Archive | June, 2013

[Tutorial #35] Lazy Style!

21 Jun

Assalamuaikum..

Lucu mendengar judulnya, Lazy Style (read : Malas).

Sama seperti muslimah kebanyakan, terkadang saya juga malas untuk menggunakan jilabab yang stylist dengan bentuk-bentuk unik. saat itu pasti saya hanya mengenakan jilbab paris, tanpa inner, dan hanya ingin mengenakan satu peniti saja.

Namun ternyata hal ini tetap bisa dilakukan dengan style yang berbeda loh.

as simple as move your peniti ke bagian kanan atau kiri and get the different look of your (fav-paris segitiga-peniti-di bawah dagu) style!

Ternyata dengan menempatkan peniti tidak dibawha dagu bisa mendapatkan tampilan bedamu yang teteap stylish, walau saat malas melanda.

Silakan mencoba ūüôā

Dress and Hijab for your Special Moment!

21 Jun

Assalamualikum..

IMG_0600

IMG_0736

 

IMG_0792

IMG_0812

IMG_0841

IMG_0866

IMG_0872

 

 

 

Dress : Ayu Andari Couture by Ayu Dyah Andari

Shawl : Cahya Shawl by Cahya Meythasari

Accessories  : Titis and Ayu Dyah Andari

Make up : Luna

Photographer : Pencet Shutter by Rizal

Model : Cahya Meythasari and Nada Indah Puspita

Store : La Moie , FX Sudirman 4th Floor, Jakarta

Cinta Dari Wamena: Cinta yang Bisa Menyembuhkan Segalanya

21 Jun

426497_319019731479989_1177078444_n

WHAT?

HIV/Aids, merinding rasanya setiap dengar nama penyakit itu. Rasanya HIV/Aids sampai saat ini masih menjadi jenis penyakit mematikan nomor wahid (read: satu) di dunia. Bahkan World Health Organization (WHO) mengklaim saat ini ada 34 juta orang hidup dengan HIV/Aids (astagfirullah). Itu yang terdata, bagaimana yang di pelosok? Wallahualam..

OBATNYA?

Kita semua tahu, Obat HIV/Aids belum kunjung ditemukan. Ini juga bisa jadi penyebab jumlahnya itu bukan berkurang, malah meningkat. Kalaupun ada saat ini hanya sebatas mencegah virus HIV/Aids untuk berkembang biak dalam tubuh manusia, namanya Antiretrovival Therapy (ART) yang bisa membuat manusia bisa bertahan lebih lama dan dapat terlindung dari infeksi lain. Tapi data WHO bilang, cum 54% penderita HIV/Aids yang memiliki akses terhadap ART, sisanya?

PENYEBABNYA?

Kehidupan seks bebas, jarum suntik narkoba, dan tattoo pinggir jalan yang gak tahu pasti steril atau gak nya adalah sekian dari penyebab tertularnya virus ini. Tapi yang pasti menurut Yayasan HIV/Aids Indonesia, bersentuhan secara fisik (bersalaman atau berpelukan), gigitan nyamuk / serangga, pemakaian fasilitas umum bersama (kolam renang, WC umum) dan terkena bersin dari penderita HIV/Aids TIDAK AKAN menyebabkan penularan dari virus HIV/Aids. Gak kayak flu burung, HIV/Aids tidak bisa menular melalui udara. So, jangan jauhi penderitanya, tapi virusnya!

MORE INFO?

Gak harus jadi dokter kok untuk tahu banyak soal virus ini. Cinta Dari Wamena, sebuah film edukasi yang disutradarai oleh Lasja F. Susatyo, khusus untuk mengenal lebih jauh bagaimana virus HIV/Aids bekerja. Di mana warga Papua yang mayoritas buta huruf, dirasa masih kurang edukasi tentang HIV/Aids jika hanya melalui media brosur dll.

FILM CINTA DARI WAMENA

Sabtu, 15 Jun 2013

Saya seneng luar biasa waktu dapat invitation nonton bareng penayangan perdana film ini. Sempat baca sinopsisnya dan excited banget mau nonton. Sleian jadi tahu banyak tentang HIV Aids dan penanggulangan serrta pencegahanya, shoot pemandangan indah Papua menjadi obat rindu dengan alam. Huaa! kalau kamu suka travelling pasti suka banget.

 01

Trailer Cinta Dari Wamena:

Cerita singkatnya, ada 3 sahabat: Litius (Maximus Itlay), Tembi (Benyamin Lagowan) dan Martha (Madonna Marrey) ingin melanjutkan pendidikan ke kota Wamena, karena di sana bisa bersekolah gratis. Mereka mempunyai mimpi untuk menjadi orang besar nantinya, bisa membanggakan suku dan masyarakat Papua. Akan tetapi gaya hidup bebas di Wamena membuat salah satu diantara mereka terinfeksi virus HIV/Aids, hal ini cukup menantang mimpi dan persahabatan mereka.

Filmnya gak monoton, lucu khas lawakan Papua meghidupkan suasana waktu nonton di bioskop, kayak bukan film edukasi. Akting pemainnya juga natural, gak dibuat-buat. Dan yang paling keren adalah pemandangan alam Wamena yang diapit oleh pegunungan Jayawijaya, diekspos habis-habisan di layar bioskop. Jadi kayak ada di dalamnya, menghirup udara segar khas pegunungan sebelum kita benar-benar bisa terbang ke sana. Buat yang hobi traveling atau backpacking pasti jatuh cinta!

Satu hal plus lain dari film ini, sebagian keuntungan dari penayangan film Cinta Dari Wamena di bioskop, akan didonasikan untuk penanggulangan korban HIV/Aids di daerah Papua, khsusunya Wamena.

Masukin deh ini ke daftar nonton di pekan ini. Kapan lagi bisa nonton sambil sedekah? YUK!

HIV/Aids memang belum ditemukan obatnya, tapi CINTA bisa menyembuhkan segalanya. Cinta dari kita adalah obat yang paling ampuh untuk memberikan keyakinan bagi Orang Dengan HIV/Aids (ODHA) agar bisa hidup lebih lama.

Cinta Dari Wamena di Twitter: @cintawamena

Fanspage facebook Cinta Dari Wamena: Cinta Wamena

Website: http://www.cintadariwamena.com/

Data WHO: http://www.who.int/hiv/en/

My First Summit Puncak : Pendakian Gunung Slamet

13 Jun

Gunung Slamet (3.428 mdpl) adalah gunung berapi yang terdapat di Pulau Jawa. Gunung ini berada di perbatasan Kabupaten brebes, Banyumas, Purbalingga, Tegal, Pemallang, Provinsi Jawa Tengah, dan merupakan yang tertinggi di Jawa Tengah serta kedua tertinggi di Pulau Jaya. Empat kawah yang berada di puncaknya semuanya masih aktif.

Pendakian Gunung Slamet dikenal cukup sulit karena hampir di sepanjang rute pendakian tidak ditemukan air. Pendaki disarankan untuk membawa persediaan air yang cukup dari bawah. Faktor penyulit lain adalah kabut. Kabut di Gunung Slamet sangat mudah berubah-ubah dan pekat.

Kamis, 28 Maret 2013

Seperti biasa, saya bergegas pulang kantor tepat waktu demi mengejar bus Jakarta-Purwokerto via Terminal Lebak Bulus bersama 2 orang teman saya, 5 orang lainnya sudah menunggu di Purwokerto.

Karena itu long weekend, gak mudah mendapatkan bus menuju purwokerto. Terlebih kereta, sudah sold out sejak sebulan lalunya. Sehingga sekitar pukul 9 malam baru dapat bus cadangan yang ‚Äúseadanya‚ÄĚ. Alhamdulillah, kami jadi tetap berangkat.

Di luar dugaan kami, ternyata macet terjadi di sepanjang jalur perjalanan sejak masuk tol Jakarta sampai dengan Purwokerto via Pantura. Melenceng dari estimasi, kami yang seharusnya tiba di Purwokerto pukul 4 pagi, malah sampai sana pukul 12 siang, tanpa berenti di rest area sekalipun. (Wow, eksten 8 jam!)

Tiba di terminal Purwokerto, kami melanjutkan perjalanan dengan angkutan kota menuju Purbalingga untuk berjumpa dengan 5 orang lainnya. Makan (malam,pagi, dan siang) dijadikan 1 waktu karena macet tersebut. Hihi. (Ssttt, jangan kasih tahu mama ya). Setelah beristirahat sejenak, makan, shalat dan melakukan packing ulang, kami melanjutkan perjalanan pukul 16.00 WIB.

Gn. Slamet dapat didaki melalu tiga jalur, lewat jalur sebelah Barat Kaliwadas, lewat jalur sebelah selatan Batu Raden dan lewat jalur sebelah timur Bambangan. Dari ketiga jalur tersebut yang terdekat adalah lewat Bambangan, selain pemandangannya indah juga banyaknya kera liar yang dapat ditemui dalam perjalanan menuju ke puncak slamet.

Akhirnya kami mengambil jalur Bambangan. Untuk tiba di Basecamp Bambangan, dari Purbalingga menuju Pertigaan Serayu dengan menggunakan bus 6000 rupiah. Setelah itu dilanjutkan dengan mobil carry menuju Basecamp Bambangan, selama 60 menit dengan biaya 13.000 rupiah. Untuk retribusi pendakian kita wajib membayar 5000 rupiah.

Kami tiba di basecamp pada malam hari. Karena menunggu hujan mereda, memulai pendakian pukul 22.00 (malam hari). Sehingga tidak nampak pemandangan selama pendakian, selain siluet dari pepohonan dan ditemani bulan purnama yan membulat sempurna dengan cantik. Selain tidak terlihat view pemandangan dengan jelas, perjalanan malam juga lebih melelahkan dibandingkan pagi hari. Hal ini dikarenakan oksigen yang dibutuhkan pendaki pun dibutuhkan pepohonan dan tanaman lain di hutan, sehingga sesekali nafas terasa sesak dan membutuhkan istirahat beberapa kali. Namun enaknya pendakian malam adalah, tidak tersengat sinar matahari.

IMG_5851 

 

Setelah menyusuri ladang penduduk dan barisan Pohon Pinus kami tiba di Pos I (Pondok Gembirung) dengan ketinggian 2220 mdpl. Malam itu pendakian kami ditemani rintik hujan yang tidak deras namun cukup membuat basah. Pos ini cukup luas, dan sering digunakan pendaki untuk membangun tenda, karena pos dengan pondokan seperti ini hanya ada di Pos I, V dan VII. Namun kami tidak bisa membangun tenda di Pos I, karena di area tersebut sudah penuh dengan tenda pendaki lain. Kamipun melanjutkan perjalanan.

Perjalanan dari Pos I menuju Pos II membutuhkan waktu 1 jam 30 menit dengan jalur pendakian yang panjang dan mulai vertikal, vegetasi khas hutan tropis membuat suasana menjadi lembab dan hanya sedikit cahaya matahari yang masuk dari celah-celah pepohonan. Pos II (Pondok Walang) ini ditandai dengan lahan yang cukup luas untuk 3-4 tenda kapasitas 5 orang. Jam sudah menunjukkan pukul 01.00 WIB, lelah dan kantuk mendera dan mengharuskan kami untuk membuka tenda di area tersebut.

Keesokan harinya, menyiapkan sarapan pagi untuk kemudian melannjtkan kembali perjalanan yang masih sangat panjang.

IMG_5858

Ini dia sang koki, Ajie. Masakannya dijamin Yummy! Kali ini saya tidak masak, karena sang koki ini biasa turun tangan ketika naik gunung.

IMG_5855

Tara sarapan pagi istimewa jadi, kami makan ditemani hujan yang terus gemericik.

IMG_5881

Setelah sarapan dan menunggu hujan mereda, kamipun segera packing kembali dan melanjutkan perjalanan. Sekitar 50 menit, tibalah kami di Pos III (Pos Cemara) pada ketinggian 2465 mdpl. Di pos ini juga cukup untuk membangun 2-3 tenda kapasitas 5 orang, namun setelah dirasa fisik serta keadaan lingkungan mendukung dan target kami adalah summit attack, maka kami melanjutkan pendakian ke pos berikutnya.

Kemudian tibalah kami di Pos IV (Samarantu) setelah menempuh perjalanan sekitar 40 menit. Namun kabarnya ini adalah pos yang sangat tidak direkomendasikan untuk bermalam, karena berdasarkan cerita lokal yang beredar, daerah ini merupakan tempat paling angker dari seluruh tempat di Jalur Pendakian Gunung Slamet via Bambangan. Samarantu berasal dari kata ‚Äėsamar‚Äô dan ‚Äėhantu‚Äô yang berarti ‚Äėhantu yang tidak terlihat‚Äô. Meskipun demikian pos ini dapat menampung 3-4 tenda kapasitas 5 orang, sehingga jika fisik dan cuaca sudah tidak memungkinkan, pendaki masih dapat camp di sini (hitung-hitung uji nyali ya cin!). Dari sini perjalanan mulai kering karena hutan mati sisa kebakaran masih terlihat gersang sampai pos VII. Tapi apa daya, karena hujan masih mengguyur dengan derasnya, kami tidak bisa mengeluarkan camera untuk mengabadikan beberapa tempat ini, gak kepeleset aja udah Alhamdulillah (saya jagoan kepeleset saat itu).

Dari pos IV menuju pos V (Pos Air), senang luar biasa karena target kami memang camp di pos ini yang memiliki sumber air, dingin karena baju dan celana yang kami kenakan sudah kuyup (walaupun sudah pakai jas hujan). Perjalanan dari pos IV menuju pos V memakan waktu 25 menit. Jarak mata air tidak begitu jauh, dengan berjalan ke turun ke kiri selama 5 menit. Kita harus naik ke arah batu licin berlumut sampai menemukan pipa aliran air, karena air ini yang lebih bersih dibandingkan yang mengalir di bebatuan.

Hari mulai menggelap, kabut mulai menebal, dan hujan masih juga gemericik, sehingga kami memutuskan untuk camp kembali di pos V sebelum summit puncak esok dini hari. Setelah makan malam kami memutuskan untuk segera beristihat.

IMG_5906IMG_5924

Pukul 03.00 WIB

Udara diatas ketinggian gunung tidak dapat di deskripsikan dengan kata-kata. (bangetttt). Dingin yang menusuk yang membuatkan kami menggunakan jaket tebal, dengan luaran jas hujan, karena cuaca masih tidak menentu.

Di pos VI kami hanya sedikit berhenti, karena berdasarkan catatan pos VII tidak jauh lagi. Dari pos VII menuju pos VIII kita dihadapkan pada jalur sempit vertikal. Batas Vegetasi menjadi pertanda dimulainya pendakian yang sebenarnya. Jalur pendakian yang terjal berbatu ini rentan menimbulkan bahaya, selain terpeleset dari jalur, bebatuan yang mudah jatuh ini dapat menimpa pendaki lain kalau kita berjalan tanpa hati-hati.

Tapi view inilah pengobat segala lelah dan dingin.

IMG_5944

Hari mulai pagi dan kami mengejar untuk mendapatkan sunrise di puncak.

IMG_5973IMG_5974

SUMMIT ATTACK!

BHK02G6CcAAaiOD

IMG_6111IMG_6065 IMG_6057 IMG_6082

Karena sejak memulai Summit Attack kami tidak makan, otomatis hal ini menjadi alarm untuk cepat turun dari Puncak. Akhirnya kami hanya menikmati biskuit dan nata de coco di pinggiran puncak, lalu memutuskan untuk turun, karena melihat jalur pendakian yang semakin ramai para pendaki yang akan naik menuju puncak.

Setelah semua kenyang, kami pun turun dengan berlari dan nyerosot, karena jalurnya masih berpasir sehingga tidak mudah pula untuk turun. Namun yang lebih lagi kami syukuri, turun kembali ke Pos V tidak disertakan hujan.

Pendakian Gunung Slamet ini membuka mata lahir dan batin untuk bersyukur atas lukisan yang begitu indah, masa muda berwarna, dengan menikmati setiap momen ciptaan Yang Maha Kuasa, Alhamdulillah.

Terima Kasih

Allah SWT.

Mama papa dan keluarga yang memberikan izin mendaki.

Teman-teman pendaki: Acied, Resha, Doddy, Ajie, Mbot, Peking, Eko. You Rock All!

IMG_6090 IMG_6020 IMG_6108

Vote Me for YCPA 2013, yuk!

7 Jun

Assalamualaikum..

Vote me on YOUNG CARING PROFESSIONAL AWARDS 2013, yuk!

Dua langkah mudah:

Langkah 1 : https://www.facebook.com/caringcolours.ycpa

Langkah 2 : https://apps.facebook.com/caringcolor/

Klik THE FINALIST > HALAMAN 2 > MY PHOTO> VOTES!

cahya

Apa itu YCPA?

Young Caring Professional Award (YCPA) yang sudah terbentuk sejak 2010. For your info, YCPA itu sebuah bukti atas komitmen Caring Colours Martha Tilaar untuk mempercantik wanita Indonesia. Ajang ini bukan hanya didedikasikan untuk kesempurnaan penampilan saja, tetapi juga pada keinginan dan mimpi para pesertanya, baik untuk menjadi pekerja professional ataupun entrepreneur.

Syukron.. ¬†ūüôā

Disponsori oleh Caring Colours & Samsung Mobile

[Tutorial #34] “All Kind of Shawl” Style!

4 Jun

Assalamualaikum..

photo (2)

Ini dia salah satu favorit dari styleku saat ini. Beberapa teman sering menanyakan hal yang sama, yaitu ‚Äúkalau naku banyak punya bahan A atau B atau C sebaiknya mengguakan model yang mana?‚ÄĚ Dan style yang kali ini lah jawabannya. Apapun bahan yang hijab (shawl) yang kamu punya, baik itu ceruti, sifon, kaos, hicon, double hicon, pashmina, atau satin (Cahya‚Äôs) sekalipun, kamu bisa banget untuk terapkan model ini.

Style ini juga menjadi kabar gembira untuk kamu yang berpipi chubby seperti saya. Hihi. Terlebih sangat cocok untuk berbagai occasion. Bahkan saya sering menggunakan ini untuk ke kantor.

Caranya mudah dan simple. Yuk..

all kind of shawl

 

Keterangan :

1. Letakkan shawl di kepala lengkap dengan inner (tidak perlu ninja, namun ninja akan membuat rambut kamu lebih rapi), dengan posisi shawl sebelah kiri lebih pendek dari sebelah kanan.

2, 3, dan 4. Ambil bagian pinggir kiri, letakkan di atas telinga sebelah kanan.

5 dan 6. Ambil dari tengah (seperti di gambar 5), dan bawa ke kanan, dibelakang sematan jarum yang sebelumnya. Hal ini untuk menjaga rambut bagian belakangmu terlihat.

7, 8, dan 9. Ambil bagian kanan, putarkan ke belakang, sisanya masukkan ke belakang baju.

 

Catatan tambahan : Jika diperlukan, jika telah selesai melakukan 9 step di atas, untuk beberapa bahan seperti satin dan sifon, perlu untuk di sematkan jarum di atas kepala dan  belakang telinga (luar), dan pundak kiri agar tatanan tidak berubah sepanjang hari.

 

Taraa!

 

Silahkan mencoba.. J