SANG PENARI (culture, politic, and love)

25 Oct

Inilah budaya Indonesia, bisa digambarkan dengan 1 kata , KAYA! Banyak cara yang bisa dipakai untuk mengenalkan budaya ke khalayak di Indonesia (bahkan dunia), salah satunya dengan Film. Film Sang Penari ini mengangkat  1 dari sekian banyaknya budaya di Indonesia, RONGGENG. Kalo denger kata ini jadi inget lagu jaman dulu yang sempet nge-hits di Indonesia. ~nyai Ronggeng, memang asik asik goyangannya, Nyai Ronggeng..~. Sebelumnya cuma segitu pengetahuan saya tentang Ronggeng. Tapi ternyata dalam film ini, dikenalin banget dengan detil bagaimana sulitnya jadi Ronggeng itu jaman dulunya.

Minggu lalu, kebetulan banget dapet undangan Pre-Launcing film Sang Penari. Seneng banget, karena sebelumnya pernah baca sedikit Sinopsisnya di ChicMagz  waktu mereka bagi-bagi tiket by Quiz di Twitter (gw ga menang, tapi Alhamdulillah malah dapet undangannya-hihi) . Film yang diangkat dari Novel Trilogi “Ronggeng Dukuh Paruk” by Ahmad Tohari. Yang kemudian diadaptasi Salman Aristo, penulis skenario yang juga mengerjakan Garuda di Dadaku dan Laskar Pelangi. Ia juga dibantu oleh Shanty Harmayn dan sang sutradara, Ifa Ifansyah. Kabarnya ini Novel karangan lama, dari om gw masih SMP (nah gw umur berapa ya berarti –hihi).  Bayangan gw , BAYANGAN, sebelum nonton, ini ceritanya berat! Tapi ternyataahh oh ternyatahh…sesuatuu!

Undangan nontonnya jam 9 pagi di hari Minggu , diulang MINGGU PAGI. Tapi demi memenuhi hasrat penasaran nonton Film ini, pagi-pagi langsung mandi, sambil nunggu si Kanda (ehm..) jemput, siap-siap, ngetwit sedikit, bahkan sarapan juga bawa-bawa piring ke mobil, terus jam 8 capcus ke PIM 1 (Pondok Indah Mall 1). Sampai sana, (sedikit gambaran) dapet parkiran PIM di depan, DI DEPAN! Pas masuk mallnya escalator masih pada mati (apalagi lift), dan agak lari-lari balapan sama mba-mba dan mas-mas yang mau buka toko.

Waktunya nonton, semua masuk bioskop, kebetulan dapet di Studio 2. Dan film dimulai!

Beda sama saat ini, jaman dulu seperti di dalam cerita Sang Penari, untuk menjadi penari Ronggeng bukan sekedar cita-cita, tapi juga jadi jalan hidup. Susah didapat, dan susah juga ngelepasnya. Dalam film ini, Ronggeng itu bukan cuma joget, tapi jaman dulu ‘dipercaya’ harus merupakan ‘orang yang terpilih’ yang bisa menjadi seorang Ronggeng.

Si Srintil (Red-Ronggeng) yang bahkan sudah dari kecil impiannya menjadi Ronggeng inipun, ga semudah itu jadi Ronggeng. Sempat dia ditinggalin penonton karena dianggap bukan ‘orang yang terpilih’ untuk menjadi Ronggeng.  Srintil sempat harus memilih, menjadi Ronggeng atau hidup damai dengan yang pria yang dicintainya, Rasus. Ronggeng adalah impian dan sebagai penebus dosa orang tuanya yang sudah menyebabkan warga desa beserta Ronggeng sebelumnya meninggal dunia akibat makanan yang di jual orang tuanya. Ya Srintil memutuskan untuk menjadi Ronggeng.

Ironi! Jadi seorang Ronggeng berat banget, selain jual tarian dia juga harus ‘menjual diri’. Tapi anehnya, karena itulah Ronggeng jadi profesi terhormat dan kasta tertinggi di Desa Dukuh Paruk itu. Bahkan istri-istri SANGAT merelakan suami-suaminya untuk melakukan hal tersebut, kebanggaan tersendiri untuk Istri. Karena bukan lelaki sembarangan yang dapat kesempatan, kaya raya adalah syarat utamanya. Awalnya Srintil hanya bisa menangisi dan terus saja mengingat Rasus, lelaki yang amat dia cintai itu. Rasus akhirnya mengikhlaskan Srintil memilih utnutk menjadi Ronggeng dan   Rasuspun menjadi seorang Tentara RI. Itulah pilihan hidup.

Cerita gak berenti di situ, saat itu seiring dengan masuknya faham Komunis (PKI) yang merajalela di seluruh wilayah Indonesia, termasuk Desa Dukuh Paruk. Seni Ronggeng inipun dimanfaatkan PKI untuk meluaskan wilayah penjajahan. Karena mayoritas masyarakat desa ini buta baca-tulis, mereka semua secara tidak sadar tercatat sebagai anggota PKI atas paham yang dibawa dari kota (mereka menyebutnya kota). Termasuk Srintil.

Bisa dibayangkan bagaimana kehidupan Srintil sebagai anggota PKI yang memiliki Rasus,orang yang dicintainya yang seorang Tentara RI. Bagaimana pula perjuangan Si lelaki ini supaya Srintil tidak ‘dilenyapkan’ Tentara RI.

Satu kata (lagi-lagi satu kata-hihi) KEREN! Film ini bener-bener keren, gak ngebosenin atau monoton, film yang gak bisa lo nebak ujungnya kayak apa (Sad atau Happy Ending), bener-bener bikin lo bilang “oohh” atau “waww” karena gak lo dapet di Film lain atau di buku Sejarah SD kita dulu, bahkan film ini ngasih knowledge dengan tidak menjudge siapa yg merasa benar atau yang salah. Yang pasti jangan harap lo bisa pejamin mata karena mata ikutan tegang. Gak salah kalo ini film bakal ikut festival deh.

Film ini kabarnya bakal launch 10 November 2011. Gak ada alesan buat gak nonton film berkualitas kayak gini lagi kayaknya. Ayo pembuat film Indonesia, bikin film-film model gini lagii doongg…😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: