Archive | June, 2013

My First Summit Puncak : Pendakian Gunung Slamet

13 Jun

Gunung Slamet (3.428 mdpl) adalah gunung berapi yang terdapat di Pulau Jawa. Gunung ini berada di perbatasan Kabupaten brebes, Banyumas, Purbalingga, Tegal, Pemallang, Provinsi Jawa Tengah, dan merupakan yang tertinggi di Jawa Tengah serta kedua tertinggi di Pulau Jaya. Empat kawah yang berada di puncaknya semuanya masih aktif.

Pendakian Gunung Slamet dikenal cukup sulit karena hampir di sepanjang rute pendakian tidak ditemukan air. Pendaki disarankan untuk membawa persediaan air yang cukup dari bawah. Faktor penyulit lain adalah kabut. Kabut di Gunung Slamet sangat mudah berubah-ubah dan pekat.

Kamis, 28 Maret 2013

Seperti biasa, saya bergegas pulang kantor tepat waktu demi mengejar bus Jakarta-Purwokerto via Terminal Lebak Bulus bersama 2 orang teman saya, 5 orang lainnya sudah menunggu di Purwokerto.

Karena itu long weekend, gak mudah mendapatkan bus menuju purwokerto. Terlebih kereta, sudah sold out sejak sebulan lalunya. Sehingga sekitar pukul 9 malam baru dapat bus cadangan yang “seadanya”. Alhamdulillah, kami jadi tetap berangkat.

Di luar dugaan kami, ternyata macet terjadi di sepanjang jalur perjalanan sejak masuk tol Jakarta sampai dengan Purwokerto via Pantura. Melenceng dari estimasi, kami yang seharusnya tiba di Purwokerto pukul 4 pagi, malah sampai sana pukul 12 siang, tanpa berenti di rest area sekalipun. (Wow, eksten 8 jam!)

Tiba di terminal Purwokerto, kami melanjutkan perjalanan dengan angkutan kota menuju Purbalingga untuk berjumpa dengan 5 orang lainnya. Makan (malam,pagi, dan siang) dijadikan 1 waktu karena macet tersebut. Hihi. (Ssttt, jangan kasih tahu mama ya). Setelah beristirahat sejenak, makan, shalat dan melakukan packing ulang, kami melanjutkan perjalanan pukul 16.00 WIB.

Gn. Slamet dapat didaki melalu tiga jalur, lewat jalur sebelah Barat Kaliwadas, lewat jalur sebelah selatan Batu Raden dan lewat jalur sebelah timur Bambangan. Dari ketiga jalur tersebut yang terdekat adalah lewat Bambangan, selain pemandangannya indah juga banyaknya kera liar yang dapat ditemui dalam perjalanan menuju ke puncak slamet.

Akhirnya kami mengambil jalur Bambangan. Untuk tiba di Basecamp Bambangan, dari Purbalingga menuju Pertigaan Serayu dengan menggunakan bus 6000 rupiah. Setelah itu dilanjutkan dengan mobil carry menuju Basecamp Bambangan, selama 60 menit dengan biaya 13.000 rupiah. Untuk retribusi pendakian kita wajib membayar 5000 rupiah.

Kami tiba di basecamp pada malam hari. Karena menunggu hujan mereda, memulai pendakian pukul 22.00 (malam hari). Sehingga tidak nampak pemandangan selama pendakian, selain siluet dari pepohonan dan ditemani bulan purnama yan membulat sempurna dengan cantik. Selain tidak terlihat view pemandangan dengan jelas, perjalanan malam juga lebih melelahkan dibandingkan pagi hari. Hal ini dikarenakan oksigen yang dibutuhkan pendaki pun dibutuhkan pepohonan dan tanaman lain di hutan, sehingga sesekali nafas terasa sesak dan membutuhkan istirahat beberapa kali. Namun enaknya pendakian malam adalah, tidak tersengat sinar matahari.

IMG_5851 

 

Setelah menyusuri ladang penduduk dan barisan Pohon Pinus kami tiba di Pos I (Pondok Gembirung) dengan ketinggian 2220 mdpl. Malam itu pendakian kami ditemani rintik hujan yang tidak deras namun cukup membuat basah. Pos ini cukup luas, dan sering digunakan pendaki untuk membangun tenda, karena pos dengan pondokan seperti ini hanya ada di Pos I, V dan VII. Namun kami tidak bisa membangun tenda di Pos I, karena di area tersebut sudah penuh dengan tenda pendaki lain. Kamipun melanjutkan perjalanan.

Perjalanan dari Pos I menuju Pos II membutuhkan waktu 1 jam 30 menit dengan jalur pendakian yang panjang dan mulai vertikal, vegetasi khas hutan tropis membuat suasana menjadi lembab dan hanya sedikit cahaya matahari yang masuk dari celah-celah pepohonan. Pos II (Pondok Walang) ini ditandai dengan lahan yang cukup luas untuk 3-4 tenda kapasitas 5 orang. Jam sudah menunjukkan pukul 01.00 WIB, lelah dan kantuk mendera dan mengharuskan kami untuk membuka tenda di area tersebut.

Keesokan harinya, menyiapkan sarapan pagi untuk kemudian melannjtkan kembali perjalanan yang masih sangat panjang.

IMG_5858

Ini dia sang koki, Ajie. Masakannya dijamin Yummy! Kali ini saya tidak masak, karena sang koki ini biasa turun tangan ketika naik gunung.

IMG_5855

Tara sarapan pagi istimewa jadi, kami makan ditemani hujan yang terus gemericik.

IMG_5881

Setelah sarapan dan menunggu hujan mereda, kamipun segera packing kembali dan melanjutkan perjalanan. Sekitar 50 menit, tibalah kami di Pos III (Pos Cemara) pada ketinggian 2465 mdpl. Di pos ini juga cukup untuk membangun 2-3 tenda kapasitas 5 orang, namun setelah dirasa fisik serta keadaan lingkungan mendukung dan target kami adalah summit attack, maka kami melanjutkan pendakian ke pos berikutnya.

Kemudian tibalah kami di Pos IV (Samarantu) setelah menempuh perjalanan sekitar 40 menit. Namun kabarnya ini adalah pos yang sangat tidak direkomendasikan untuk bermalam, karena berdasarkan cerita lokal yang beredar, daerah ini merupakan tempat paling angker dari seluruh tempat di Jalur Pendakian Gunung Slamet via Bambangan. Samarantu berasal dari kata ‘samar’ dan ‘hantu’ yang berarti ‘hantu yang tidak terlihat’. Meskipun demikian pos ini dapat menampung 3-4 tenda kapasitas 5 orang, sehingga jika fisik dan cuaca sudah tidak memungkinkan, pendaki masih dapat camp di sini (hitung-hitung uji nyali ya cin!). Dari sini perjalanan mulai kering karena hutan mati sisa kebakaran masih terlihat gersang sampai pos VII. Tapi apa daya, karena hujan masih mengguyur dengan derasnya, kami tidak bisa mengeluarkan camera untuk mengabadikan beberapa tempat ini, gak kepeleset aja udah Alhamdulillah (saya jagoan kepeleset saat itu).

Dari pos IV menuju pos V (Pos Air), senang luar biasa karena target kami memang camp di pos ini yang memiliki sumber air, dingin karena baju dan celana yang kami kenakan sudah kuyup (walaupun sudah pakai jas hujan). Perjalanan dari pos IV menuju pos V memakan waktu 25 menit. Jarak mata air tidak begitu jauh, dengan berjalan ke turun ke kiri selama 5 menit. Kita harus naik ke arah batu licin berlumut sampai menemukan pipa aliran air, karena air ini yang lebih bersih dibandingkan yang mengalir di bebatuan.

Hari mulai menggelap, kabut mulai menebal, dan hujan masih juga gemericik, sehingga kami memutuskan untuk camp kembali di pos V sebelum summit puncak esok dini hari. Setelah makan malam kami memutuskan untuk segera beristihat.

IMG_5906IMG_5924

Pukul 03.00 WIB

Udara diatas ketinggian gunung tidak dapat di deskripsikan dengan kata-kata. (bangetttt). Dingin yang menusuk yang membuatkan kami menggunakan jaket tebal, dengan luaran jas hujan, karena cuaca masih tidak menentu.

Di pos VI kami hanya sedikit berhenti, karena berdasarkan catatan pos VII tidak jauh lagi. Dari pos VII menuju pos VIII kita dihadapkan pada jalur sempit vertikal. Batas Vegetasi menjadi pertanda dimulainya pendakian yang sebenarnya. Jalur pendakian yang terjal berbatu ini rentan menimbulkan bahaya, selain terpeleset dari jalur, bebatuan yang mudah jatuh ini dapat menimpa pendaki lain kalau kita berjalan tanpa hati-hati.

Tapi view inilah pengobat segala lelah dan dingin.

IMG_5944

Hari mulai pagi dan kami mengejar untuk mendapatkan sunrise di puncak.

IMG_5973IMG_5974

SUMMIT ATTACK!

BHK02G6CcAAaiOD

IMG_6111IMG_6065 IMG_6057 IMG_6082

Karena sejak memulai Summit Attack kami tidak makan, otomatis hal ini menjadi alarm untuk cepat turun dari Puncak. Akhirnya kami hanya menikmati biskuit dan nata de coco di pinggiran puncak, lalu memutuskan untuk turun, karena melihat jalur pendakian yang semakin ramai para pendaki yang akan naik menuju puncak.

Setelah semua kenyang, kami pun turun dengan berlari dan nyerosot, karena jalurnya masih berpasir sehingga tidak mudah pula untuk turun. Namun yang lebih lagi kami syukuri, turun kembali ke Pos V tidak disertakan hujan.

Pendakian Gunung Slamet ini membuka mata lahir dan batin untuk bersyukur atas lukisan yang begitu indah, masa muda berwarna, dengan menikmati setiap momen ciptaan Yang Maha Kuasa, Alhamdulillah.

Terima Kasih

Allah SWT.

Mama papa dan keluarga yang memberikan izin mendaki.

Teman-teman pendaki: Acied, Resha, Doddy, Ajie, Mbot, Peking, Eko. You Rock All!

IMG_6090 IMG_6020 IMG_6108