[Event] : Rahasia “Tiga” dalam Konser Traya!

8 May
20150503_233345

TRAYA

 

Jam dinding menunjukkan pukul 17.00 WIB sudah sangat gelap gulita. Saat itu cuaca sedang tidak bersahabat, hujan yang sangat deras mengguyur seluruh kota, pun petir yang berdentum keras memekakkan telinga terlihat sesekali menyerawak di langit yang kelabu.

Stop! Kayak lagi cerita horror saja.

Sebenarnya ada benarnya, sudah yang namanya Hari Minggu, hujan sore-sore, dingin, lapar (lho curhat) seperti hari itu, kalau mau ikuti suasana rasanya hari itu hanya ingin berbaring sepanjang hari. Tetapi kali ini lain ceritanya.

Minggu, 3 Mei 201, bertempat di Plenary Hall Jakarta Convention Centre.

Dengan menggunakan sepeda motor kesayangan lengkap dengan jas hujan, helm, dan sandal jepit andalan, saya bergegas menuju lokasi Konser Traya.

Traya sendiri berasal dari Bahasa Jawa Kuno artinya tiga. Tetapi bukan berarti saya anak ke 3 dari 3 bersaudara juga yang menyebabkan saya berkesempatan mendapatkan undangan kala itu ya, tetapi karena konser itu bertepatan dengan Launching PAC Life No. 40 Lipstick (tepat di usia KD ke 40 tahun) – limited edition dengan warna pilihan langsung KD dari warna PAC lipstik favoritnya, Alluring Red, yang membawa kesan dewasa, matang, dan cantik. Saya mencobanya dan sst.. it’s my secret today.

Screenshot_2015-05-08-18-02-30

from: @hanny_only

20150503_181353-1[1] Screenshot_2015-05-08-14-02-16

Dan PAC Martha Tilaar ini juga salah satu sponsor dari konser ini. What a proud!

Jam menunjukkan pukul 20:00 WIB kami bergegas masuk. Terbelalak mata saya, karena disajikan tatanan panggung yang begitu “wah” dan tidak biasa. Betapa tidak, dari posisi pemain alat music yang dibuat tangga namun miring, in-out performers yang muncul dari bawah panggung, layar super besar dan asimetris di belakang panggung, posisi paduan suara seperti tertempel di dinding, sampai panggung setinggi 8 meter yang dijadikan sebagai tempat bernyanyi KD, belum mulai konser namun sudah dibuat terkesan.

30 menit setelah pukul delapan malam, panggung Traya memicu perhatian saat Erwin Gutawa Orkestra memainkan penggalan beberapa lagu secara medley, dari Menghitung Hari, Rembulan, dan Cinta Sejati.

20150503_213012

KD dan penari keluar dari bawah panggung

 

 

Tidak lama berselang, munculah KD dan sederet penarinya dengan membawakan lagu Rembulan dengan mengenakan balutan baju berwarna hitam dan berumbai berhasil menggebrak antusiasme para penontonnya, termasuk saya.

 

20150503_212535

Erwin Gutawa keluar dari bawah panggung

 

20150503_214251

20150503_213524

Terlebih saat tiba-tiba kami mendapati KD sudah berada dipanggung setinggi 8 meter tersebut dan tetap prima membawakan lagunya.

20150503_215141

KD bernyanyi di atas panggung 8 meter

20150503_215203

Sederet lagu ia nyanyikan, KD juga menyanyikan secara khusus lagu tradisional, dari Bungong Jeumpa, Tudung Periuk, tembang Jawa, dan Bolelebo bersama tiga penyanyi cilik yang kualitas suaranya sudah bukan cilik lagi, merinding dibuatnya.

20150503_221447

Bernyanyi lagu tradisional bersama tiga anak kecil berbakat

 

Kejutan bertubi-tubi diberikan buat para penonton, kami tiba-tiba dikejutkan dengan penampilan para sahabat KD di atas panggung, dari 3 Diva (Ruth Sahanaya dan Titi DJ), Bob Tutupoli, Ari Lasso, Cakra Khan dan Trio Tenor Libero ikut memeriahkan suasana konser malam itu. Baju kedua KD sempurna, gaun indah, berwarna hitam dengan aksens seleting bertaburan di bagian atasnya, memberi kesan anggun tetapi rockstar saat itu.

20150503_224549

Titi DJ

 

20150503_224614

Ruth Sahanaya

 

20150503_224916

3 Diva

 

20150503_222337

 

20150503_225534

Bersama Bob Tutupoli

 

20150503_230029

Bersama Ari Lasso

 

20150503_230718

Bersama Trio Tenor Libero

 

 

Cakra Khan

 

Tidak sampai disitu saja, kami juga disajiikan suara khas KD dengan menyanyikan lagu-lagu milik Peterpan dengan gaya Samba.Tak Bisakah, Menghapus Jejakmu, Bintang di Surga dan Topeng pun tersimak seksi! Walaupun hati bertanya-tanya mengapa lagu Peterpan, tetapi penampilannya tetap memukau dengan anggunnya balutan baju ketiga dengan mayoritas kuning sebagai aksesnya. Terlebih saat KD turut andil memainkan alat musik ditengah-tengah penampilannya.

20150503_231108

20150503_231617

20150503_232146

 

Sisi melankolis saya kembali dibangkitkan sesaat setelah KD mulai menyanyikan lagu-lagunya dari Menghitung Hari, Jangan Pergi, Yang Kumau, I’m Sorry Goodbye, Ku Tak Sanggup, dan Cobalah untuk Setia. Walaupun beberapa dinyanyikan dengan sepotong-sepotong dan medley namun tetap antusiasme kami membuncah di JCC malam itu.

20150503_233048

20150503_233820

Gaun keempat sekaligus terakhir di penampilan Traya, yaitu gaun rajutan berwarna merah dengan lipstik senada berwarna merah khas KD PAC Life No. 40, dengan lagu Mencintaimu, menjadi penutup sempurna perjumpaan kami.

Traya memang berarti tiga, tiga karena konser ini merupakan persembahan kolaborasi karya seni bertiga Krisdayanti (KD), Erwin Gutawa, dan Jay Subiakto. Tiga karena merupakan konser ketiga mereka bersama (konser sebelumnya di tahun 2001 dan 2005). Dan Tiga karena diadakan pada tanggal 3. Tema yang diangkat serba tiga. Karena meriahnya sampai-sampai saya mau tiga kali tepuk pramuka! (anaknya pramuka banget gak tuh saya).

Kesan saya malam itu terangkum dalam satu, KD memang diva yang tidak tergantikan!

[Tutorial #37] The Bridesmaid Style!

26 Apr

Assalamualaikum..

Bulan sebelum dan sesudah Ramadhan (adapun di Bulan Rajab dan Syawal) umumnya sering digunakan untuk dilangsungkannya pernikahan. Terlebih Bulan Syawal yang dianggap sebagai bulan sial untuk menikah menurut kaum Jahiliyah, ternyata malah Rasulullah SAW melangsungkan pernikahan dengan Aisah r.a. pada Bulan Syawal. www. Islampos.com

Keyakinan bahwa pernikahan di bulan tersebut adalah kurang baik, membawa kesialan, keburukan atau sejenisnya maka termasuk kedalam perbuatan syirik yang dilarang Allah SWT karena menghilangkan ketawakalan kepada Allah SWT.

Kemudian, Imam Ahmad meriwayatkan dari Abdullah bin ‘Amru, dia berkata; Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Barangsiapa tidak melanjutkan aktifitas kebutuhannya karena thiyarah (tahayul, beranggapan sial karena melihat burung atau yang lainnya) maka sungguh ia telah berbuat syirik.” Para sahabat bertanya; “Lalu apakah yang dapat menghapuskannya wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “hendaklah ia berdo’a; ALLAHUMMA LAA KHAIRO ILLA KHAIRUKA WALAA THOIRO ILLA THOIRUKA WALAA ILAAHA GHOIRUKA (Ya Allah, tidak ada kebaikan kecuali kebaikan yang datang dari-Mu, dan tidak ada nasib baik kecuali nasib baik yang datang dari-Mu, dan tidak ada Ilah selain-Mu.” http://www.eramuslim.com

Jadi, untuk segala perencaan dengan niat yang baik, seperti menikah tidak perlu dikait-kaitkan dengan hari atau bulan baik atau tidak.

Seperti halnya saat ini, banyak sekali rekan, sahabat, dan tetangga yang melakukan pernikahan. Dan tradisi pendamping pengantin (bridesmaid) tidak ketinggalan untuk topik ini.

Saya akan mencoba model ini, model yang pernah saya gunakan saat acara Hijabspeak bekerjasama dengan Koran Sindo beberapa waktu lalu, dalam balutan gaun indah Ayu Dyah Andari berikut ini:

 

The bridesmaid style di acara hijabspeak dan koran sindo, dress by ayudyahandari

The bridesmaid style di acara hijabspeak dan koran sindo, dress by ayudyahandari

Saya dan Ayudyahandari

Saya dan Ayudyahandari

Maka, saya coba membuat tutorial hijab sebagai referensi untuk pada bridesmaid yang rekan/sahabat/keluarga nya yang akan menikah. Yuk disimak!

The Bridesmaid Style

Catatan:

1 dan 2 Gunakan inner ninja (wajib) dan letakkan jilbab panjang (ukuran pashmina) di atas kepala, dengan salah satu bagian lebih panjang dari yang lainnya.

3, 4, 5 dan 6 Ambil sisi kanan dan kiri (seperti dalam gambar, kemudian satukan di belakang bagian bawah leher, sematkan dengan peniti.

7, 8, dan 9 Pindahkan sisi yang panjang (sebelah kiri – pada gambar) ke sebalah kanan (satu sisi dengan yang kanan). Tarik ke atas kepala dengan cara melingkari sisi yang pendek (kanan) tersebut.

10, 11, dan 12 Setelah itu, lanjutkan dengan melingkari ke kepala, sematkan dengan peniti di sisi kirinya. Sedangkan sisanya dibawa ke ke depan (sehingga semua bagian ada di sisi kanan seperti gambar HASIL

Taraaa..

[Tutorial #36] Hijab For Traveling!

21 Feb

Assalamualaikum..

Udah lama nih gak update tutorial hijabnya. Kamu suka traveling? Yeay saya juga! Katanya orang yang suka traveling pasti bisa mengatasi stresnya sendiri. Mumpung lagi happening banget issue ini, saya mau berbagi tutorial untuk yang suka traveling.

Kalau kita sebut kata “traveler” baik itu ke pantai, ke gunung, wisata kota, kuniler dan lain sebagainya, pasti kesannya simple, waktu yang terbatas, sehingga dituntut untuk serba praktis dan gak perlu bolak-balik nge-benerin (maintenance). Gak ada waktu!

Ini dia satu style jilbab andalan yang sudah menemani saya dibeberapa perjalanan terakhir. Terlebih naik gunung!

Picture3

Kenapa? Selain praktis, cepat, gak butuh banyak peniti, tetapi tetap bisa tampil gaya saay berfoto (haha penting!). Style/tutorial inipun sangat cocok untuk yang berpipi tembem/chubby seperti saya. Dan satu yang menarik lagi, style ini menggunakan bahan paris segitiga yang adem dan mudah diatur. Siapa yang gak punya dan cinta jilbab paris?

Hijab for Traveler

Catatan:
1. Untuk traveler, menggunakan inner atau tidak pilihan. Model ini sangat aman jika tidak sempat menggunakan inner / daleman jilbab apapun.
2. Bentangkan jilbab paris menjadi segiempat.
3. Letakkan di kepala dan ambil kedua sisinya. Kanan lebih panjang dari sebelah kiri.
4 Dan 5. Ambil peniti, dan sematkan di bawah dagu (teknik ini yang membuat muka chubby terlihat lebih kecil).
6, 7, dan 8. Ambil sisa kerudung dari belakang ke depan, putarkan melingkari leher depan, dan bawa ke atas kepala (seperti pada gambar).
9, 10, dan 11. Sematkan dengan peniti. Akan lebih rapi lagi jika dipenitinya dari sisi dalam (seperti gambar 11).
Taraaaa!

Ketengan: Jilbab paris Rainbow in the Sky by cahyashawl

Heaven on Earth: Gunung Rinjani 3726 MDPL

8 Feb

Indonesia – Semua hal di sini punya nilai dan cerita, bahkan disisipi beberapa mitos di dalamnya. Seperti Gunung Rinjani dengan ketinggian 3.726 mdpl (yang mendominasi sebagian besar luas Pulau Lombok) merupakan gunung tertinggi ke dua di Indonesia (di luar pegunungan Irian Jaya), pun memiliki cerita di balik keindahannya.

20edit

Konon, di Lombok ada seorang putri raja yang cantik jelita yang bernama Dewi Anjani. Namun, di balik kecantikan Dewi Anjani tersimpan misteri, dimana akhirnya sang putri menjadi ratu penguasa makhluk gaib. Berawal dari kekecewaan atas tidak diizinkan oleh sang ayah untuk menikah dengan lelaki pujaan hati, maka Dewi Anjani mengasingkan diri dan bertapa, hingga akhirnya diangkat menjadi penguasa makhluk halus. Ini merupakan satu dari beberapa versi lainnya tentang kisah Dewi Anjani yang konon menguasai Gunung Rinjani.

Paras Sang Dewi Anjani sangat cantik, seperti saat melihat Gunung Rinjani yang digunakan sebagai istananya. Diameternya memiliki kaldera hingga 10 km dan kedalaman kawah -230 m. Begitulah Gunung Rinjani istana Dewi Anjani yang secantik pemiliknya dan menjadi pujaan para pencinta alam bebas untuk datang menjajakinya.

Berbeda dengan perjalanan pendakian saya yang lain. Buat saya Rinjani adalah impian, yang entah akan terwujud atau tidak dan bahkan sempat terkubur dalam. Maka, saat mendengar kabar dari teman akan ke sana, seolah keinginan itu kembali dan saat itu lah saya mulai mempersiapkannya.

Jika ditanya kenapa harus Rinjani si gunung berapi tertinggi kedua? Kenapa bukan Kerinci si nomor 1 tertinggi atau yang lainnya? Saya pun tidak yakin alasannya mengapa.

IMG_4354

Berdiri kokoh di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat, Gunung Rinjani menjadi salah satu kiblat kecantikan di Indonesia. Kecantikan rinjani tak hanya memikat petualang-petualang dari dalam negeri, tetapi banyak orang asing. Bahkan sesekali saya merasa terasing saat mendaki Rinjani, saking banyak orang luar negeri yang menjajakinya.

Walaupun saya sudah bayar include dalam trip, sebagai informasi bahwa per 1 April 2014, harga tiket masuk Gunung Rinjani ini naik. Bagi pengunjung domestik sebesar Rp. 25.000/hari (sebelumnya Rp. 2.500/hari), bagi pengunjung mancanegara dikenakan sebesar Rp. 250.000/hari (sebelumnya Rp.20.000/hari). Hal ini dikarenakan penetapan status Taman Nasional Gunung Rinjani masuk Zona I, yaitu yang paling dimanati.

Hari itu, 26 Desember 2014, menjadi langkah pertama dalam perjalanan ini. Saya dan dua sahabat saya (Fikha dan Yona) bersama sekitar 40 orang dari komunitas Pecel Lele (Pendaki Cepat Lelah Letih Letoy – sebutannya) lainnya ini, kami berangkat dengan bus dengan lama perjalanan 2 hari 2 malam. Berhari-hari duduk di bus dalam perjalanan darat lengkap dengan dua kali penyeberangan antar pulau (Pulau Jawa – Pulau Bali – Pulau Lombok). Kebayang dong pegal dan capeknya perjalanan, tetapi sungguh tidak menurunkan semangat dan keinginan yang sudah terlanjur membara di dalam diri (ngebet! Haha). Perjalanan tidak terlalu membosankan, karena kebetulan saya berangkat bersama team yang super seru!

 

2

Kericuhan di dalam bus

 

3

Kericuhan di atas kapal perjalanan berangkat

 

Ini adalah perjalanan pertama saya ke “Indonesia Bagian Tengah” (selain Kalimantan, karena Kalimantan itu lokasi kebun sawit tempat saya bekerja dan mengharuskan untuk beberapa kali bolak-balik ke sana), terlebih dengan jalur darat yang ternyata tidak “seseram” yang dibayangkan, sungguh kesempatan dan pengalaman yang luar biasa. Alhamdulillah.

28 Desember 2014 dini hari WITA (Waktu Indonesia bagian Tengah), kami tiba di Aikmel, Lombok Timur. Kami beristirahat sejenak dan melepaskan lelah dengan mandi (setelah dua hari libur mandi. Hehe) di Masjid Mujahid, Aikmel.

Pernah dengar soal kabar “jangan pernah ke Lombok sendirian, karena rentan dengan kriminalitas”. Semua sirna sesaat setelah tiba di sini. Kami betul-betul dianggap sebagai musafir, diberikan tempat istirahat, mandi sepuasnya, bahkan pada saat sholat tiba, beberapa jamaah wanita mengundang kami untuk beristirahat di rumah mereka.

49edit

Sedikit tentang Aikmel, sejak pagi hari kami mulai menjajaki pasar dan membeli beberapa keperluan selama pendakian. Berbeda dengan pasar di “Indonesia bagian Barat”, biasanya tinggal bilang “bu, beli sop-sop-an” dengan cekatan ibu penjual sayuran tersebut mencampur-aduk semua sayur dan bahan sop dalam satu plastik. Namun tidak di Aikmel, kita harus membelinya secara terpisah satu persatu sayuran dan kebutuhannya. Kebayang wajah bingung dan mondar-mandirnya kami saat itu.

IMG_4166edit

Satu dari Aikmel yang sangat saya kagumi, sejauh mata memandang saya hampir tidak melihat satupun wanita yang tidak berhijab, besar kecil tua muda baik di dalam pasar atau di jalanan kota, semua berhijab. Maka wajar jika mereka menyebut Lombok sebagai “Pulau Seribu Masjid”. Subhanallah.

Pukul 8.00 WITA, setelah sarapan (dua kali. Hehe), kami melanjutkan perjalanan ke Pos Sembalun menggunakan mobil bak dengan perjalanan yang gerimis berkelok-kelok, menanjak dan menurun yang semuanya sudah kami pasrahkan ke abang supirnya saja (hiks!). Tetapi ini sebanding dengan pemandangan sepanjang perjalanan yang sungguh luar biasa.

1

Setelah beberapa jam kemudian, tibalah di Pos Sembalun. Agak lama di sana, karena niat awal kami ingin menggunakan jasa porter (maklum usia. Hehe). Tetapi ternyata setelah ditunggu beberapa jam, porterpun tetap tidak tersedia. Karena hari itu sedang ada shooting katanya. Alhasil kami bawa tas carriel dan peralatan sendiri (kecuali beberapa logistik yang kami titipkan bersama porter kelompok).

IMG_4417

Di pos Sembalun menunggu kepastian

 

“yang.. hujan turun lagi, di bawah payung hitam ku berteduh”. (malah nyanyi!) Hahahaha

Tak sampai pakai payung hitam juga sih, tetapi cuaca di sana memang sedang tidak begitu bagus. Hujan terus-menerus mengguyur sepanjang perjalanan kami. Mengharuskan kami untuk selalu fokus dan waspada pada langkah kami.

Perjalananpun dimulai, dengan bismillah dan restu dari orang-orang tercinta di rumah, akhirnya kami mulai melakukan pendakian ini. Langkah-langkah awal dirasa lumayan berat, dengan beban yang berat (asal bukan beban hidup dan pikiran ya. Hehe), serta cuaca dingin dan hujan menjadi saat terpenting khususnya buat saya untuk beradaptasi.

Tiga setengah jam kemudian dengan nafas yang sudah Senin-Kamis (read: kelelahan) tibalah di pintu gerbang Taman Nasional Gunung Rinjani. Sekali lagi, baru sampai PINTU GERBANG! Maklum sudah lumayan lama juga tidak naik gunung.

IMG_4289

IMG_4371

Si buta dari Goa Hantu gini bentuknya

 

Setelah berfoto sejenak (penting!Hehe) kami melanjutkan perjalanan ke Pos I memalui jalur padang savana cantik! Buat saya, Rinjani bagaikan dunia lain, karena sejak awal pendakian kami sudah disuguhi padang savana yang eksotis, hutan tropis yang mempesona, serta perbukitan yang luar biasa indah. Ketinggian 1500 MDPL ini adalah awal pendakian, tetapi sudah sangat indah.

a

k

Dua jam kemudian kami tiba di pos 1, tetapi namanya savana, pohon sampai bisa dihitung pakai jari, tidak heran banyak yang menyebut Rinjani sebagai ‘gunung pantai’. Angin padang rumput yang bertiup membuat ilalang melambai seperti jutaan rajutan yang terangkai begitu indah. Eksotisme yang tidak terbantahkan walaupun hujan sesekali mengguyurnya. Hati-hati dengan langkah, bisa jadi kotoran sapi sudah menempel di sepatu kita.

Jam menunjukkan pukul 19:00 WITA, tetapi belum gelap di sana. Tidak sejauh pos sebelumnya, 1,5 jam kemudian kami tiba di POS II. Dan tepat gelap disertai hujan sudah mulai menggangu perjalanan kami. Dengan rencana awal untuk membangun tenda di POS III, akhirnya kami memutuskan untuk membangun tenda di sini. Setelah mendirikan tenda, mengganti dan menjemur pakaian yang basah kehujanan, memasak, dan makan malam bersama, kami memutuskan segera istirahat untuk persiapan tenaga esok hari. Untuk suhu di dalam tenda malam itu, jangan ditanya… dingin!

Pagi hari, saatnya pembagian tugas ada yang memasak, mencuci, membuang hajat (penting!hehe), mengambil air (karena di POS II ini lah ada sumber air yang banyak dan bersih), ada pula yang tinggal makan. Hehe. Setelah selesai makan dan packing tenda, kami segera melanjutkan perjalanan. Ops sial! Jas hujan saya hilang, mungkin terselip di peralatan rekan lainnya. Tetapi perjalanan tetap harus dilanjutkan, dengan berbekal jaket semi-waterproof yang saya kenakan, dengan bismillah kami melangkah.

i

Perjalanan POS III inilah ternyata perjalanan yang ternama dan sering disebut orang tentang tracking Rinjani, ya apalagi selain “Tujuh Bukit Penyesalan” yang mungkin artinya kita merasa terlambat untuk menyesal dengan perjalanan sejauh itu, perjalanan tiada akhir. Saya lebih senang menyebutnya “Tujuh Bukit PHP” berasa sudah sampai ternyata setiap bukit hanya menjanjikan harapan palsu ke puncak (fiuh!pengalaman banget di-PHP kayaknya.hehe). Tidak punya pilihan selain terus bergerak maju bukit demi bukit yang brutal. Tetapi alam sepanjang perjalanan tracking Rinjani tidak berhenti menghibur dan memesona, sensasinya mirip seperti sedang berjalan di film dunia khayal sekaligus action, sangat menantang!

IMG_4470

Berisitirahat sejenak pada salah satu dari 7 bukit penyesalan

 

4

Lihat! yang di belakang kami itu bukit pertama.

 

3

Cuaca yang tidak menentu saat pendakian

 

Selama perjalanan, saya lebih sering berpapasan dengan pendaki asing. Sempat berbincang dengan salah satu dari mereka dan berkata, “Indonesia is awesome”, saya tersenyum dan berkata, “Indeed, see you on top then!”. Ah! Bangga banget jadi orang Indonesia.

Saya, Fika, Yona, tiga wanita bukan pendaki betulan ini berjuta-juta kali istirahat. Di saat yang lain satu per satu melewati kami. Prinsip kami cuma satu “alon-alon asal klakon”. Tidak apa lambat asal selamat.

IMG_4295

Bahkan kami bertiga membuat permainan sendiri agar termotivasi untuk dapat melewati satu per satu bukit tersebut. “Ayo sampai ke atas bukit yang itu, nanti kita berbagi biskuit di atasnya!” atau “Ayo sampai ke bukit yang itu, nanti kita berbagi minum!” Alhamdulillah, satu per satu si Bukit Penyiksaan itu telah berhasil dilalui, bahkan diantara 7 bukit itu, ada yang sangat terjal. Untung dengkul masih belum keropos, biar agak lambat, tetapi sampai juga.

10

16:00 WITA, tibalah kami di Plawangan Sembalun yang merupakan pos terakhir sebelum puncak, dengan ketinggian 2639 mdpl (dari total Puncak Rinjani 3726 mdpl, berarti masih lumayan jauh!), tetapi sudah berhasil membuat kami menangis haru. Bayangkan sana, kami sudah sejajar dengan awan, angin membisik dengan indah, mata tersaji Maha Karya Tuhan yang belum tentu dapat dilihat semua orang secara langsung. Terlebih kami bertiga tidak menyangka bahwa kami tante-tante lelet inilah wanita pertama dari team kami yang tiba di Plawangan Sembalun tersebut. Selamat saja alhamdulillah (ngetiknya sambil nangis.hehe).

IMG_4382

IMG_4433

IMG_4486

Kami mulai mempersiapkan kembali untuk berkemah di sana, target kami besok dini hari jam 2:00 WITA harus segera berangkat dan memetik impian kami, ke Puncak Rinjani!

26

2.00 WITA, kami segera bersiap dan membangunkan beberapa orang team yang akan bergabung untuk ke puncak pagi itu. Bukan soal ganjen, tetapi bukan hanya jaket tebal, peralatan lainnya seperti kacamata, masker penutup wajah (buff) dan lip gloss agar digunakan, untuk menghindari hempasan angin dingin, pasir dan debu, juga sengatan sinar matahari langsung.

13

Perjalanan sekitar 5 jam ini terasa lebih berat dari yang sebelumnya. Hal ini karena medan pendakian menuju puncak cukup melelahkan, padang pasir, kawah, dan jurang yang seolah tanpa dasar, akan memaksa berpacunya adrenalin selama pendakian. Untung pendakian dimulai saat masih gelap, jika tidak pasti mental jatuh duluan saat melihat jalurnya. Terlebih cuaca sedang tidak menentu, tiba-tiba panas, tiba-tiba hujan, yang kita semua tahu bahwa itu adalah pertanda akan datangnya badai. (hiks).

IMG_4396

“Seorang pendaki sejatinya tidak sedang menaklukan pucuk-pucuk tertinggi yang menusuk ke langit, melainkan ia sedang menaklukan pucuk-pucuk tertinggi dirinya sendiri sebagai manusia” – unknown

Sejujurnya, saat tanjakan pasir terakhir saya sudah tidak kuat sama sekali. Tetapi banyak penyemangat dan rekan yang membantu sehingga memberi kekuatan kepada saya untuk tetap melangkah.

14

15

Rinjani mengajarkan saya untuk tidak menyerah. Walaupun terkadang kaki terjebak di pasir, yang hanya perlu saya lakukan hanyalah melangkah dan terus berdoa.

Kemudian, tibalah saya di Puncak Rinjani..

IMG_4362

17 IMG_4250

Ya, tentu tangisan haru kami kembali membanjir (hehe). Dari puncak 3726 meter di atas permukaan laut, saya bisa melihat semua sisi pulau lombok, bahkan pulau bali dan sumba. Bahkan di kejauhan terlihat Gunung Agung Bali berdiri dengan angkuh.

Masih tidak menyangka, melihat kaldera rinjani sebesar itu, merasa bagikan buih di lautan dan membuat teringat bahwa saya sangat kecil di hadapan-Nya.

21edit

Setelah berfoto, kami harus segera turun karena tanda-tanda badai akan segera turun. Saat melihat jalur turun, saya sedikit merinding. Dan benar saja, di perjalanan turun, kami terjebak badai dan hujan yang amat derasnya. Pandangan kami tidak lebih dari 1 meter ke depan. Kanan kiri depan belakang kami telah rata tertutup kabut.

IMG_4449

Sempet-sempetnya di tengah badai

Sampai pada satu jalan lurus tepat kanan dan kiri jurang, kami melihat angin badai yang memutar-mutar dengan “cantiknya”. Bahkan saat itu saya bergumam dalam hati sebelum melangkahinya “Tuhan jika ini adalah akhir hidupku, mohon ampuni segala dosaku dan bahagiakanlah keluarga dan orang-orang tersayang”. Dengan bismillah saya melangkah dan berhasil melewatinya. Saat itu pula saya sadar, jaket saya anti anti, tetapi bukan anti badai. Segala camera dan gadget sudah saya pasrahkan jikalau memang harus rusak karena derasnya air hujan badai itu.

Alhamdulillah. Setelah beberapa jam, kami selamat dan berhasil melewati itu semua hingga tiba di camp Plawangan Sembalun kembali pada sore harinya.

Perut baru terasa lapar terlebih dengan kondisi pakaian yang basah kuyup. Kami mulai memasak hingga malam hari, makan, dan segera tidur untuk menyiapkan tenaga esok hari untuk turun.

Keesokan harinya, ini adalah titik dimana saya sebenarnya sangat sulit untuk memutuskan. Ingin hati rasanya melanjutkan ke Segara Anakan, tetapi apa daya. Karena semua pakaian sudah basah, logistik sudah habis, dan fisik setelah melawan badai di puncak kemarin harinya. Beberapa dari kami, termasuk saya, memutuskan untuk turun melewati jalur Sembalun kembali. Ah! Iri rasanya dengan rekan lainnya yang masih kuat turun melalui Senaru dan menyempatkan diri untuk membangun tenda kembali di Segara Anak.

IMG_4427

Sedikit tentang Segara Anak. Ialah danau kawah dengan kedalaman sekitar 230 m. Air yang mengalir dari danau ini membentuk air terjun yang sangat indah, mengalir melewati jurang yang curam. Danau Segara Anak ini banyak terdapat ikan mas dan mujair, sehingga sering digunakan untuk memancing. Dengan warna airnya yang membiru, danau ini bagaikan anak lautan, karena itulah disebut “Segara Anak”.

Katanya, danau segara anak menyimpan berbagai misteri dan dan kekuatan gaib, itulah sebabnya manusia merasa betah tinggal lama di tempat ini. Keyakinan masyarakat apabila Danau Segara Anak terlihat luas menandakan bahwa umur orang orang yang melihat itu masih panjang. Sebaliknya jika tampak sempit maka menandakan umur si penglihat pendek, untuk itu harus melakukan bersih diri artinya harus berjiwa tenang, bangkitkan semangat hidup, pandang kembali danau sepuas-puasnya. Wallahualam.

Selain Segara Anak, jalur pulang Senaru yang katanya lebih terjal dari jaur Sembalun ini juga terdapat air terjun kokok putih dan juga air panas yang sering dikunjungi orang, bahkan katanya bisa juga untuk pengobatan.

Cerita tinggallah cerita, kenyataannya saya harus menelan kekalahan atas fisik yang tidak lagi kuat melaluinya.

Tepat pukul 00:00 WITA tanggal 1 Bulan Januari 2015 saya dan team menginjakkan kaki kembali di Pos Sembalun. Saya merayakan pergantian tahun, dengan kesederhanaan segelas teh hangat, semangkuk mie rebus, dan canda tawa lepas rekan seperjuangan kala itu. Alhamdulillah.

Seminggu di Lombok sungguh tidak terasa. Setelah team yang pulang melalui Senaru tiba, kami langsung pulang menuju Jakarta. Kembali menempuh perjalanan berhari-hari di bus dan terombang-ambing di kapal laut saat menyebrang.

4

Kericuhan di atas kapal perjalanan pulang

 

9

Mba Aas, pengamen dangdut cantik khas Pantura sempat mengiringi perjalanan pulang kami

 

Detil perjalanan kami – An awesome video captured by my friend, Alif Raharjo

 

 

Terima kasih Allah atas kesempatan yang diberikan. Terima kasih atas semua keindahan dan keajaiban Rinjani yang telah memberikan keyakinan bahwa mimpi memang dapat diraih jika tidak pernah menyerah. Terima kasih atas teman-teman atas bantuan dan kehangatannya. Saya akan menjemput Segara Anak suatu saat nanti, In Sha Allah. Sampai bertemu lagi!

 

 

 

 

Source foto:

1. Koleksi Pribadi
2. Alif Raharjo
3. Hasan Cullen
4. Yona Intan Zariska
5. Tante Jessy

 

 

Event: Gerai Baru, Semangat Baru, Martha Tilaar Shop!

20 Nov

Akhir pekan kala itu, sama halnya seperti yang dilakukan sebagian warga Jakarta lainnya, saya mengunjungi Grand Indonesia Shopping Mall untuk nonton bioskop dan sekedar meilhat-lihat.

Melihat-lihat gerai di Mall buat saya menjadi trik sendiri untuk  refresh pikiran setelah lima hari penat bekerja. Kebetulan saat itu saya dapat info bahwa Martha Tilaar Shop di Grand Indonesia memperbaharui konsep ruangan mereka yang tentu sangat berbeda dengan tahun 2009, yaitu tahun dimana pertama gerai ini di buka di sana.

Hal yang membuat saya selalu tertarik dengan gerai Martha Tilaar adalah karena selalu menyelipkan kesan tradisional ke-Indonesia-an yang membuatnya selalu berbeda dengan gerai lain. Wajar saja, Martha tilaar adalah salah satu produk dan yang terbesar asli Indonesia.

Penataan Rapi dan Eye-Catching

Penataan Rapi dan Eye-Catching

Tiba lah saya di gerai barunya dan betul saja, gaya industrial dan rustic yang sedang populer  yang biasanya digunakan untuk restoran atau hotel, diterapkan di gerai ini. Sang maestro, Shanti Alaysius, seorang desainer interior asli Indonesia yang konon telah mendesain salah satu Hotel Hilton di Amerika ini memaduan antara desain modern dengan warna mayoritas putih yang menggambarkan kejujuran dan keberanian wanita Indonesia.

Lampu hias dengan kesan mewah

Lampu hias dengan kesan mewah

Gerai ini juga dilengkapi sentuhan tradisional dengan bahan dasar kayu, tembaga, anyaman, dan pencahayaan yang hangat berhasil membuat siapapun merasa nyaman berada di dalamnya. Sisi kanan gerai ini menjual kosmetik Caring Colours, PAC, Sariayu, dan Rudy Hadisuwarno. Sedangkan di sisi kirinya menjual skin care dari Biokos dan Dewi Sri Spa.

Kebayanglah kenapa Martha Tilaar Shop sudah punya 26 gerai yang bahkan dua diantaranya ada di Singapura.

Masuk lebih dalam lagi, saya disuguhkan gambar pohon Martha Tilaar pada interior dalam yang eye catching banget bentuk dan warnanya, perpaduan biru, hijau, serta abu-abu. Katanya itu menyimbolkan pohon kehidupan yang senantiasa memberi keselarasan dan mengayomi. Wajar saja, seluruh penjaga gerainya sangat ramah dan dengan sabar menjawab pertayaan saya yang nyeleneh dang a ada hubungannya sama sekali dengan urusan jual-beli.

Lukisan pohon cantik di salah satu dinding gerai

Lukisan pohon cantik di salah satu dinding gerai

Tepat di sebelah gambar pohon tadi, adalah ruangan reflexiology. Kalau tidak sedang buru-buru karena sudah terlalu malam, saya pasti udah icip-icip pijat refleksi untuk meregangkan otot setelah berjam-jam berkeliling hari itu. Lebih istimewanya lagi ada juga Spa Treatment, massage, facial, makeover, beauty class setiap hari, dan bahkan bisa membuat lipstik dengan warna sesuai selera sendiri. Ah nyesel deh ke sananya terlalu larut, jadi gak sempat main-main.

IMG_2473[1]

The last not for the least, dengan adanya gerai produk asli Indonesia berstandar internasional ini menjadi bukti nyata bahwa dengan berkarya di negeri sendiripun bisa berdiri menandingi produk internasional.

Mba kasir yang ramah

Mba kasir yang ramah

Seperti yang dilangsir dari kutipan Ibu Martha Tilaar “Jadilah tuan dan nyonya di negeri sendiri”.

 

Gunung Guntur, 2249 MDPL: “Si Pendek” yang menantang!

30 Aug

Akhir pekan, tidak terlalu banyak gunung yang dapat dikunjungi dalam waktu hanya 2 hari. Terlebih jika kawasannya sangat jauh dari Jakarta. Sehingga lagi-lagi kota Garut menjadi tujuan utama kami.

Kota Garut memang menyimpan keindahan alam yang tak berbatas. Selain Gunung Papandayan dan Cikuray yang sudah cukup dikenal, ternyata masih ada satu lagi gunung indah di sana. Gunung Guntur atau biasa disebut warga setempat gunung Gede. Hasil penelusuran singkat sebelum memutuskan berangkat, saya mendapati bahwa gunung ini memiliki ciri khas yang cukup unik dibandingkan gunung lainnya di Garut, yaitu mayoritas konturnya berpasir dan berbatu serta hanya ditumbuhi rumput ilalang (sabana) yang cukup tinggi bahkan sampai ke puncaknya. Sungguh memesona. Wajar jika beberapa orang menyebutnya Rinjaninya Kota Garut.

View dari Gunung Guntur

View dari Gunung Guntur

Gunung yang terletak di Kampung Dukuh Desa Pananjung, Kecamatan Tarogong Kaler, Kabupaten Garut ini merupakan gunung api yang masih aktif meskipun aktivitas vulkaniknya cenderung menurun hingga kini. Namun pada tahun 1800 an, gunung ini merupakan gunung berapi paling aktif di Kota Garut dan letusan terbesarnya terjadi pada tahun 1840.

Ada beberapa yang menyebutkan bahwa Guntur adalah Rinjani-nya Kota Garut. Karena panoramanya sangat indah.Selain medan gunung yang menantang, Guntur juga dilengkapi dengan lembah, air terjun, sungai, panorama alam dan kawah.

Jumat pulang kantor seperti biasa, saya dan 6 orang teman lainnya berkumpul di Kp Rambutan. Dan langsung naik bus tujuan Garut dengan pemberhentian di pom bensin Tanjung, Garut dan masjid di dalamnya menjadi titik kumpul pertama. Kami tiba pukul 2 dini hari, sehingga sekedar merebahkan badan setelah melaksanakan 2 rakaat rasanya baik untuk kami mengumpulkan tenaga untuk tracking beberapa jam ke depan.

Jam menunjukkan pukul 5 pagi, setelah kami melakukan Shalat Subuh dan packing ulang, kami siap untuk memulai perjalanan melalui gang sebelah pom bensin yang merupakan awal mula jalur pendakiannya. Rejeki anak sholeh sholehah! Baru jalan kaki sedikit, langsung dapat tebengan truk. Sebenernya nebeng truk itu pilihan hidup dan mati. Jalur berpasirnya yang kayaknya gak cocok buat truk untuk memanjat dan berkelok dengan sisi kanan dan kiri jurang selain bikin mules, kalau lengah sedikit bisa kelempar keluar dari truknya. Tetapi karena dapat menghemat waktu selama 2 jam dengan berjalan kaki, alhasil kamipun menaikinya.

Naik truk penambang pasir

Naik truk penambang pasir

Sunrise di perjalanan di atas truk

Sunrise di perjalanan di atas truk

 

Kalau dilihat dari ketinggian Gunung Guntur 2249 MDPL, banyak orang yang meremehkannya. Sepertinya mudah saja untuk mendaki, bahkan pendaki pemula juga oke. Terlebih ketinggian gunung ini lebih rendah dari ketinggian Gunung Papapandayan (2665 MDPL) yang biasanya digunakan untuk sekedar camping ceria. Rasanya cukup untuk sekedar melepaskan rindu dengan tracking dan udara gunung. Terlebih saya saat itu baru saja sembuh dari demam selama 3 hari. Itupun setelah mendesak dokter untuk memberikan obat yang paling manjur yang dia punya agar dapat sembuh selama 3 hari saja. Walaupun sang dokter kala itu hanya tertawa mendengar permintaan saya, tetapi Alhamdulillah berkat ridho Allah SWT melaui obat dokter itupun saya siap bertempur setelah 3 hari sakit.

Tetapi… dugaan saya terpatahkan sesaat setelah saya berada sejak di kaki gunungnya pun.

Gunung Guntur memiliki kemiringan yang sangat curam dan material tanah berupa tanah pasir berbatu. Untuk stabilitas tanahnya wilayah ini tergolong labil, dengan tingkat kelongsoran tanah yang tinggi dan daya serap tanah yang cukup. Hal ini diperparah dengan pengrusakan yang dilakukan oleh para penambang pasir ilegal di kaki gunung ini. Terlihat betapa tandusnya kawasan kaki gunung ini sebagai akibat dari penambangan pasir tersebut.

IMG_0337

 

Dengan bismillah saya melanjutkan tracking.

 

Ini adalah pendakian pertama ke Gunung Guntur untuk kami bertujuh, sehingga bermodal bismillah kami menyusuri track dengan track yang ada. Ternyata benar saja, ada dua jalur pendakian, yaitu jalur Curug Citiis 1-3 atau yang satu lagi jalur ikan asin (sebenarnya ini julukan dari saya sendiri, betapa tidak lewat jalur ini jalanan kering kerontang tanpa air, panas, dan pepohonan rindang hanya bisa dihitung dengan jari – persis seperti proses pembuatan ikan asin hehehe). Dan kenyataannya, kami melewati jalan ikan asin itu (Ini menjadi sangat penting, jangan lupa pakai sunblock!) Sedangkan yang lainnya ternyata banyak yang melewati jalur Curug Citiis yang lebih rindang walaupun tracknya luar biasa dasyat, jalur tracknya hamper mirip seperti Gunung Cikuray.

IMG_0271

IMG_0278

 

Jika mendaki gunung lain, team tidak akan terpecah, saling tunggu dan saling susul. Berbeda dengan pendakian Gunung Guntur, masing-masing memiliki metode sendiri untuk menjaga diri masing-masing agar tetap sanggup untuk mendaki. Bahkan saya menerapkan sistem 10:1, jadi 10 kali mendaki 1 kali berhenti untuk nafas lebih panjang. Tetapi sayangnya jalur pasir nan seru ini membuat perjalanan lebih istimewa, karena dengan mendaki 10 langkah, akan merosot 5 langkah.

IMG_0258

 

Namun jangan salah, melewati jalur Curug juga hanya sampai batas Curug 3, setelah itu sama seperti jalur ikan asin yang kejemur luar biasa maha dasyat dengan nafas senin-kamis dan tidak ada sumber air lagi. Curug Citiis 3 adalah sumber air terakhir, yang berarti pendakian semakin berat karena harus mengambil air sebanyak-banyaknya biar tetap bertahan hidup selama di puncak. Dengan track nan aduhai dan stok berliter-liter air di gendongan membuat perjalann ini semakin menantang.

 

Seperti yang saya ungkap sebelumnya, jumlah pohon rindang bisa dihitung dengan jari, sehingga dirasa setiap pohon rindang kami anggapn sebagai pos untuk beristirahat sejenak dan bahkan sampe umpel-umpelan dengan pendaki lain yang juga lagi neduh dan istirahat saking jarangnya pohon rindang.

IMG_0333

 

Semakin menuju puncak semakin miring juga jalannya, bahkan sampai hampir harus mencium tanah, karena sudah tidak bisa dibedakan kembali mana tanah untuk dipijak mana tanah untuk berpegangan. Bisa dibayangkan sistem 10:1 tadi akhirnya berubah menjadi 5:1 dengan paha dan betis yang saling bergema di setiap langkahnya (nyut-nyutan). Luas biasaaaa seruuu!

IMG_1212

IMG_0352

 

Tidak terasa 7 jam sudah berlalu (siapa bilang tidak terasa?), tibalah kami di puncak bersama 2 rekan saya yang lain. Dari situ kami tersedar, bahwa tendanya ada bersama 4 kami lainnya yang belum sampai puncak. Akhirnya dengan panas terik kami memulai memasak karena perut juga sudah terasa sangat lapar 4 bungkus indomie kami makan bersama 3 pendaki lain yang juga sedang menunggu rombongannya.

IMG_0243

 

Lelah berubah menjadi rasa syukur saat melihat panorama indah dari atas sini. Kota Garut nan indah, terlihat lebih indah dari atas sini. Subhanallah.

 

Beberapa jam kemudian, 4 teman kami lainnya. Dengan sigap kami bekerjasama membangun tenda dan memasak untuk rekan kami yang baru tiba. Satu nilai plus lagi untuk hobi mendaki ini, bersosialisasi dan kerjasama dengan yang lainnya tanpa pamrih.

IMG_0467

IMG_0494

 

Malam tiba, terdengar di luar tenda riuh tertawa bersorak pendaki-pendaki yang sudah membangun tendanya. Bahkan salah satu rekan kami berkata bahwa pemandangan kota Garut sangat canti di malam hari dengan cahaya-cahaya lampunya yang menghias seperti bintang. Seperti sedang berada tengah langit, dengan kemilau bintang dari atas langit dan dari bawah dari cahaya lampu Kota Garut. Namun apa daya, karena badan kembali tidak enak. Padahal inilah yang dinantikan semua pendaki Gunung Guntur.

 

Setelah saya memutuskan untuk berada di dalam tenda, dingin malah semakin menggigit. Kulit terasa semakin kering terlebih setelah siangnya tersengat panas terik, terlebih di Puncak Gunung Guntur ini dehidrasi sangat tinggi karena tidak ada sumber air. Sehingga berpengaruh pada kulit yang juga dirasa butuh untuk meregenerasi dengan asupan yang cukup. Terbawa saat kebiasaan di rumah, caring moment pakai pelembab Nivea Night Whitening Body Serum pun saya lakukan di sini. Siapa bilang pendaki atau seorang backpacker ga boleh menjaga kulitnya. Bahkan akibat sengatan matahari langsung, kulit lebih cepat rusak dan harus cepat pula diperbaiki. Terlebih malam hari adalah saat yang paling aktif, bahkan 2 kali lebih aktif ber-regenerasi mengeluarkan hormon pertumbuhan yang berguna buat memperbaiki sel-sel yang rusak itu jika dirangsang dengan serum bervitamin C ini. Jadilah kebiasaan ini kebawa-bawa kemanapun, dan siap tidur berselimut sleeping bag hangat di malam hari.

IMG_1894

 

Dan besoknya saya baru sadar, kalau kita baru di puncak 1 karena dari situ melihat puncak lainnya yaitu puncak 2, dan yang lebih terkejut lagi ternyata Guntur punya 4 puncak.

 

Karena saya ga sanggup, saya rasa tidak wajib sampai ke puncak 4 (ya daripada ga bisa turun lagi ya boooo ini udah pegel banget).

Pagi hari, saatnya berjumpa dengan sunrise yang indah.

Sunrise cantik dan Gunung Ceremai, view dari gunung Guntur

Sunrise cantik dan Gunung Ceremai, view dari gunung Guntur

Matahari tertutup kabut

Matahari tertutup kabut

kami!

kami!

 

It’s time to Turun Gunung!

Tanpa ragu-ragu, gunung Guntur saya nobatkan sebagai gunung yang lebih susah dituruni walaupun lebih pendek mdplnya dari gunung lain yang pernah didaki. Di Gunung Slamet manjat berjam-jam, turun bisa cuma 2 jam. Minimal bisa gelindingan. Sedangkan di Guntur, jangankan lari, gelesoran ngikutin kerikil saja masih sulit. Akhirnya saya memilih seperti turun dengan teknik perosotan sampai celana sobek di bagian belakang yang baru saya sadari saat hamper sudah sampai bawah. Hiks!

Teknik merosot turun

Teknik merosot turun

 

Celana Belakang Sobek akibat Merosot turun

Celana Belakang Sobek akibat Merosot turun

Catatan wajib: sarung tangan tebal, buff (penutup muka), dan sepatu di Gunung Guntur adalah wajib.

City Sight from Here, Garut

City Sight from Here, Garut

Pendaki dan Kota Garut

Pendaki dan Kota Garut

 

Setelah beberapa jam akhirnya, tibalah di bawah. Perjuangan maha Dasyat mendaki Gunung Guntur malah membuat saya rindu sesaat setelah mencapai kaki gunungnya. Dan suatu saat pasti akan melalukannya lagi, suatu saat.

 

 

 

Remember this:

Take nothing but pictures, 

Leave nothing but footprints, 

Kill nothing but time.

 

 

[Video Tutorial Hijab dan Make up] Jilbab paris segitiga!

1 Aug

paris segitiga

 

Ini dia tutorial jilbab paris segitiga yang tetap bisa menutup bagian dada. Happy Ied Mubarak!

 

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 6,496 other followers