).

3

Dan beginilah pemandangan spanjang jalan menuju basecamp Gunung Papandayan. Worth! Subhanallah!

IMG_0025

Setangah jam kemudian setelah melalui jalan rusak, ilalang, pemandangan gunung Cikurai yang memukau sepanjang perjalanan dan pepohonan tinggi besar, kami pun sampai di alun-alun Pos Pendakian Papandayan pukul 08:30. Teman saya, Sandy, segera lapor ke pengurus pos dan membayar sejumlah uang sebesar Rp 2.000 (dua ribu rupiah) per orang.

4

Sebagai informasi tambahan, disarankan untuk tidak mengenakan jaket ketika mendaki, karena akan sangat kegerahan akibat perjalanan yang cukup jauh. Berdoa sebelum melakukan pendakian adalah kewajiban.

Perjalanan pun dimulai. Kami disambut dengan kawah putih yang begitu luas dan mengepulkan asap dengan bau yang tidak sedap. Teman saya mengingatkan kita semua unutk menggunakan masker yang sudah dibasahi air, supaya dapat oksigen dari air tersebut dan 1005 ampun mengurangi bau belerang yang sangat menyengat. Karena beberapa teman saya sudah sering ke tempat ini, sehingga rute pun dapat dilalaui tanpa tersesat. Bahkan sudah maping peta saat briefing sebelum keberangkatan.

5

 

Tracking di sepanjang track Gunung Papandayan ini jauh dari membosankan. Karena pemandangannya tidak monoton. Sajian view di awal pendakian adalah kawah dengan semburan asap belerang di sepanjang kanan dan kiri track.

8

Kemudian kami disajikan padang rerumputan yang hijau dan memanjakan mata bagi yang sangat merindukan hehijauan pegunungan yang rindang.

9

Disekitar wilayah pegunungan ini, banyak terdapat Cantigi, tumbuhan cantik berwarna merah dan menarik dan ternyata dapat dimakan. Rasanya sedikit sepat, seperti kedondong. Kabarnya Cantigi yang cantik ini juga merupakan tanaman pelindung bagi Edelweis. Sejak saat itu bercita-cita menamai salah satu anak nanti dengan nama Cantigi. hihi

10

Sayangnya Edelweis saat itu sedang tidak tumbuh berkembang. Namun tidak memudarkan semangat untuk terus tracking menuju Pondok Salada.

???????????????????????????????

Setelah berjalan beberapa lama, kami disajikan dengan view lain, air terjun. Tidak besar memang, namun aliran dan suara gemericiknya mampu menenangkan dan melepas lelah setelah beberapa lama berjalan.

11

Badan telah kembali pulih, kami bergegas untuk melakukan perjalanan kembali. Masih dengan pemandangan pepohonan. Kami bertemu denganview “danau cinta”. Entah enath ada apa cerita dibalik danau tersebut hingga disebut danau cinta. Namun, jika kita lihat dengan zoom in kamera, bentuk danau ini memamng berbentuk hati. Mungkin itu sebabnya disebut danau cinta.

12 13

Tidak terasa, tibalah kami di Pondok Salada pukul 11.00. Kami langsung berbagi tim, 3 orang untuk membangun tenda, dan 2 orang memasak untuk makan siang.

14 15 16

Menu makan siang hari pertama :

Mie goreng special

Untuk porsi 5 orang

Margarin untuk menggoreng

4 bungkus mie goring instan yang sudah direbus jangan terlalu matang, sisihkan

2 buah telur

5 buah cabe rawit, iris tipis

4 buah bawang merah, iris tipis

2 buah bawang putih, iris tipis

Kecap manis

Cara memasak :

  1. Lelehkan margarin dalam nasting panas, masukkan telor dan masak secara orek. Sisihkan.
  2. Lelehkan margarin kembali, masukkan irisan bawang merah dan putih sampai harum, kemudian masukkan irisan cabe rawit. Masukkan telor orek, mie yang telah direbus, dan bumbu mie instan. Tambahkan sedikit kecap manis untuk penambah cita rasa.

Catatan : Siang itu, kami lengkapi dengan gorengan chicken nugget sebagai pelengkap.

Beruntungnya kami, tepat setelah tenda berhasil didirikan dan masakan matang, hujan mengguyur dengan derasnya. Sehingga kami dapat berisitarat dan makan bersama di dalam tenda.

Malampun tiba, hujan deras menyisakan gerimis. Kami bergegas memasak lagi untuk makan malam.

17

Menu makan malam hari pertama :

Nasi liwet

Untuk porsi 5 orang

 

Bahan

Beras

Air secukupnya

Alat

Tragia 1 set

Kompor

Sendok

Cara Membuat :

  1. Masukan 3-4 genggam beras kedalam panci, tambahkan air kurang lebih satu buku jari tangan diatas permukaan beras.
  2. Taruh panci yang berisi beras + air diatas kompor menyala.
  3. Tutup panci dengan fraying pan yang dibalik
  4. Tunggu sampai air mendidih dan mengeluarkan uap putih
  5. Angkat tutup panci menggunakan pengangkat trangia
  6. Aduk beras dengan Sodet secara merata
  7. Coba rasakan nasi yang dibuat sudah matang apa belum
  8. Bila air telah habis tapi nasi belum matang tambahkan air ke dalam panci secukupnya ( kalau bisa air yang ditambahkan adalah air matang) dan tutup kembali panci tsb hingga matang dan nasi siap disajikan.

 

SOP

Bahan

kentang kupas potong kotak

wortel kupas potong2

kol dipotong2

tomat dipotong kotak

daun bawang diiris 1 cm

seledri potong2

air

Bumbu halus

bawang putih

merica

garam

Cara membuat

  1. Rebus air, masukan kentang, wortel, cabai rawit, masak sampai matang.
  2. Tumis bumbu halus hingga harum setelah itu masukan ke dalam sayur aduk.
  3. Tambahkan kol, daun bawang, seledri, dan tomat aduk biarkan sebentar lalu angkat.
  4. Sajikan.

Keesokan harinya, setelah sarapan dengan pizza mie singkat, kami berangkat pulang, dengan keadaan masih hujan gemericik.

IMG_0167

IMG_0169

IMG_0171

IMG_0172

IMG_0174

 

Setelah masuk wilayah kota Garut, tidak lupa kami menjajaki beberapa kuliner garut di sepanjang jalan Siliwangi, ada Chocodot dan Pasar Senja Gagut.

IMG_0224

IMG_0212

IMG_0209

IMG_0205

IMG_0194

See you guys in another trip ;)

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 5,394 other followers