“Laboratorium Alam” Dunia : Gunung Gede-Pangrango 2.958 MDPL

1 Jul

C360_2015-06-04-23-43-01-692[1]

Lagi, belum hilang duka dari pendaki yang tergelincir ke kawah Puncak Merapi, sekarang datang lagi duka dari Puncak Gunung Gede Pangrango. Seorang pendaki wanita asal IKJ (Institut Kesenian Jakarta) kabarnya ditemukan sudah tidak bernyawa di alun-alun Suryakencana – Gunung Gede Pangrango saat mendaki dengan 31 orang lainnya dengan dugaan sementara akibat terkena hypothermia.

Padahal niat hati, pagi ini saya memang akan menuliskan tentang perjalanan saya sebelumnya ke Gunung Gede-Pangrango, tidak menyangka saat melihat berbagai berita di internet ternyata sedang membahas tragedi di puncak gunung tersebut.

Bulan April atau Mei setiap tahunnya adalah bulan pembuka bagi pendakian gunung. Hal ini karena biasanya cuaca sudah mulai bersahabat untuk mendaki gunung. Tetapi beda dulu, beda sekarang. Cuaca sudah tidak bisa diprediksi lagi, bhakan masuk musim panas pun tetap hujan deras beberapa waktu. Seperti halnya saat saya bersama 4 tim saat mendaki Gunung Gede-Pangrango kala itu.

Walaupun saya yakin semua pembaca ini adalah yang sangat mahir soal urusan pendakian, tetapi tidak ada salahnya untuk saling mengingatkan kembali apa yang perlu dilakukan sebelum mendaki pada tulisan saya sebelumnya “Mau mendaki? Lihat ini!”

Begitulah nasib karyawan, butuh waktu libur yang pas atau memaksimalkan weekend (Sabtu-Minggu) untuk melepas dahaga travellingnya, termasuk saya. Sehingga saya dan 4 tim lainnya memutuskan untuk ke Gunung Gede Pangrango. Selain karena belum pernah menjajaki kaki ke sana, lokasinya yang dekat dengan Jakarta juga menjadi alasan memilih destinasi tersebut.

Seperti biasa, sebelum pergi ke suatu tempat, saya akan mencari infonya sedikit tentang tempat yang akan saya tuju. Ternyata TNGP ini sangat unik, bahkan UNESCO menetapkan sebagai Cagar Biosfir (1977) dan sebagai Sister Park dengan Taman Negara di Malaysia (1995).

Itulah kita, bahkan orang asing lebih mengistimewakan dari pada orang kita sendiri. Dari situ saya semakin penasaran, tentang mengapa sampai dihargai sebegitunya tentang tempat ini. Dan saya dapati ternyata begitu istimewanya tempat ini jika dilihat dari serbagai sudut pandang:

  1. Bermacam-macam ekosistem, yaitu Sub-Montana dan Montana (ditandai adanya pohon tinggi dan besar seperti Jamuju dan Puspa), sub-alpin (ditandai adanya rumput Isachne pangerangensis, bunga eidelweis, violet, dan cantigi), dan lengkap dengan danau, rawa, juga savana.
  2. Tempat hidup satwa bahkan beberapa adalah satwa yang hampir punah , seperti yaitu owa, surili, lutung budeng, macan tutul, landak Jawa , kijang, dan musang tenggorokan kuning.
  3. Kaya akan berbagai jenis burung yaitu 251 jenis (dari 450 jenis di seluruh Pulau Jawa), seperti elang jawa dan burung hantu. Kebayang kan, setengah dari jumlah seluruh jenis burung se-Pulau Jawa kumpul di sini.

Wajar kalau TNGP ini disebut sebagai Laboratorium Alam- nya dunia, yang bukan hanya pendaki, ini juga menjadi daya tarik para peneliti sejak lama.

Jadi gak sabar untuk segera ke sana. Tapi ya begitulah nasib karyawan, butuh waktu libur yang pas atau memaksimalkan weekend (Sabtu-Minggu) untuk melepas dahaga travellingnya, termasuk saya. Sehingga saya dan 4 team lainnya memutuskan untuk ke Gunung Gede Pangrango. Selain karena belum pernah menjajaki kaki ke sana, lokasinya yang dekat dengan Jakarta juga menjadi alasan memilih destinasi tersebut.

Gunung Gede-Pangrango, meskipun peraturan dibuat seketat mungkin tetap saja menjadi salah satu gunung yang menjadi favorit para pendaki di Indonesia, kurang lebih 50.000 pendaki per tahun. Hal ini bisa jadi karena lokasinya yang berdekatan dengan Jakarta dan Bandung. Maka dari itu untuk mengembalikan habitatnya tiap bulan Agustus ditutup untuk pendaki juga antara bulan Desember hingga Maret.

Tepat saat dibukanya kembali jalur pendakian pada Bulan April, saya dan beberapa tim memutuskan untuk mendaki Gunung Gede. Namun cuaca masih kurang bersahabat. Sepanjang pagi dan malam terus diguyur hujan lebat. Hal ini membuat kami memutuskan untuk mendaki dengan jalur Cibodas-Cibodas agar lebih aman dan nyaman.

Seperti biasa, sepulang kantor kami langsung berangkat. Kami menggunakan kendaraan umum jurusan Jakarta – Bandung sebagai transportasi menuju Jalur Pendakian Cibodas (1.425 mdpl). Turun di pertigaan Cibodas, disambung dengan mobil angkutan kecil ke Kebun Raya Cibodas. Di sekitar Kebun Raya Cibodas terdapat tempat parkir yang luas, banyak terdapat pedagang makanan dan oleh-oleh di sepanjang jalan. Ada juga penginapan ataupun lokasi untuk berkemah di dekat kantor Taman Nasional.

16863309128_cf20fd9b32

Tempat Menginap Pendaki Sekitar Kantor TNGP

Intinya mau naik dari pintu Cibodas, Gunung Putri, ataupun Salabintana tetap harus melakukan registrasi ulang di Kantor TNGP di Cibodas.

16428653424_522e0fa43d[1]

Kantor TNGP untuk Registrasi Ulang

Booking sudah dilakukan sejak sebulan lalu, namun apa daya peraturan per 1 Apr terjadi kenaikan harga tiket dari Rp 7.000 menjadi Rp 32.500 di hari libur. Hal ini membuat kami menambah bayar pada saat registrasi. Hiks!

REGISTRASI, ini adalah hal yang paling menjemukan saat mendaki TNGP, serba dipersulit (tetapi tetap saja banyak peminatnya, termasuk saya, hehe). Walaupun registrasi online telah dilakukan sebelumnya. Berikut adalah cara untuk mendapatkannya:

  1. Pendaftaran melalui “calo”: dibeberapa penginapan pendaki di sekitar tempat pendaftaran TNGP menyediakan “calo” pendaftaran, dengan harga lebih besar dari harga tiket aslinya. Tinggal beres!
  2. Pendaftaran mandiri: Sudah ataupun belum registrasi online, ternyata pendaftaran tetap bisa dilakukan. Tetapi perlu diingat untuk menyiapkan:
  • Fotokopi KTP (seluruh tim)
  • Bukti transfer (jika sudah melakukan registrasi online dan melakukan pembayaran melalui transfer)

Karena jika tidak siap, kita akan dibuat bolak-balik bahkan sampai hampir ke jalan raya puncak untuk mencari tempat fotokopi dan warnet, seperti yang terjadi pada kami hari itu.

Pos Pendaftaran – Taretong (15 menit)

Akhirnya kami mulai pendakian siang hari, karena menurut informasi waktu yang baik untuk mendaku gunung Gede-Pangrango adalah pukul 10-13 atau malam pukul 18-19. Dengan diselingi hujan beberapa kali di sepanjang perjalanan, kami melangkah dengan Bismillah.

Dari pos pendaftaran kantor TNGP ke Pos 1 Tarentong memakan waktu sekitar 15 menit. Di sana kami ditanyai beberapa perlengkapan yang tidak boleh dibawa seperti, miras, obat terlarang, alat musik (gitar, piano, harmonika, dll), alat elektronik (radio komunikasi, radio, tape, walkman, gamewatch, wireless, dll), binatang peliharaan, senjata api, senapan angin, golok, alat berburu, sabun, odol, shampoo dan sejenisnya.

Tarentong – Telaga Biru (1.500 MDPL)

17051095205_e3389b65d8[1]

Karena pendakian awal adalah jalur wisata Wisata Telaga Biru dan Air Terjun Cibeureum, sehingga banyak didominasi oleh trek batu yang sudah disusun.

Awal pendakian dimulai dengan melewati jalan berbatu melintasi hutan tropis. Setelah melakukan perjalanan sejauh 1,5 km atau sekitar 15 menit kami sampai di sebuah rawa yang bernama Telaga Biru. Telaga ini berubah warna dikarenakan tanaman ganggang di dalamnya. Dalam perjalanan awal ini kita akan banyak menjumpai aliran air, sangat segar!

Telaga Biru – Rawa Gayang Agung (1.600 MDPL)

Jalur yang menarik, karena 15 menit kemudian kami melalui jembatan beton dengan panjang sekitar 1 km. Sebelumnya jembatan ini hanya terbuat dari kayu, namun tetap saja beberapa beton sudah mulai bolong, sehingga pendaki bila kurang hati-hati bisa terperosok.

Rawa Gayang Agung – Rawa Panyangcangan Kuda (1.628 MDPL)
Perjalanan dilanjutkan menuju Rawa Panyangcangan Kuda yang mana juga menjadi percabangan untuk menuju gunung Gede-Pangrango dan air terjun Cibeureum  (1675 MDPL – terdiri dari curug Cidendeng, curug Cikundul, dan curug Ciwalen) yang membutuhkan 30 menit untuk tiba di sana dan kembali ke Penyangcangan Kuda kembali untuk melanjutkan trek ke Gunung Gede-Pangrango.

Hujan kembali deras saat tiba di pos ini, tentu saja kami tidak melanjutkan ke curug Cibeureum. Kami berisirahat cukup lama menunggu hujan agak mereda sebelum melanjutkan trekking.

Rawa Panyangcangan Kuda – Pos Batu Kukus (1.820 MDPL)

Sebenarnya inilah titik dimulainya pendakian yang sesungguhnya. Jalan setapak bebatuan terjal yang menanjak dan berliku mulai dilalui. Tetapi gemuruh air terjun yang berada jauh di bawah terdengar jelas, sehingga membangkitkan semangat untuk terus berjalan.

Hujan kembali turun dnegan derasnya. Udara dingin, baju yang setengah basah walaupun sudah mengenakan jas hujan, memaksa kami untuk mulai membuat makanan untuk mnegisi perut yang kosong agar terhindar dari hypothermia selama pendakian. Ya! Mengisi perut dengan makanan adalah salah satu cara ampuh menghindari hypothermia.

Pos Batu Kukus – Pos Pondok Pemandangan (2.100 MDPL)

Dari jalan setapak berbatu, sekarang mulai berubah menjadi jalan tanah yang agak licin karena guyuran hujan dengan sesekali diberikan jalan bonus (jalan agak landai dan turunan), hal ini mempercepat kami untuk sampai di Pondok Pemandangan yang tidak jauh dari sini adalah air panas.

Pos Pondok Pemandangan – Air Panas (2.150 MDPL)

16863722030_8f8cd181f5[1]

C360_2015-06-03-21-21-20-962[1]

Saat melewati sumber air panas kami sangat berhati-hati dan waspada, karena medan yang sempit juga licin dan hanya dengan bantuan seutas tali kami sudah bersebelahan langsung dengan bibir jurang. Jika sampai terpeleset maka akan fatal akibatnya, karena suhu airnya bisa mencapai 70 C. Bahkan bebatuan di air panas akan terasa panas jika disentuh, namun banyak pendaki yang berhenti untuk menghangatkan tubuh. Selain itu sebaiknya menggunakan sepatu karena panasnya air sangat terasa jika memakai sendal.

Air Panas – Kandang Batu (2.220 MDPL)

Setelah menghangatkan diri sejenak di air panas, kami melanjutkan perjalanan menuju Pos Kandang Batu sekitar 1 jam. Tempat ini juga biasa digunakan untuk membangun tenda jika fisik dan cuaca tidak memungkinakan. Namun karena dirasa aman, kami tetap melanjutkan perjalanan, dengan jas hujan yang terus melekat di badan.

Kandang Batu – Kandang Badak (2.400 MDPL)

Saat mendekati pos Kandang Badak kami mendengar suara deru air terjun yang cukup menarik di bawah jalur pendakian, mereka biasa menyebut air terjun kecil ini dengan Panca Weuleuh. Tetapi hari sudah mulai gelap saat itu, sehingga kami terus melanjutkan perjalanan dibantu penerangan seadanya dengan head-lamp dan senter.

16430932353_28f6065e63[1]

17025083446_f3231c1c33[1]

Hari telah malam dan sudah sangat gelap, kami memutuskan untuk membangun tenda beristirahat di Kandang Badak yang merupakan tempat camping favorit karena tersedia sumber air bersih. Setelah mendirikan tenda, mengganti pakaian basah karena hujan, memasak dan makan mala, kami segera tidur menyiapkan amunisi tenaga untuk summit attack kami keesokan hari. Terlebih cuaca yang sangat tidak mendukung ini membuat fisik dan mental kami cukup kelelahan. Untungnya latihan fisik minimal seminggu sebelum hari H sudha dilakukan, sehingga membuat kami beradaptasi dengan kondisi ini.

Kandang Badak – Puncak Gede (2.958 MDPL)

Keesokan harinya, setelah sarapan dan mengemas perlengkapan (makanan, minuman, jaket, jas hujan, kompor+gas, air minum, kopi-teh, plastik untuk sampah dll) yang diperlukan ke dalam daypack, kami membungkus tas, sleepingbag dan perlengkapan lainnya yang kami tinggal di dalam tenda ke dalam plastik atau polybag, karena saat hujan deras, air akan tetap bisa tembus ke dalam tenda dari setiap sisinya atas maupun bawah. Dengan bismillah kami melanjutkan perjalanan menuju puncak.

16863716920_f030bd87d9[1]

17051090095_64c8c21d38[1]

Tidak jauh dari situ, kami mendapati persimpangan menuju Puncak Gede dan Puncak Pangrango, Karena dari awal tujuan kami adalah ke Gede, kami mengambil jalur kiri melewati tanjakan rante. Trek menuju puncak Gede didominasi nenatuan dan pohon, sehingga perlu kehati-hatian saat melaluinya terlebih saat hujan yang membuatnya menjadi lebih licin. Sehingga kami tidak memaksakan diri melewati “tanjakan setan” saat naik.

16431101263_234a77f718_(1)[1]

Hujan semakin lebat, dan rasanya tidak memungkinkan untuk melanjutkan penjalanan saat itu juga. Kami memutuskan untuk beristirahat membuat bivak (tempat perlindungan) dari salah satu ponco kami dan memasak air panas serta makanan, untuk menjaga dari kedinginan yang sangat kala itu. Lagi-lagi untuk menghindari hypo.

16843831457_330ee01362_z[1]

Setelah 2 jam perjalanan, tibalah kami dipuncak gunung Gede. Subhanallah! Walaupun hujan lebat dan kabut tebal menutupi hampir semua pemandangan yang ada, tidak menyurutkan kami untuk bersyukur telah diizikan untuk menggapainya. Lagi, saya kembali terharu tiap kali mencapai puncak gunung dimanapun itu. Karena mengingatkan akan diri yang sangat kecil dan tidak ada apa-apanya dibandingkan Sang Maha Pecipta.

17025246616_6e83d3dd48[1]

C360_2015-06-03-19-38-46-024[1]

17050247371_22bc8d19d2_c

Saat asyik berfoto, tidak lama berselang hujan kembali turun dengan derasnya, yang memaksa kami untuk kembali membuat bivak dan menghangatkan badan dengan membuat air panas dan makanan untuk tetap menjaga kondisi tubuh. Dan, niat untuk menjajaki kaki ke Surya  Kencana-pun luput sudah karena cuaca yang sungguh tidak mendukung. Sedih, tetapi keselamatan tetap nomor satu. Hal ini mengingatkan saya kan pendakian gunung Rinjani yang tidak sampai ke Segara Anak karena faktor cuaca juga. Sehingga memang ada baiknya untuk memilih saat yang tepat untuk mendaki, hindari musim penghujan!

16863292318_476b2c259e_c

16843660397_ccfcaceacc[1]

16428812474_99e121265d[1]

Setelah cakrawala kembali terang dan hujanpun sudah mereda. Kami bergegas kembali menuju tenda kami di Kandang Badak. Turun tidak lebih mudah dari naik. Sehingga butuh fisik yang tetap kuat saat turun gunung. Saat inilah tracking Poll menjadi sangat berguna, untuk membantu kaki menahan badan saat turun.

Sempat terpisah dengan team lainnya, kebetulan dengan cuaca yang sudah tidak lagi hujan, kami berhasil turun melewati tanjakan setan dengan jarak yang lebih dekat dan cepat dibandingkan jalur lain saat naik.

Tibalah kami kembali di Kandang Badak. Segera packing dan melanjutkan perjalanan turun gunung melalui Cibodas (atau sekitar 10 km) kembali sebelum hari semakin gelap. Satu yang perlu diingat juga saat turun, jangan lupa membawa sampah-sampah kembali turun!

Jam menunjukkan pukul 23, tibalah kami di basecamp dengan selamat, sehat wal afiat tanpa kurang apapun, selain HP yang rusak karena terkena hujan walaupun sudah diupayakan dengan drybag. Kebayang kan hujannya seperti apa.

Tidak ada lain selain syukur yang kami panjatkan kepada Allah SWT yang telah membawa kami selamat sampai kembali. Terima kasih untuk izin dan doa orang tua dna keluarga. Terima kasih atas team yang sangat solid bahkan sudah seperti keluarga Kak edelweisbasah, Aldi M Perdana, dan Felicia Lasmana.  Karena tanpa support dan bantuan kalian belum tentu bisa kembali dengan selamat. Selamat untuk (the one and only) Aji Radhyantomo atas first summit attacknya, semoga tidak kapok dan mejadi awal untuk tracking bersama (cie first summit!).

IMG_5611[1]

Sama halnya seperti pendakian Gunung Rinjani lalu yang tidak sampai ke Segara Anak, kali ini ke Gunung Gede-pun masih menyisakan rasa ingin untuk ke Suryakencana, semoga diizinkan untuk kembali ke sana kembali. Aamiin.

Mau Mendaki? Lihat ini!

1 Jul

15

Mendaki gunung memang lagi happening saat ini. Baik laki-laki maupun wanita, atau tua-muda, bahkan ada beberapa yang membawa balita dengan tas carrier yang telah dirancang khusus untuk membawa balita ini.

Tetapi tahukah bahwa mendaki gunung adalah kegiatan petualangan dengan kategori aktivitas olahraga berat, yang artinya kegiatan alam terbuka dan liar ini membutuhkan kondisi fisik yang prima, karena gunung sesungguhnya bukanlah habitat manusia pada umumnya. Hal ini karena banyak bahaya yang bisa saja menghadang, seperti udara yang amat dingin, hembusan angin yang membekukan organ tubuh, curamnya pijakan yang memungkinkan siapa saja dapat tergelinicir jatuh, terlebih kondisi saat hujan (bukannya menakut-nakuti tetapi semua resiko terebut bisa menjadi 2x lipat bahayanya saat hujan, untuk fisik maupun mental).

Hal-hal tersebutlah yang tidak dapat diubah oleh manusia, hanya bisa kita antisipasi sebelum itu semua benar-benar terjadi, maka perlu memperhatikan beberapa dibawah ini:

  1. Mendaki sendiri, teman, atau masal (open trip)?

Sangat tidak direkomendasikan mendaki gunung seorang diri (kecuali didampingi dengan porter/guide jika ada, jika tidak pastikan satu atau dua orang dari kelompok pendakian ada yang paham betul tentang seluk beluk gunung tersebut, rute perjalanan dan lainnya.

Umumnya pendakian yang aman minimal adalah 3 orang dalam satu kelompok, yang nantinya jika ada 1 orang yang terkena musibah 1 orang lainnya bisa turun meminta bantuan dan sisanya menemaninya sampai ada bantuan datang.

  1. Kapan waktu pendakian?

Sangat disarankan untuk melakukan pendakian di musim kemarau, selain jauh lebih nyaman, pendakian saat musim hujan lebih besar resikonya. jalur tracking yang licin dan lebih parahnya lagi dalam kondisi hujan pakaian dan sepatu yang dikenakan basah,  juga saat malam persiapan tenda yang kita pasang harus yakin benar terbebas dari air hujan maupun rembesan bisa terkena hypothermia.

  1. Gunung apa?

Jika tujuan gunung yang ingin didaki sudah didapat, carilah informasi tentang gunung tersebut sebanyak-banyaknya melalui internet, dari jalur pendakian, pengalaman pendaki lain, serta momen atau spot indah yang ada digunung tersebut yang memungkinkan kita menikmati keindahan alamnya lebih lama dan mengabadikannya dalam foto.

  1. Kondisi fisik?

Persiapan fisik adalah yang paling utama, namun hal ini malah yang seringkali diabaikan oleh sebagian pendaki. Bahkan flu adalah salah satu penyakit yang sangat berbahaya jika dibawa mendaki, karena perbedaan tekanan di atas gunung menyebabkan THT (Telinga Hidung Tenggorokan) terganggu, sehingga untuk yang sedang sakit diseputaran daerah ini akan sangat berbahaya, salah-salah akan menyebabkan gangguan pendengaran dll.

Kondisi sakit juga kebanyakan hanya menyusahkan teman pendakian yang lain, yang harus rela menunggu di banyak perhentian jalannya. Padahal jika melakukan persiapan fisik sebelumnya akan terasa sangat menyenangkan mendaki gunung. Persiapan fisik dilakukan 2 bulan sebelum pendakian dengan berolahraga, misalnya lari rutin minimal seminggu 2 kali.

  1. Pemimpin Perjalanan?

Tunjuklah seorang pemimpin yang paling berpengalaman dan bijak dalam membuat keputusan. Sebuah perjalanan yang dipimpin oleh seseorang akan jauh lebih teratur, aman, dan nyaman.

  1. List barang bawaan?

Berikut adalah list barang bawaan wajib dan pastikan tidak ada yang tertinggal jika ingin pendakian anda aman dan nyaman.

Perlengkapan pribadi:

  • Tas carrier
  • Sepatu gunung
  • Jaket gunung dan baju
  • Celana gunung (bukan jeans; karena akan sangat berat ketika sudah menyerap keringat atau dalam kondisi basah terkena hujan)
  • Senter atau head lamp
  • Sarung tangan dan Kaos kaki
  • Jas hujan atau ponco
  • Matras
  • Sleeping bag
  • Sunblock, lipbalm (tidak wajib)
  • Tracking Pole
  • Obat-obatan : Obat diare, paracetamol, betadine atau obat merah, obat magg, tolakangin dll
  • Makanan, camilan perjalanan (coklat, gula merah, atau biskuit) dan minuman

Perlengkapan Kelompok:

  • Tenda
  • Trash bag
  • Nasting dan kompor + gas

[Event] : Rahasia “Tiga” dalam Konser Traya!

8 May
20150503_233345

TRAYA

 

Jam dinding menunjukkan pukul 17.00 WIB sudah sangat gelap gulita. Saat itu cuaca sedang tidak bersahabat, hujan yang sangat deras mengguyur seluruh kota, pun petir yang berdentum keras memekakkan telinga terlihat sesekali menyerawak di langit yang kelabu.

Stop! Kayak lagi cerita horror saja.

Sebenarnya ada benarnya, sudah yang namanya Hari Minggu, hujan sore-sore, dingin, lapar (lho curhat) seperti hari itu, kalau mau ikuti suasana rasanya hari itu hanya ingin berbaring sepanjang hari. Tetapi kali ini lain ceritanya.

Minggu, 3 Mei 201, bertempat di Plenary Hall Jakarta Convention Centre.

Dengan menggunakan sepeda motor kesayangan lengkap dengan jas hujan, helm, dan sandal jepit andalan, saya bergegas menuju lokasi Konser Traya.

Traya sendiri berasal dari Bahasa Jawa Kuno artinya tiga. Tetapi bukan berarti saya anak ke 3 dari 3 bersaudara juga yang menyebabkan saya berkesempatan mendapatkan undangan kala itu ya, tetapi karena konser itu bertepatan dengan Launching PAC Life No. 40 Lipstick (tepat di usia KD ke 40 tahun) – limited edition dengan warna pilihan langsung KD dari warna PAC lipstik favoritnya, Alluring Red, yang membawa kesan dewasa, matang, dan cantik. Saya mencobanya dan sst.. it’s my secret today.

Screenshot_2015-05-08-18-02-30

from: @hanny_only

20150503_181353-1[1] Screenshot_2015-05-08-14-02-16

Dan PAC Martha Tilaar ini juga salah satu sponsor dari konser ini. What a proud!

Jam menunjukkan pukul 20:00 WIB kami bergegas masuk. Terbelalak mata saya, karena disajikan tatanan panggung yang begitu “wah” dan tidak biasa. Betapa tidak, dari posisi pemain alat music yang dibuat tangga namun miring, in-out performers yang muncul dari bawah panggung, layar super besar dan asimetris di belakang panggung, posisi paduan suara seperti tertempel di dinding, sampai panggung setinggi 8 meter yang dijadikan sebagai tempat bernyanyi KD, belum mulai konser namun sudah dibuat terkesan.

30 menit setelah pukul delapan malam, panggung Traya memicu perhatian saat Erwin Gutawa Orkestra memainkan penggalan beberapa lagu secara medley, dari Menghitung Hari, Rembulan, dan Cinta Sejati.

20150503_213012

KD dan penari keluar dari bawah panggung

 

 

Tidak lama berselang, munculah KD dan sederet penarinya dengan membawakan lagu Rembulan dengan mengenakan balutan baju berwarna hitam dan berumbai berhasil menggebrak antusiasme para penontonnya, termasuk saya.

 

20150503_212535

Erwin Gutawa keluar dari bawah panggung

 

20150503_214251

20150503_213524

Terlebih saat tiba-tiba kami mendapati KD sudah berada dipanggung setinggi 8 meter tersebut dan tetap prima membawakan lagunya.

20150503_215141

KD bernyanyi di atas panggung 8 meter

20150503_215203

Sederet lagu ia nyanyikan, KD juga menyanyikan secara khusus lagu tradisional, dari Bungong Jeumpa, Tudung Periuk, tembang Jawa, dan Bolelebo bersama tiga penyanyi cilik yang kualitas suaranya sudah bukan cilik lagi, merinding dibuatnya.

20150503_221447

Bernyanyi lagu tradisional bersama tiga anak kecil berbakat

 

Kejutan bertubi-tubi diberikan buat para penonton, kami tiba-tiba dikejutkan dengan penampilan para sahabat KD di atas panggung, dari 3 Diva (Ruth Sahanaya dan Titi DJ), Bob Tutupoli, Ari Lasso, Cakra Khan dan Trio Tenor Libero ikut memeriahkan suasana konser malam itu. Baju kedua KD sempurna, gaun indah, berwarna hitam dengan aksens seleting bertaburan di bagian atasnya, memberi kesan anggun tetapi rockstar saat itu.

20150503_224549

Titi DJ

 

20150503_224614

Ruth Sahanaya

 

20150503_224916

3 Diva

 

20150503_222337

 

20150503_225534

Bersama Bob Tutupoli

 

20150503_230029

Bersama Ari Lasso

 

20150503_230718

Bersama Trio Tenor Libero

 

 

Cakra Khan

 

Tidak sampai disitu saja, kami juga disajiikan suara khas KD dengan menyanyikan lagu-lagu milik Peterpan dengan gaya Samba.Tak Bisakah, Menghapus Jejakmu, Bintang di Surga dan Topeng pun tersimak seksi! Walaupun hati bertanya-tanya mengapa lagu Peterpan, tetapi penampilannya tetap memukau dengan anggunnya balutan baju ketiga dengan mayoritas kuning sebagai aksesnya. Terlebih saat KD turut andil memainkan alat musik ditengah-tengah penampilannya.

20150503_231108

20150503_231617

20150503_232146

 

Sisi melankolis saya kembali dibangkitkan sesaat setelah KD mulai menyanyikan lagu-lagunya dari Menghitung Hari, Jangan Pergi, Yang Kumau, I’m Sorry Goodbye, Ku Tak Sanggup, dan Cobalah untuk Setia. Walaupun beberapa dinyanyikan dengan sepotong-sepotong dan medley namun tetap antusiasme kami membuncah di JCC malam itu.

20150503_233048

20150503_233820

Gaun keempat sekaligus terakhir di penampilan Traya, yaitu gaun rajutan berwarna merah dengan lipstik senada berwarna merah khas KD PAC Life No. 40, dengan lagu Mencintaimu, menjadi penutup sempurna perjumpaan kami.

Traya memang berarti tiga, tiga karena konser ini merupakan persembahan kolaborasi karya seni bertiga Krisdayanti (KD), Erwin Gutawa, dan Jay Subiakto. Tiga karena merupakan konser ketiga mereka bersama (konser sebelumnya di tahun 2001 dan 2005). Dan Tiga karena diadakan pada tanggal 3. Tema yang diangkat serba tiga. Karena meriahnya sampai-sampai saya mau tiga kali tepuk pramuka! (anaknya pramuka banget gak tuh saya).

Kesan saya malam itu terangkum dalam satu, KD memang diva yang tidak tergantikan!

[Tutorial #37] The Bridesmaid Style!

26 Apr

Assalamualaikum..

Bulan sebelum dan sesudah Ramadhan (adapun di Bulan Rajab dan Syawal) umumnya sering digunakan untuk dilangsungkannya pernikahan. Terlebih Bulan Syawal yang dianggap sebagai bulan sial untuk menikah menurut kaum Jahiliyah, ternyata malah Rasulullah SAW melangsungkan pernikahan dengan Aisah r.a. pada Bulan Syawal. www. Islampos.com

Keyakinan bahwa pernikahan di bulan tersebut adalah kurang baik, membawa kesialan, keburukan atau sejenisnya maka termasuk kedalam perbuatan syirik yang dilarang Allah SWT karena menghilangkan ketawakalan kepada Allah SWT.

Kemudian, Imam Ahmad meriwayatkan dari Abdullah bin ‘Amru, dia berkata; Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Barangsiapa tidak melanjutkan aktifitas kebutuhannya karena thiyarah (tahayul, beranggapan sial karena melihat burung atau yang lainnya) maka sungguh ia telah berbuat syirik.” Para sahabat bertanya; “Lalu apakah yang dapat menghapuskannya wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “hendaklah ia berdo’a; ALLAHUMMA LAA KHAIRO ILLA KHAIRUKA WALAA THOIRO ILLA THOIRUKA WALAA ILAAHA GHOIRUKA (Ya Allah, tidak ada kebaikan kecuali kebaikan yang datang dari-Mu, dan tidak ada nasib baik kecuali nasib baik yang datang dari-Mu, dan tidak ada Ilah selain-Mu.” http://www.eramuslim.com

Jadi, untuk segala perencaan dengan niat yang baik, seperti menikah tidak perlu dikait-kaitkan dengan hari atau bulan baik atau tidak.

Seperti halnya saat ini, banyak sekali rekan, sahabat, dan tetangga yang melakukan pernikahan. Dan tradisi pendamping pengantin (bridesmaid) tidak ketinggalan untuk topik ini.

Saya akan mencoba model ini, model yang pernah saya gunakan saat acara Hijabspeak bekerjasama dengan Koran Sindo beberapa waktu lalu, dalam balutan gaun indah Ayu Dyah Andari berikut ini:

 

The bridesmaid style di acara hijabspeak dan koran sindo, dress by ayudyahandari

The bridesmaid style di acara hijabspeak dan koran sindo, dress by ayudyahandari

Saya dan Ayudyahandari

Saya dan Ayudyahandari

Maka, saya coba membuat tutorial hijab sebagai referensi untuk pada bridesmaid yang rekan/sahabat/keluarga nya yang akan menikah. Yuk disimak!

The Bridesmaid Style

Catatan:

1 dan 2 Gunakan inner ninja (wajib) dan letakkan jilbab panjang (ukuran pashmina) di atas kepala, dengan salah satu bagian lebih panjang dari yang lainnya.

3, 4, 5 dan 6 Ambil sisi kanan dan kiri (seperti dalam gambar, kemudian satukan di belakang bagian bawah leher, sematkan dengan peniti.

7, 8, dan 9 Pindahkan sisi yang panjang (sebelah kiri – pada gambar) ke sebalah kanan (satu sisi dengan yang kanan). Tarik ke atas kepala dengan cara melingkari sisi yang pendek (kanan) tersebut.

10, 11, dan 12 Setelah itu, lanjutkan dengan melingkari ke kepala, sematkan dengan peniti di sisi kirinya. Sedangkan sisanya dibawa ke ke depan (sehingga semua bagian ada di sisi kanan seperti gambar HASIL

Taraaa..

[Tutorial #36] Hijab For Traveling!

21 Feb

Assalamualaikum..

Udah lama nih gak update tutorial hijabnya. Kamu suka traveling? Yeay saya juga! Katanya orang yang suka traveling pasti bisa mengatasi stresnya sendiri. Mumpung lagi happening banget issue ini, saya mau berbagi tutorial untuk yang suka traveling.

Kalau kita sebut kata “traveler” baik itu ke pantai, ke gunung, wisata kota, kuniler dan lain sebagainya, pasti kesannya simple, waktu yang terbatas, sehingga dituntut untuk serba praktis dan gak perlu bolak-balik nge-benerin (maintenance). Gak ada waktu!

Ini dia satu style jilbab andalan yang sudah menemani saya dibeberapa perjalanan terakhir. Terlebih naik gunung!

Picture3

Kenapa? Selain praktis, cepat, gak butuh banyak peniti, tetapi tetap bisa tampil gaya saay berfoto (haha penting!). Style/tutorial inipun sangat cocok untuk yang berpipi tembem/chubby seperti saya. Dan satu yang menarik lagi, style ini menggunakan bahan paris segitiga yang adem dan mudah diatur. Siapa yang gak punya dan cinta jilbab paris?

Hijab for Traveler

Catatan:
1. Untuk traveler, menggunakan inner atau tidak pilihan. Model ini sangat aman jika tidak sempat menggunakan inner / daleman jilbab apapun.
2. Bentangkan jilbab paris menjadi segiempat.
3. Letakkan di kepala dan ambil kedua sisinya. Kanan lebih panjang dari sebelah kiri.
4 Dan 5. Ambil peniti, dan sematkan di bawah dagu (teknik ini yang membuat muka chubby terlihat lebih kecil).
6, 7, dan 8. Ambil sisa kerudung dari belakang ke depan, putarkan melingkari leher depan, dan bawa ke atas kepala (seperti pada gambar).
9, 10, dan 11. Sematkan dengan peniti. Akan lebih rapi lagi jika dipenitinya dari sisi dalam (seperti gambar 11).
Taraaaa!

Ketengan: Jilbab paris Rainbow in the Sky by cahyashawl

Heaven on Earth: Gunung Rinjani 3726 MDPL

8 Feb

Indonesia – Semua hal di sini punya nilai dan cerita, bahkan disisipi beberapa mitos di dalamnya. Seperti Gunung Rinjani dengan ketinggian 3.726 mdpl (yang mendominasi sebagian besar luas Pulau Lombok) merupakan gunung tertinggi ke dua di Indonesia (di luar pegunungan Irian Jaya), pun memiliki cerita di balik keindahannya.

20edit

Konon, di Lombok ada seorang putri raja yang cantik jelita yang bernama Dewi Anjani. Namun, di balik kecantikan Dewi Anjani tersimpan misteri, dimana akhirnya sang putri menjadi ratu penguasa makhluk gaib. Berawal dari kekecewaan atas tidak diizinkan oleh sang ayah untuk menikah dengan lelaki pujaan hati, maka Dewi Anjani mengasingkan diri dan bertapa, hingga akhirnya diangkat menjadi penguasa makhluk halus. Ini merupakan satu dari beberapa versi lainnya tentang kisah Dewi Anjani yang konon menguasai Gunung Rinjani.

Paras Sang Dewi Anjani sangat cantik, seperti saat melihat Gunung Rinjani yang digunakan sebagai istananya. Diameternya memiliki kaldera hingga 10 km dan kedalaman kawah -230 m. Begitulah Gunung Rinjani istana Dewi Anjani yang secantik pemiliknya dan menjadi pujaan para pencinta alam bebas untuk datang menjajakinya.

Berbeda dengan perjalanan pendakian saya yang lain. Buat saya Rinjani adalah impian, yang entah akan terwujud atau tidak dan bahkan sempat terkubur dalam. Maka, saat mendengar kabar dari teman akan ke sana, seolah keinginan itu kembali dan saat itu lah saya mulai mempersiapkannya.

Jika ditanya kenapa harus Rinjani si gunung berapi tertinggi kedua? Kenapa bukan Kerinci si nomor 1 tertinggi atau yang lainnya? Saya pun tidak yakin alasannya mengapa.

IMG_4354

Berdiri kokoh di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat, Gunung Rinjani menjadi salah satu kiblat kecantikan di Indonesia. Kecantikan rinjani tak hanya memikat petualang-petualang dari dalam negeri, tetapi banyak orang asing. Bahkan sesekali saya merasa terasing saat mendaki Rinjani, saking banyak orang luar negeri yang menjajakinya.

Walaupun saya sudah bayar include dalam trip, sebagai informasi bahwa per 1 April 2014, harga tiket masuk Gunung Rinjani ini naik. Bagi pengunjung domestik sebesar Rp. 25.000/hari (sebelumnya Rp. 2.500/hari), bagi pengunjung mancanegara dikenakan sebesar Rp. 250.000/hari (sebelumnya Rp.20.000/hari). Hal ini dikarenakan penetapan status Taman Nasional Gunung Rinjani masuk Zona I, yaitu yang paling dimanati.

Hari itu, 26 Desember 2014, menjadi langkah pertama dalam perjalanan ini. Saya dan dua sahabat saya (Fikha dan Yona) bersama sekitar 40 orang dari komunitas Pecel Lele (Pendaki Cepat Lelah Letih Letoy – sebutannya) lainnya ini, kami berangkat dengan bus dengan lama perjalanan 2 hari 2 malam. Berhari-hari duduk di bus dalam perjalanan darat lengkap dengan dua kali penyeberangan antar pulau (Pulau Jawa – Pulau Bali – Pulau Lombok). Kebayang dong pegal dan capeknya perjalanan, tetapi sungguh tidak menurunkan semangat dan keinginan yang sudah terlanjur membara di dalam diri (ngebet! Haha). Perjalanan tidak terlalu membosankan, karena kebetulan saya berangkat bersama team yang super seru!

 

2

Kericuhan di dalam bus

 

3

Kericuhan di atas kapal perjalanan berangkat

 

Ini adalah perjalanan pertama saya ke “Indonesia Bagian Tengah” (selain Kalimantan, karena Kalimantan itu lokasi kebun sawit tempat saya bekerja dan mengharuskan untuk beberapa kali bolak-balik ke sana), terlebih dengan jalur darat yang ternyata tidak “seseram” yang dibayangkan, sungguh kesempatan dan pengalaman yang luar biasa. Alhamdulillah.

28 Desember 2014 dini hari WITA (Waktu Indonesia bagian Tengah), kami tiba di Aikmel, Lombok Timur. Kami beristirahat sejenak dan melepaskan lelah dengan mandi (setelah dua hari libur mandi. Hehe) di Masjid Mujahid, Aikmel.

Pernah dengar soal kabar “jangan pernah ke Lombok sendirian, karena rentan dengan kriminalitas”. Semua sirna sesaat setelah tiba di sini. Kami betul-betul dianggap sebagai musafir, diberikan tempat istirahat, mandi sepuasnya, bahkan pada saat sholat tiba, beberapa jamaah wanita mengundang kami untuk beristirahat di rumah mereka.

49edit

Sedikit tentang Aikmel, sejak pagi hari kami mulai menjajaki pasar dan membeli beberapa keperluan selama pendakian. Berbeda dengan pasar di “Indonesia bagian Barat”, biasanya tinggal bilang “bu, beli sop-sop-an” dengan cekatan ibu penjual sayuran tersebut mencampur-aduk semua sayur dan bahan sop dalam satu plastik. Namun tidak di Aikmel, kita harus membelinya secara terpisah satu persatu sayuran dan kebutuhannya. Kebayang wajah bingung dan mondar-mandirnya kami saat itu.

IMG_4166edit

Satu dari Aikmel yang sangat saya kagumi, sejauh mata memandang saya hampir tidak melihat satupun wanita yang tidak berhijab, besar kecil tua muda baik di dalam pasar atau di jalanan kota, semua berhijab. Maka wajar jika mereka menyebut Lombok sebagai “Pulau Seribu Masjid”. Subhanallah.

Pukul 8.00 WITA, setelah sarapan (dua kali. Hehe), kami melanjutkan perjalanan ke Pos Sembalun menggunakan mobil bak dengan perjalanan yang gerimis berkelok-kelok, menanjak dan menurun yang semuanya sudah kami pasrahkan ke abang supirnya saja (hiks!). Tetapi ini sebanding dengan pemandangan sepanjang perjalanan yang sungguh luar biasa.

1

Setelah beberapa jam kemudian, tibalah di Pos Sembalun. Agak lama di sana, karena niat awal kami ingin menggunakan jasa porter (maklum usia. Hehe). Tetapi ternyata setelah ditunggu beberapa jam, porterpun tetap tidak tersedia. Karena hari itu sedang ada shooting katanya. Alhasil kami bawa tas carriel dan peralatan sendiri (kecuali beberapa logistik yang kami titipkan bersama porter kelompok).

IMG_4417

Di pos Sembalun menunggu kepastian

 

“yang.. hujan turun lagi, di bawah payung hitam ku berteduh”. (malah nyanyi!) Hahahaha

Tak sampai pakai payung hitam juga sih, tetapi cuaca di sana memang sedang tidak begitu bagus. Hujan terus-menerus mengguyur sepanjang perjalanan kami. Mengharuskan kami untuk selalu fokus dan waspada pada langkah kami.

Perjalananpun dimulai, dengan bismillah dan restu dari orang-orang tercinta di rumah, akhirnya kami mulai melakukan pendakian ini. Langkah-langkah awal dirasa lumayan berat, dengan beban yang berat (asal bukan beban hidup dan pikiran ya. Hehe), serta cuaca dingin dan hujan menjadi saat terpenting khususnya buat saya untuk beradaptasi.

Tiga setengah jam kemudian dengan nafas yang sudah Senin-Kamis (read: kelelahan) tibalah di pintu gerbang Taman Nasional Gunung Rinjani. Sekali lagi, baru sampai PINTU GERBANG! Maklum sudah lumayan lama juga tidak naik gunung.

IMG_4289

IMG_4371

Si buta dari Goa Hantu gini bentuknya

 

Setelah berfoto sejenak (penting!Hehe) kami melanjutkan perjalanan ke Pos I memalui jalur padang savana cantik! Buat saya, Rinjani bagaikan dunia lain, karena sejak awal pendakian kami sudah disuguhi padang savana yang eksotis, hutan tropis yang mempesona, serta perbukitan yang luar biasa indah. Ketinggian 1500 MDPL ini adalah awal pendakian, tetapi sudah sangat indah.

a

k

Dua jam kemudian kami tiba di pos 1, tetapi namanya savana, pohon sampai bisa dihitung pakai jari, tidak heran banyak yang menyebut Rinjani sebagai ‘gunung pantai’. Angin padang rumput yang bertiup membuat ilalang melambai seperti jutaan rajutan yang terangkai begitu indah. Eksotisme yang tidak terbantahkan walaupun hujan sesekali mengguyurnya. Hati-hati dengan langkah, bisa jadi kotoran sapi sudah menempel di sepatu kita.

Jam menunjukkan pukul 19:00 WITA, tetapi belum gelap di sana. Tidak sejauh pos sebelumnya, 1,5 jam kemudian kami tiba di POS II. Dan tepat gelap disertai hujan sudah mulai menggangu perjalanan kami. Dengan rencana awal untuk membangun tenda di POS III, akhirnya kami memutuskan untuk membangun tenda di sini. Setelah mendirikan tenda, mengganti dan menjemur pakaian yang basah kehujanan, memasak, dan makan malam bersama, kami memutuskan segera istirahat untuk persiapan tenaga esok hari. Untuk suhu di dalam tenda malam itu, jangan ditanya… dingin!

Pagi hari, saatnya pembagian tugas ada yang memasak, mencuci, membuang hajat (penting!hehe), mengambil air (karena di POS II ini lah ada sumber air yang banyak dan bersih), ada pula yang tinggal makan. Hehe. Setelah selesai makan dan packing tenda, kami segera melanjutkan perjalanan. Ops sial! Jas hujan saya hilang, mungkin terselip di peralatan rekan lainnya. Tetapi perjalanan tetap harus dilanjutkan, dengan berbekal jaket semi-waterproof yang saya kenakan, dengan bismillah kami melangkah.

i

Perjalanan POS III inilah ternyata perjalanan yang ternama dan sering disebut orang tentang tracking Rinjani, ya apalagi selain “Tujuh Bukit Penyesalan” yang mungkin artinya kita merasa terlambat untuk menyesal dengan perjalanan sejauh itu, perjalanan tiada akhir. Saya lebih senang menyebutnya “Tujuh Bukit PHP” berasa sudah sampai ternyata setiap bukit hanya menjanjikan harapan palsu ke puncak (fiuh!pengalaman banget di-PHP kayaknya.hehe). Tidak punya pilihan selain terus bergerak maju bukit demi bukit yang brutal. Tetapi alam sepanjang perjalanan tracking Rinjani tidak berhenti menghibur dan memesona, sensasinya mirip seperti sedang berjalan di film dunia khayal sekaligus action, sangat menantang!

IMG_4470

Berisitirahat sejenak pada salah satu dari 7 bukit penyesalan

 

4

Lihat! yang di belakang kami itu bukit pertama.

 

3

Cuaca yang tidak menentu saat pendakian

 

Selama perjalanan, saya lebih sering berpapasan dengan pendaki asing. Sempat berbincang dengan salah satu dari mereka dan berkata, “Indonesia is awesome”, saya tersenyum dan berkata, “Indeed, see you on top then!”. Ah! Bangga banget jadi orang Indonesia.

Saya, Fika, Yona, tiga wanita bukan pendaki betulan ini berjuta-juta kali istirahat. Di saat yang lain satu per satu melewati kami. Prinsip kami cuma satu “alon-alon asal klakon”. Tidak apa lambat asal selamat.

IMG_4295

Bahkan kami bertiga membuat permainan sendiri agar termotivasi untuk dapat melewati satu per satu bukit tersebut. “Ayo sampai ke atas bukit yang itu, nanti kita berbagi biskuit di atasnya!” atau “Ayo sampai ke bukit yang itu, nanti kita berbagi minum!” Alhamdulillah, satu per satu si Bukit Penyiksaan itu telah berhasil dilalui, bahkan diantara 7 bukit itu, ada yang sangat terjal. Untung dengkul masih belum keropos, biar agak lambat, tetapi sampai juga.

10

16:00 WITA, tibalah kami di Plawangan Sembalun yang merupakan pos terakhir sebelum puncak, dengan ketinggian 2639 mdpl (dari total Puncak Rinjani 3726 mdpl, berarti masih lumayan jauh!), tetapi sudah berhasil membuat kami menangis haru. Bayangkan sana, kami sudah sejajar dengan awan, angin membisik dengan indah, mata tersaji Maha Karya Tuhan yang belum tentu dapat dilihat semua orang secara langsung. Terlebih kami bertiga tidak menyangka bahwa kami tante-tante lelet inilah wanita pertama dari team kami yang tiba di Plawangan Sembalun tersebut. Selamat saja alhamdulillah (ngetiknya sambil nangis.hehe).

IMG_4382

IMG_4433

IMG_4486

Kami mulai mempersiapkan kembali untuk berkemah di sana, target kami besok dini hari jam 2:00 WITA harus segera berangkat dan memetik impian kami, ke Puncak Rinjani!

26

2.00 WITA, kami segera bersiap dan membangunkan beberapa orang team yang akan bergabung untuk ke puncak pagi itu. Bukan soal ganjen, tetapi bukan hanya jaket tebal, peralatan lainnya seperti kacamata, masker penutup wajah (buff) dan lip gloss agar digunakan, untuk menghindari hempasan angin dingin, pasir dan debu, juga sengatan sinar matahari langsung.

13

Perjalanan sekitar 5 jam ini terasa lebih berat dari yang sebelumnya. Hal ini karena medan pendakian menuju puncak cukup melelahkan, padang pasir, kawah, dan jurang yang seolah tanpa dasar, akan memaksa berpacunya adrenalin selama pendakian. Untung pendakian dimulai saat masih gelap, jika tidak pasti mental jatuh duluan saat melihat jalurnya. Terlebih cuaca sedang tidak menentu, tiba-tiba panas, tiba-tiba hujan, yang kita semua tahu bahwa itu adalah pertanda akan datangnya badai. (hiks).

IMG_4396

“Seorang pendaki sejatinya tidak sedang menaklukan pucuk-pucuk tertinggi yang menusuk ke langit, melainkan ia sedang menaklukan pucuk-pucuk tertinggi dirinya sendiri sebagai manusia” – unknown

Sejujurnya, saat tanjakan pasir terakhir saya sudah tidak kuat sama sekali. Tetapi banyak penyemangat dan rekan yang membantu sehingga memberi kekuatan kepada saya untuk tetap melangkah.

14

15

Rinjani mengajarkan saya untuk tidak menyerah. Walaupun terkadang kaki terjebak di pasir, yang hanya perlu saya lakukan hanyalah melangkah dan terus berdoa.

Kemudian, tibalah saya di Puncak Rinjani..

IMG_4362

17 IMG_4250

Ya, tentu tangisan haru kami kembali membanjir (hehe). Dari puncak 3726 meter di atas permukaan laut, saya bisa melihat semua sisi pulau lombok, bahkan pulau bali dan sumba. Bahkan di kejauhan terlihat Gunung Agung Bali berdiri dengan angkuh.

Masih tidak menyangka, melihat kaldera rinjani sebesar itu, merasa bagikan buih di lautan dan membuat teringat bahwa saya sangat kecil di hadapan-Nya.

21edit

Setelah berfoto, kami harus segera turun karena tanda-tanda badai akan segera turun. Saat melihat jalur turun, saya sedikit merinding. Dan benar saja, di perjalanan turun, kami terjebak badai dan hujan yang amat derasnya. Pandangan kami tidak lebih dari 1 meter ke depan. Kanan kiri depan belakang kami telah rata tertutup kabut.

IMG_4449

Sempet-sempetnya di tengah badai

Sampai pada satu jalan lurus tepat kanan dan kiri jurang, kami melihat angin badai yang memutar-mutar dengan “cantiknya”. Bahkan saat itu saya bergumam dalam hati sebelum melangkahinya “Tuhan jika ini adalah akhir hidupku, mohon ampuni segala dosaku dan bahagiakanlah keluarga dan orang-orang tersayang”. Dengan bismillah saya melangkah dan berhasil melewatinya. Saat itu pula saya sadar, jaket saya anti anti, tetapi bukan anti badai. Segala camera dan gadget sudah saya pasrahkan jikalau memang harus rusak karena derasnya air hujan badai itu.

Alhamdulillah. Setelah beberapa jam, kami selamat dan berhasil melewati itu semua hingga tiba di camp Plawangan Sembalun kembali pada sore harinya.

Perut baru terasa lapar terlebih dengan kondisi pakaian yang basah kuyup. Kami mulai memasak hingga malam hari, makan, dan segera tidur untuk menyiapkan tenaga esok hari untuk turun.

Keesokan harinya, ini adalah titik dimana saya sebenarnya sangat sulit untuk memutuskan. Ingin hati rasanya melanjutkan ke Segara Anakan, tetapi apa daya. Karena semua pakaian sudah basah, logistik sudah habis, dan fisik setelah melawan badai di puncak kemarin harinya. Beberapa dari kami, termasuk saya, memutuskan untuk turun melewati jalur Sembalun kembali. Ah! Iri rasanya dengan rekan lainnya yang masih kuat turun melalui Senaru dan menyempatkan diri untuk membangun tenda kembali di Segara Anak.

IMG_4427

Sedikit tentang Segara Anak. Ialah danau kawah dengan kedalaman sekitar 230 m. Air yang mengalir dari danau ini membentuk air terjun yang sangat indah, mengalir melewati jurang yang curam. Danau Segara Anak ini banyak terdapat ikan mas dan mujair, sehingga sering digunakan untuk memancing. Dengan warna airnya yang membiru, danau ini bagaikan anak lautan, karena itulah disebut “Segara Anak”.

Katanya, danau segara anak menyimpan berbagai misteri dan dan kekuatan gaib, itulah sebabnya manusia merasa betah tinggal lama di tempat ini. Keyakinan masyarakat apabila Danau Segara Anak terlihat luas menandakan bahwa umur orang orang yang melihat itu masih panjang. Sebaliknya jika tampak sempit maka menandakan umur si penglihat pendek, untuk itu harus melakukan bersih diri artinya harus berjiwa tenang, bangkitkan semangat hidup, pandang kembali danau sepuas-puasnya. Wallahualam.

Selain Segara Anak, jalur pulang Senaru yang katanya lebih terjal dari jaur Sembalun ini juga terdapat air terjun kokok putih dan juga air panas yang sering dikunjungi orang, bahkan katanya bisa juga untuk pengobatan.

Cerita tinggallah cerita, kenyataannya saya harus menelan kekalahan atas fisik yang tidak lagi kuat melaluinya.

Tepat pukul 00:00 WITA tanggal 1 Bulan Januari 2015 saya dan team menginjakkan kaki kembali di Pos Sembalun. Saya merayakan pergantian tahun, dengan kesederhanaan segelas teh hangat, semangkuk mie rebus, dan canda tawa lepas rekan seperjuangan kala itu. Alhamdulillah.

Seminggu di Lombok sungguh tidak terasa. Setelah team yang pulang melalui Senaru tiba, kami langsung pulang menuju Jakarta. Kembali menempuh perjalanan berhari-hari di bus dan terombang-ambing di kapal laut saat menyebrang.

4

Kericuhan di atas kapal perjalanan pulang

 

9

Mba Aas, pengamen dangdut cantik khas Pantura sempat mengiringi perjalanan pulang kami

 

Detil perjalanan kami – An awesome video captured by my friend, Alif Raharjo

 

 

Terima kasih Allah atas kesempatan yang diberikan. Terima kasih atas semua keindahan dan keajaiban Rinjani yang telah memberikan keyakinan bahwa mimpi memang dapat diraih jika tidak pernah menyerah. Terima kasih atas teman-teman atas bantuan dan kehangatannya. Saya akan menjemput Segara Anak suatu saat nanti, In Sha Allah. Sampai bertemu lagi!

 

 

 

 

Source foto:

1. Koleksi Pribadi
2. Alif Raharjo
3. Hasan Cullen
4. Yona Intan Zariska
5. Tante Jessy

 

 

Event: Gerai Baru, Semangat Baru, Martha Tilaar Shop!

20 Nov

Akhir pekan kala itu, sama halnya seperti yang dilakukan sebagian warga Jakarta lainnya, saya mengunjungi Grand Indonesia Shopping Mall untuk nonton bioskop dan sekedar meilhat-lihat.

Melihat-lihat gerai di Mall buat saya menjadi trik sendiri untuk  refresh pikiran setelah lima hari penat bekerja. Kebetulan saat itu saya dapat info bahwa Martha Tilaar Shop di Grand Indonesia memperbaharui konsep ruangan mereka yang tentu sangat berbeda dengan tahun 2009, yaitu tahun dimana pertama gerai ini di buka di sana.

Hal yang membuat saya selalu tertarik dengan gerai Martha Tilaar adalah karena selalu menyelipkan kesan tradisional ke-Indonesia-an yang membuatnya selalu berbeda dengan gerai lain. Wajar saja, Martha tilaar adalah salah satu produk dan yang terbesar asli Indonesia.

Penataan Rapi dan Eye-Catching

Penataan Rapi dan Eye-Catching

Tiba lah saya di gerai barunya dan betul saja, gaya industrial dan rustic yang sedang populer  yang biasanya digunakan untuk restoran atau hotel, diterapkan di gerai ini. Sang maestro, Shanti Alaysius, seorang desainer interior asli Indonesia yang konon telah mendesain salah satu Hotel Hilton di Amerika ini memaduan antara desain modern dengan warna mayoritas putih yang menggambarkan kejujuran dan keberanian wanita Indonesia.

Lampu hias dengan kesan mewah

Lampu hias dengan kesan mewah

Gerai ini juga dilengkapi sentuhan tradisional dengan bahan dasar kayu, tembaga, anyaman, dan pencahayaan yang hangat berhasil membuat siapapun merasa nyaman berada di dalamnya. Sisi kanan gerai ini menjual kosmetik Caring Colours, PAC, Sariayu, dan Rudy Hadisuwarno. Sedangkan di sisi kirinya menjual skin care dari Biokos dan Dewi Sri Spa.

Kebayanglah kenapa Martha Tilaar Shop sudah punya 26 gerai yang bahkan dua diantaranya ada di Singapura.

Masuk lebih dalam lagi, saya disuguhkan gambar pohon Martha Tilaar pada interior dalam yang eye catching banget bentuk dan warnanya, perpaduan biru, hijau, serta abu-abu. Katanya itu menyimbolkan pohon kehidupan yang senantiasa memberi keselarasan dan mengayomi. Wajar saja, seluruh penjaga gerainya sangat ramah dan dengan sabar menjawab pertayaan saya yang nyeleneh dang a ada hubungannya sama sekali dengan urusan jual-beli.

Lukisan pohon cantik di salah satu dinding gerai

Lukisan pohon cantik di salah satu dinding gerai

Tepat di sebelah gambar pohon tadi, adalah ruangan reflexiology. Kalau tidak sedang buru-buru karena sudah terlalu malam, saya pasti udah icip-icip pijat refleksi untuk meregangkan otot setelah berjam-jam berkeliling hari itu. Lebih istimewanya lagi ada juga Spa Treatment, massage, facial, makeover, beauty class setiap hari, dan bahkan bisa membuat lipstik dengan warna sesuai selera sendiri. Ah nyesel deh ke sananya terlalu larut, jadi gak sempat main-main.

IMG_2473[1]

The last not for the least, dengan adanya gerai produk asli Indonesia berstandar internasional ini menjadi bukti nyata bahwa dengan berkarya di negeri sendiripun bisa berdiri menandingi produk internasional.

Mba kasir yang ramah

Mba kasir yang ramah

Seperti yang dilangsir dari kutipan Ibu Martha Tilaar “Jadilah tuan dan nyonya di negeri sendiri”.

 

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 6,637 other followers