Tag Archives: cahya meythasari

Main ke Rumah Nini Pelet: Gunung Ciremai 3.078 MDPL

19 Nov

El Nino adalah gejala penyimpangan pada suhu permukaan Samudra Pasifik di pantai barat Ekuador dan Peru yang lebih tinggi daripada rata-rata normalnya. Wuih berat ya bahasanya!

Yang pasti El nino dapat mempengaruhi iklim dunia selama lebih dari satu tahun. Biasanya terjadi setiap tiga sampai tujuh tahun, sebelumnya terjadi di tahun 1997, di mana kasus kebakaran hutan di Indonesia menjadi perhatian internasional karena asapnya menyebar ke negara-negara tetangga.

Kebakaran hutan memang bukan disebabkan oleh fenomena el-nino secara langsung. Namun kondisi udara kering dan sedikitnya curah hujan telah membuat api menjadi mudah berkobar dan merambat dan juga sulit dikendalikan.

Dan hal itu terulang kembali, September-Oktober 2015 adalah puncak periode el nino yang selanjutnya. Wilayah Sumatera dan Kalimantan telah tertutup asap, bahkan tidak sedikit gunung yang terbakar hampir merata di seluruh Wilayah Indonesia dan memakan sejumlah korban jiwa seperti kasus kebakaran dengan 7 korban jiwa pendaki di Gunung Lawu. Kita doakan bersama agar kondisi kembali pulih dan yang meninggal di terima di sisi-Nya. Aamiin.

Hal ini menjadi peringatan bagi saya pribadi untuk tidak melakukan kegiatan pendakian dahulu sampai kondisi cuaca normal kembali. Tetapi tidak ada salahnya membagikan pengalaman pendakian saya yang terakhir kali di pertengahan tahun ini ke gunung tertinggi di Jawa Barat atau biasa disebut atap Jawa Barat, yaitu Gunung Ciremai.

C360_2015-07-30-10-08-44-635[1]

Gunung Ciremai (3078 MDPL) ada yang menyebut Cerme atau Ceremai) terletak dalam wilayah tiga kabupaten, yakni Cirebon, Kuningan dan Majalengka, Provinsi Jawa Barat. Gunung ini memiliki kawah ganda. Kawah barat yang beradius 400 m terpotong oleh kawah timur yang beradius 600 m. Pada ketinggian sekitar 2.900 m dpl di lereng selatan terdapat bekas titik letusan yang dinamakan Gowa Walet.

Perlu diketahui, dari semua gunung yang ada di tanah Jawa hanya Gunung Ciremai-lah yang start pendakiannya dimulai dari ketinggian 750 mdpl (berarti sisa perjalanan menuju puncak Ciremai sekitar 2.350 meter garis vertical. Huf!) . Jalur dakinya tidak ada jalan datar, 90 persen berjalur terjal dan sudut kemiringannya antara 70 sampai 80 derajat, sehingga waktu tempuh pendaki sampai di puncak dibutuhkan sekitar 12-16 jam (sesuai dengan keuatan pendaki tersebut) tanpa sumber air yang cukup.

Sebenarnya sudah berkali-kali saya berencana untuk ke gunung ini, tetapi setiap mau naik ada saja cerita-cerita miring dari kerabat terdekat yang memang pendaki. Seperti cerita dari Sendy (teman pendaki) yang bilang sempat papasan sama macan kumbang di sana, atau mitos-mitos tidak boleh buang hajat langsung ke tanah (aduh, saya beser-an banget anaknya), yang buat saya lagi-lagi batal untuk berangkat ke sana.

Pernah nonton “Misteri Gunung Merapi” yang pemerannya “Nini Pelet”? Cerita itu tepat berasal dari Gunung Ciremai. Bahkan prasasti presejarah berupa batu besar berbentuk peti mati berumur sekitar 3.000 tahun sebelum masehi juga ditemukan di kawasan ini. Para ahli peneliti sepakat bila wilayah Kuningan Gunung Ciremai merupakan tempat bermukim manusia tua usia.

Cerita tetaplah cerita, namun takdir dan tekad akhirnya tetap membawa saya untuk mendaki Gunung Ciremai pada waktunya.

Hari ke-tiga Lebaran tahun ini, yang sebenarnya sudah dalam beberapa periode terakhir keluarga saya memutuskan untuk tidak mudik karena mayoritas keluarga sudah ada di Jakarta. Alih-alih menghindari kemacetan arus mudik Lebaran, saya dan ketiga teman saya (dua diantaranya admin @infopendaki dan @backpackerlover) berangkat menuju Ciremai, Kuningan Jawa Barat via Palutungan pada malam hari. Rencana akan tiba di Kuningan mendekati Subuh dan sempat beristirahat sejenak.

Setelah lama menunggu, akhirnya kami naik bus tujuan Kuningan dengan tarif Rp 100.000 dan memulai perjalanan ini. Ya! Saya ini genk Antimo, jadi sesaat setelah naik pastikan untuk meminumnya, karena kebayang bagaimana cara supir antar kota ini membawa kendaraannya, aksi di film Batman waktu kejar-kejaran sama musuh juga lewat!

IMG-20151027-WA0019[1]

Tidak disangka di dalam bus kami bertemu 4 orang lain yang akan berangkat dengan tujuan yang sama dan bergabung menjadi satu rombongan dengan kami (salah satunya adalah admin @trackmountain).

Tibalah kami di Kuningan sesuai rencana, yang ternyata kami sempatkan untuk beristirahat sejenak di rumah rekan kami dan bertemu dengan 4 orang lainnya yang akan ikut perjalanan ini (dua diantaranya admin @infociremai dan ex-admin @jelangkung_indo).

Total 12 orang dalam 1 rombongan pendakian bukanlah termasuk rombongan kecil. Terlebih di dalamnya ada 5 admin hits yang paham banget soal pendakian). Saat ini difikiran saya hanya ada dua kemungkinan, mungkin saya akan santai dan aman karena mereka paham betul dengan medannya atau kemungkinan kedua saya akan sangat kelelahan karena harus memacu fisik-mental agar mampu mengimbangi pakar-pakar pendakian itu). Ya maklum saja, saya masih pemula.

Setelah Sholat Subuh, kami melakukan packing ulang dan dengan bismillah kami memulai pendakian melalui Pos Palutungan dengan melakuan pendaftaran dan membayar biaya administratif Rp. 50.000/orang (harga naik per Apr 2015).

CAMERA

Basecamp – Pos 1 Cigowong (2,5 jam) 1450 mdpl

Trek di awal perjalanan didominasi dengan trek menanjak dan menyusuri lembah naik turun (gak perlu sambil nyanyi Ninja Hatori waktu bacanya ya). Ini adalah jarak pos terlama dibandingkan pos-pos lainnya, jadi cukup wajar jika merasa agak lelah di awal pendakian.
Beberapa jam pertama menjadi awal dari proses yang sangat penting, dari adaptasi langkah kaki, adaptasi dengan beban berat di pundak, adaptasi bernafas, sampai adaptasi dengan sifat dan karakter teman satu team, terlebih untuk yang baru saja bertemu pada saat itu.
Di pos 1 atau Cigowong dengan lahan yang cukup luas dan datar dengan dikelilingi pepohonan besar inilah satu-satunya sumber air yang memadai di Gunung Ciremai. Makin banyak jumlah orang makin banyak pula jumlah air yang harus di bawa. Minimal 2 botol x 1,5 liter air untuk masing-masing orang. Dan ternyata tidak ada pengecualian untuk pendaki wanita bin lemah letih lesu letoy seperti saya! (melirik pedas team lainnya. Hahaha). Tetapi cukup senang, dengan begitu saya merasa tidak dianggap sebagai pihak yang lemah-lemat banget ataupun beban buat mereka (ya walaupun agak ya.)

Pos 1 – Pos 2 Kuta (45 menit) 1575 mdpl

CAMERA

Setelah perjalanan 30 menit tibalah kami di Kuta (bukan Kuta Bali atau Lombok ya), dengan trek menanjak dan beban yang semakin berat jadi tetap terasa melelahkan.

Pada pos 2 ini saya sudah mulai merasakan ritme pendakian bersama pakar-pakar ini. Misal, seperti istirahat yang tidak bisa terlalu sering atau lama dan minum yang dijatah.

Tapi saya rasakan team yang sangat solid, ada petugas yang bikin ketawa, ada petugas yang jatahin air, ada petugas timekeeper biar gak lama-lama istirahatnya, dll. Bahkan saya sempat mendengar mereka sudah menyusun timeframe waktu sampai tiba di tempat camp nanti. Wow!

Pos 2 – Pos 3 Pangguyangan Badak (1 jam) 1800 mdpl

Penasaran sama namanya, kirain beneran ada badak dan ternyata gak, lagian ini bukan habitatnya juga (fyi, habitat badak adalah hutan hujan dataran rendah, padang rumput basah dan daerah daratan banjir besar.) Skip skip jadi bahas badak.

IMG-20151027-WA0026

Trek dari Pos 2 menuju Pos 3 Pangguyangan Badak melewati jalan yang lumayan landai namun memutar. Setelah beristirahat, makan siang bersama, dan menunaikan Zuhur berjamaah kami melanjutkan perjalanan. (Maaf ya Ujang, bukannya pelit gak mau pinjemin mukena, tapi kata mama cowok gak boleh pake, hihihi).

Pos 3 – Pos 4 Arban (1,5 jam) 2050 mdpl

Pendakian menuju Pos Arban termasuk perjalanan yang cukup melelahkan karena sebagian besar didominasi trek menanjak. Kalau bikin FTV, ini judulnya “jalan tak berujung”. Di sinilah sebenarnya tenaga fisik dan mental terkuras hampir habis. Di sinilah mulai terlihat pudar wajah-wajah yang sejak tadi ceria dan penuh canda. Di sinilah mulai terlihat kami sangat kelelahan.

Dan entah mengapa sang admin @infociremai berpesan untuk menjaga perkataan kami di pos ini. Ssstt! Jadi merinding.

Pos 4 – Pos 5 Tanjakan Asoy (45 menit) 2108 mdpl

Dengan kondisi yang sudah sangat lelah dan dahaga, rasanya mendengar nama tujuan pos nya saja sudah sangat melelahkan, ya Pos Tanjakan Asoy. Sudah terbayang pasti tanjakannya akan seperti apa.

Dengan langkah yang lebih perlahan dan berat dari sebelumnya, setapak demi setapak kami lewati. Dan atas kondisi tersebut, kami putuskan untuk segera mencari tempat untuk membangun tenda sebelum gelap, sehingga kami bisa menunaikan sholat dan menyiapkan makanan untuk makan malam.

Camping Time!

Tak lama kemudian, kami mendapati tempat yang cukup bagus untuk membangun 4 tenda. Setelah perut terisi, sesi curhat di mulai. Saya bertugas menjadi pendengar dan inilah awal mula mereka memanggil saya “emak”. (Ah kesannya tua banget!)

Mata sudah sangat kantuk, tetapi mereka mengingatkan untuk tidak tidur di bawah jam 10 malam, karena nanti akan terbangun jam 1 malam dan merasa sangat menggigil setelahnya. Terlebih sudah masuk musim kemarau, suhu malam di gunung akan lebih dingin dari biasanya. Baiklah, sambil dengerin yang lagi pada galau, emak pun mendengarkan dengan seksama.

Pos 5 – Pos 6 Pasanggrahan (1 jam) 2200 mdpl

Subuh tiba, kami bergegas bangun dan mempersiapkan segala sesuatu untuk saat-saat yang kami nantikan, apalagi kalau bukan MUNCAK!

IMG-20151027-WA0041[1]

Melihat kondisi badan, jarak tempuh yang masih cukup jauh ke puncak, dan juga karena ini bukan pendakian Ceremai pertama sebagian besar dari mereka (apalagi admin @backpackerlover yang bahkan rela jaga tenda dan gak ikut muncak. Salut!), sepertinya kami tidak memaksakan untuk mengejar sunrise di puncak. Setelah memasak dan sarapan pagi, kami bersiap menuju pos berikutnya.
Sejak pos terakhir kemarin, dominasi trek masih tanjakan-tanjakan liar, sehingga perlu ekstra waspada agar tidak salah melangkah.

Pos 6 – Pos 7 Sanghyang Ropoh (1 jam) 2650 mdpl

IMG-20151027-WA0038[1]

Selain trek yang terus menanjak ekstrim yang didominasi oleh bebatuan dan bekas lava, pasir kemarau dan panas terik mulai menguras tenaga kami. Sehingga wajib untuk menggunakan buff (penutup mulut/muka). Namun dengan keinginan untuk segera tiba di puncak tidak menyurutkan semangat untuk tetap bergerak.

Pada Pos Sanghyang Ropoh akan menjumpai percabangan “Simpang Apuy”, yaitu percabangan antara jalur Apuy dari Majalengka dan jalur Palutungan Kuningan. Menuju pos Sanghyang Ropoh kita akan memasuki Vegetasi Cantigi dan Edelweiss, tapi sayangnya sedang tidak musim berbunga, sehingga kita cukup puas disajikan hamparannya saja sepanjang mata memandang.

Pos 7 – Pos 8 Goa Walet (1 jam)

Sebenarnya ini Pos yang sangat diminati pendaki untuk mendirikan tenda, karena cukup luas untuk menampung sampai dengan 10 tenda dan ada sumber air yang cukup pada saat musim penghujan.
Kami beristirahat sejenak dan melanjutkan perjalanan ke pos terakhir, PUNCAK!

Pos 8 – Puncak Ciremai (30 menit)

Setelah 30 menit pendakian dari Pos Goa Walet, tibalah kami di Puncak Gunung Ciremai. Canda tawa dan rasa syukur kami panjatkan setiba kami di sana. Sungguh pemandangan yang sungguh jauh lebih indah dari ekspektasi saya.

C360_2015-07-21-13-17-58-158[1]

CAMERA

CAMERA

Ini adalah pendakian musim kemarau pertama saya, setelah sebelumnya entah mengapa saya selalu melakukan pendakian di musim penghujan yang lebih melelahkan lagi. Selain lebih aman dan nyaman, view yang terjadi terlihat jelas tanpa tertutup awan dan kabut, menjadi lebih indah. Masya Allah!

IMG-20151027-WA0008[1]

Setelah puas berfoto, kami masak dan makan makanan seadanya untuk mengisi kekosongan perut dan bergegas turun. Jam menunjukkan tengah hari, dan sangat terik.
Setelah tiba di tenda, kami sempatkan untuk makan siang, menunaikan sholat, dan segera turun melalui jalur Palutungan kembali. Target kami (target mereka maksudnya, hihi) adalah 4-6 jam agar segera tiba di perkampungan kembali, sebelum matahari gelap dan itupun dengan berlari kecil. Baiklah, bismillah!
Maghrib-pun tiba, tetapi kami belum tiba di perkampungan, sedikit lagi. Tetapi kami harus taat peraturan, ini mitos ataupun bukan, tetapi rekan kami mengingatkan untuk berhenti saat azan maghrib berkumandang (penting!). Setelah azan selesai, kami bergegas untuk segera kembali ke Pos Palutungan. Dan inilah yang menjadi akhir dari perjalanan kami.

IMG_20151009_174731[1]

Puncak Ciremai – Pos Palutungan (5 jam)

Terkadang, kita selalu dipertemukan dengan orang lain, misalnya saat di antrian busway, saat lari di Senayan, saat ke mall, saat makan atau minum di café dan sebagainya. Namun, pernahkah kalian bertemu dan bersama orang baru di gunung? Berbeda dengan saat bertemu seseorang di tempat lainnya, bertemu di gunung berarti menikmati saat dimana kami saling menjaga, saat dimana mereka ikut beristirahat kala anggota tim ada yang kelelahan, saat dimana berbagi tugas memasak, mendirikan tenda, atau mengambil air di sumber yang harus berjalan lumayan jauh, atau dimana mereka berusaha membuat semua tertawa disaat lelah dan emosi sudah bercampur-aduk.

Terima kasih Allah atas kesempatan yang diberikan.
Terima kasih mama papa atas izin mendakinya.

CAMERA

Terima kasih team Ciremai yang selalu di hati: Yudi (@backpackerlover), Emon (@infopendaki), Ujang (ex-admin @jelangkung_indo), Eggi (@infociremai), Ogy (partner langganan naik bareng), Tono (Tim sukses galau), Alif (sepupunya Tono yang bilang suara gw mirip Pevita, padahal kan suara gw cempreng), Kevin (@trackmountain), Wasiq (cinlok-an nya Ujang), Rakka dan Rifqi (genk SMA yang selalu bikin gw ketuker manggilnya).

Dan itulah saat dimana saya menyadari, Ya! Ternyata kebersamaan kami yang saling membantu, memberi dorongan semangat, melengkapi inilah yang kami sebut keluarga cemara yang dipertemukan di rumah “Nini Pelet” ini.

Advertisements

Mau Mendaki? Lihat ini!

1 Jul

15

Mendaki gunung memang lagi happening saat ini. Baik laki-laki maupun wanita, atau tua-muda, bahkan ada beberapa yang membawa balita dengan tas carrier yang telah dirancang khusus untuk membawa balita ini.

Tetapi tahukah bahwa mendaki gunung adalah kegiatan petualangan dengan kategori aktivitas olahraga berat, yang artinya kegiatan alam terbuka dan liar ini membutuhkan kondisi fisik yang prima, karena gunung sesungguhnya bukanlah habitat manusia pada umumnya. Hal ini karena banyak bahaya yang bisa saja menghadang, seperti udara yang amat dingin, hembusan angin yang membekukan organ tubuh, curamnya pijakan yang memungkinkan siapa saja dapat tergelinicir jatuh, terlebih kondisi saat hujan (bukannya menakut-nakuti tetapi semua resiko terebut bisa menjadi 2x lipat bahayanya saat hujan, untuk fisik maupun mental).

Hal-hal tersebutlah yang tidak dapat diubah oleh manusia, hanya bisa kita antisipasi sebelum itu semua benar-benar terjadi, maka perlu memperhatikan beberapa dibawah ini:

  1. Mendaki sendiri, teman, atau masal (open trip)?

Sangat tidak direkomendasikan mendaki gunung seorang diri (kecuali didampingi dengan porter/guide jika ada, jika tidak pastikan satu atau dua orang dari kelompok pendakian ada yang paham betul tentang seluk beluk gunung tersebut, rute perjalanan dan lainnya.

Umumnya pendakian yang aman minimal adalah 3 orang dalam satu kelompok, yang nantinya jika ada 1 orang yang terkena musibah 1 orang lainnya bisa turun meminta bantuan dan sisanya menemaninya sampai ada bantuan datang.

  1. Kapan waktu pendakian?

Sangat disarankan untuk melakukan pendakian di musim kemarau, selain jauh lebih nyaman, pendakian saat musim hujan lebih besar resikonya. jalur tracking yang licin dan lebih parahnya lagi dalam kondisi hujan pakaian dan sepatu yang dikenakan basah,  juga saat malam persiapan tenda yang kita pasang harus yakin benar terbebas dari air hujan maupun rembesan bisa terkena hypothermia.

  1. Gunung apa?

Jika tujuan gunung yang ingin didaki sudah didapat, carilah informasi tentang gunung tersebut sebanyak-banyaknya melalui internet, dari jalur pendakian, pengalaman pendaki lain, serta momen atau spot indah yang ada digunung tersebut yang memungkinkan kita menikmati keindahan alamnya lebih lama dan mengabadikannya dalam foto.

  1. Kondisi fisik?

Persiapan fisik adalah yang paling utama, namun hal ini malah yang seringkali diabaikan oleh sebagian pendaki. Bahkan flu adalah salah satu penyakit yang sangat berbahaya jika dibawa mendaki, karena perbedaan tekanan di atas gunung menyebabkan THT (Telinga Hidung Tenggorokan) terganggu, sehingga untuk yang sedang sakit diseputaran daerah ini akan sangat berbahaya, salah-salah akan menyebabkan gangguan pendengaran dll.

Kondisi sakit juga kebanyakan hanya menyusahkan teman pendakian yang lain, yang harus rela menunggu di banyak perhentian jalannya. Padahal jika melakukan persiapan fisik sebelumnya akan terasa sangat menyenangkan mendaki gunung. Persiapan fisik dilakukan 2 bulan sebelum pendakian dengan berolahraga, misalnya lari rutin minimal seminggu 2 kali.

  1. Pemimpin Perjalanan?

Tunjuklah seorang pemimpin yang paling berpengalaman dan bijak dalam membuat keputusan. Sebuah perjalanan yang dipimpin oleh seseorang akan jauh lebih teratur, aman, dan nyaman.

  1. List barang bawaan?

Berikut adalah list barang bawaan wajib dan pastikan tidak ada yang tertinggal jika ingin pendakian anda aman dan nyaman.

Perlengkapan pribadi:

  • Tas carrier
  • Sepatu gunung
  • Jaket gunung dan baju
  • Celana gunung (bukan jeans; karena akan sangat berat ketika sudah menyerap keringat atau dalam kondisi basah terkena hujan)
  • Senter atau head lamp
  • Sarung tangan dan Kaos kaki
  • Jas hujan atau ponco
  • Matras
  • Sleeping bag
  • Sunblock, lipbalm (tidak wajib)
  • Tracking Pole
  • Obat-obatan : Obat diare, paracetamol, betadine atau obat merah, obat magg, tolakangin dll
  • Makanan, camilan perjalanan (coklat, gula merah, atau biskuit) dan minuman

Perlengkapan Kelompok:

  • Tenda
  • Trash bag
  • Nasting dan kompor + gas

Heaven on Earth: Gunung Rinjani 3726 MDPL

8 Feb

Indonesia – Semua hal di sini punya nilai dan cerita, bahkan disisipi beberapa mitos di dalamnya. Seperti Gunung Rinjani dengan ketinggian 3.726 mdpl (yang mendominasi sebagian besar luas Pulau Lombok) merupakan gunung tertinggi ke dua di Indonesia (di luar pegunungan Irian Jaya), pun memiliki cerita di balik keindahannya.

20edit

Konon, di Lombok ada seorang putri raja yang cantik jelita yang bernama Dewi Anjani. Namun, di balik kecantikan Dewi Anjani tersimpan misteri, dimana akhirnya sang putri menjadi ratu penguasa makhluk gaib. Berawal dari kekecewaan atas tidak diizinkan oleh sang ayah untuk menikah dengan lelaki pujaan hati, maka Dewi Anjani mengasingkan diri dan bertapa, hingga akhirnya diangkat menjadi penguasa makhluk halus. Ini merupakan satu dari beberapa versi lainnya tentang kisah Dewi Anjani yang konon menguasai Gunung Rinjani.

Paras Sang Dewi Anjani sangat cantik, seperti saat melihat Gunung Rinjani yang digunakan sebagai istananya. Diameternya memiliki kaldera hingga 10 km dan kedalaman kawah -230 m. Begitulah Gunung Rinjani istana Dewi Anjani yang secantik pemiliknya dan menjadi pujaan para pencinta alam bebas untuk datang menjajakinya.

Berbeda dengan perjalanan pendakian saya yang lain. Buat saya Rinjani adalah impian, yang entah akan terwujud atau tidak dan bahkan sempat terkubur dalam. Maka, saat mendengar kabar dari teman akan ke sana, seolah keinginan itu kembali dan saat itu lah saya mulai mempersiapkannya.

Jika ditanya kenapa harus Rinjani si gunung berapi tertinggi kedua? Kenapa bukan Kerinci si nomor 1 tertinggi atau yang lainnya? Saya pun tidak yakin alasannya mengapa.

IMG_4354

Berdiri kokoh di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat, Gunung Rinjani menjadi salah satu kiblat kecantikan di Indonesia. Kecantikan rinjani tak hanya memikat petualang-petualang dari dalam negeri, tetapi banyak orang asing. Bahkan sesekali saya merasa terasing saat mendaki Rinjani, saking banyak orang luar negeri yang menjajakinya.

Walaupun saya sudah bayar include dalam trip, sebagai informasi bahwa per 1 April 2014, harga tiket masuk Gunung Rinjani ini naik. Bagi pengunjung domestik sebesar Rp. 25.000/hari (sebelumnya Rp. 2.500/hari), bagi pengunjung mancanegara dikenakan sebesar Rp. 250.000/hari (sebelumnya Rp.20.000/hari). Hal ini dikarenakan penetapan status Taman Nasional Gunung Rinjani masuk Zona I, yaitu yang paling dimanati.

Hari itu, 26 Desember 2014, menjadi langkah pertama dalam perjalanan ini. Saya dan dua sahabat saya (Fikha dan Yona) bersama sekitar 40 orang dari komunitas Pecel Lele (Pendaki Cepat Lelah Letih Letoy – sebutannya) lainnya ini, kami berangkat dengan bus dengan lama perjalanan 2 hari 2 malam. Berhari-hari duduk di bus dalam perjalanan darat lengkap dengan dua kali penyeberangan antar pulau (Pulau Jawa – Pulau Bali – Pulau Lombok). Kebayang dong pegal dan capeknya perjalanan, tetapi sungguh tidak menurunkan semangat dan keinginan yang sudah terlanjur membara di dalam diri (ngebet! Haha). Perjalanan tidak terlalu membosankan, karena kebetulan saya berangkat bersama team yang super seru!

 

2

Kericuhan di dalam bus

 

3

Kericuhan di atas kapal perjalanan berangkat

 

Ini adalah perjalanan pertama saya ke “Indonesia Bagian Tengah” (selain Kalimantan, karena Kalimantan itu lokasi kebun sawit tempat saya bekerja dan mengharuskan untuk beberapa kali bolak-balik ke sana), terlebih dengan jalur darat yang ternyata tidak “seseram” yang dibayangkan, sungguh kesempatan dan pengalaman yang luar biasa. Alhamdulillah.

28 Desember 2014 dini hari WITA (Waktu Indonesia bagian Tengah), kami tiba di Aikmel, Lombok Timur. Kami beristirahat sejenak dan melepaskan lelah dengan mandi (setelah dua hari libur mandi. Hehe) di Masjid Mujahid, Aikmel.

Pernah dengar soal kabar “jangan pernah ke Lombok sendirian, karena rentan dengan kriminalitas”. Semua sirna sesaat setelah tiba di sini. Kami betul-betul dianggap sebagai musafir, diberikan tempat istirahat, mandi sepuasnya, bahkan pada saat sholat tiba, beberapa jamaah wanita mengundang kami untuk beristirahat di rumah mereka.

49edit

Sedikit tentang Aikmel, sejak pagi hari kami mulai menjajaki pasar dan membeli beberapa keperluan selama pendakian. Berbeda dengan pasar di “Indonesia bagian Barat”, biasanya tinggal bilang “bu, beli sop-sop-an” dengan cekatan ibu penjual sayuran tersebut mencampur-aduk semua sayur dan bahan sop dalam satu plastik. Namun tidak di Aikmel, kita harus membelinya secara terpisah satu persatu sayuran dan kebutuhannya. Kebayang wajah bingung dan mondar-mandirnya kami saat itu.

IMG_4166edit

Satu dari Aikmel yang sangat saya kagumi, sejauh mata memandang saya hampir tidak melihat satupun wanita yang tidak berhijab, besar kecil tua muda baik di dalam pasar atau di jalanan kota, semua berhijab. Maka wajar jika mereka menyebut Lombok sebagai “Pulau Seribu Masjid”. Subhanallah.

Pukul 8.00 WITA, setelah sarapan (dua kali. Hehe), kami melanjutkan perjalanan ke Pos Sembalun menggunakan mobil bak dengan perjalanan yang gerimis berkelok-kelok, menanjak dan menurun yang semuanya sudah kami pasrahkan ke abang supirnya saja (hiks!). Tetapi ini sebanding dengan pemandangan sepanjang perjalanan yang sungguh luar biasa.

1

Setelah beberapa jam kemudian, tibalah di Pos Sembalun. Agak lama di sana, karena niat awal kami ingin menggunakan jasa porter (maklum usia. Hehe). Tetapi ternyata setelah ditunggu beberapa jam, porterpun tetap tidak tersedia. Karena hari itu sedang ada shooting katanya. Alhasil kami bawa tas carriel dan peralatan sendiri (kecuali beberapa logistik yang kami titipkan bersama porter kelompok).

IMG_4417

Di pos Sembalun menunggu kepastian

 

“yang.. hujan turun lagi, di bawah payung hitam ku berteduh”. (malah nyanyi!) Hahahaha

Tak sampai pakai payung hitam juga sih, tetapi cuaca di sana memang sedang tidak begitu bagus. Hujan terus-menerus mengguyur sepanjang perjalanan kami. Mengharuskan kami untuk selalu fokus dan waspada pada langkah kami.

Perjalananpun dimulai, dengan bismillah dan restu dari orang-orang tercinta di rumah, akhirnya kami mulai melakukan pendakian ini. Langkah-langkah awal dirasa lumayan berat, dengan beban yang berat (asal bukan beban hidup dan pikiran ya. Hehe), serta cuaca dingin dan hujan menjadi saat terpenting khususnya buat saya untuk beradaptasi.

Tiga setengah jam kemudian dengan nafas yang sudah Senin-Kamis (read: kelelahan) tibalah di pintu gerbang Taman Nasional Gunung Rinjani. Sekali lagi, baru sampai PINTU GERBANG! Maklum sudah lumayan lama juga tidak naik gunung.

IMG_4289

IMG_4371

Si buta dari Goa Hantu gini bentuknya

 

Setelah berfoto sejenak (penting!Hehe) kami melanjutkan perjalanan ke Pos I memalui jalur padang savana cantik! Buat saya, Rinjani bagaikan dunia lain, karena sejak awal pendakian kami sudah disuguhi padang savana yang eksotis, hutan tropis yang mempesona, serta perbukitan yang luar biasa indah. Ketinggian 1500 MDPL ini adalah awal pendakian, tetapi sudah sangat indah.

a

k

Dua jam kemudian kami tiba di pos 1, tetapi namanya savana, pohon sampai bisa dihitung pakai jari, tidak heran banyak yang menyebut Rinjani sebagai ‘gunung pantai’. Angin padang rumput yang bertiup membuat ilalang melambai seperti jutaan rajutan yang terangkai begitu indah. Eksotisme yang tidak terbantahkan walaupun hujan sesekali mengguyurnya. Hati-hati dengan langkah, bisa jadi kotoran sapi sudah menempel di sepatu kita.

Jam menunjukkan pukul 19:00 WITA, tetapi belum gelap di sana. Tidak sejauh pos sebelumnya, 1,5 jam kemudian kami tiba di POS II. Dan tepat gelap disertai hujan sudah mulai menggangu perjalanan kami. Dengan rencana awal untuk membangun tenda di POS III, akhirnya kami memutuskan untuk membangun tenda di sini. Setelah mendirikan tenda, mengganti dan menjemur pakaian yang basah kehujanan, memasak, dan makan malam bersama, kami memutuskan segera istirahat untuk persiapan tenaga esok hari. Untuk suhu di dalam tenda malam itu, jangan ditanya… dingin!

Pagi hari, saatnya pembagian tugas ada yang memasak, mencuci, membuang hajat (penting!hehe), mengambil air (karena di POS II ini lah ada sumber air yang banyak dan bersih), ada pula yang tinggal makan. Hehe. Setelah selesai makan dan packing tenda, kami segera melanjutkan perjalanan. Ops sial! Jas hujan saya hilang, mungkin terselip di peralatan rekan lainnya. Tetapi perjalanan tetap harus dilanjutkan, dengan berbekal jaket semi-waterproof yang saya kenakan, dengan bismillah kami melangkah.

i

Perjalanan POS III inilah ternyata perjalanan yang ternama dan sering disebut orang tentang tracking Rinjani, ya apalagi selain “Tujuh Bukit Penyesalan” yang mungkin artinya kita merasa terlambat untuk menyesal dengan perjalanan sejauh itu, perjalanan tiada akhir. Saya lebih senang menyebutnya “Tujuh Bukit PHP” berasa sudah sampai ternyata setiap bukit hanya menjanjikan harapan palsu ke puncak (fiuh!pengalaman banget di-PHP kayaknya.hehe). Tidak punya pilihan selain terus bergerak maju bukit demi bukit yang brutal. Tetapi alam sepanjang perjalanan tracking Rinjani tidak berhenti menghibur dan memesona, sensasinya mirip seperti sedang berjalan di film dunia khayal sekaligus action, sangat menantang!

IMG_4470

Berisitirahat sejenak pada salah satu dari 7 bukit penyesalan

 

4

Lihat! yang di belakang kami itu bukit pertama.

 

3

Cuaca yang tidak menentu saat pendakian

 

Selama perjalanan, saya lebih sering berpapasan dengan pendaki asing. Sempat berbincang dengan salah satu dari mereka dan berkata, “Indonesia is awesome”, saya tersenyum dan berkata, “Indeed, see you on top then!”. Ah! Bangga banget jadi orang Indonesia.

Saya, Fika, Yona, tiga wanita bukan pendaki betulan ini berjuta-juta kali istirahat. Di saat yang lain satu per satu melewati kami. Prinsip kami cuma satu “alon-alon asal klakon”. Tidak apa lambat asal selamat.

IMG_4295

Bahkan kami bertiga membuat permainan sendiri agar termotivasi untuk dapat melewati satu per satu bukit tersebut. “Ayo sampai ke atas bukit yang itu, nanti kita berbagi biskuit di atasnya!” atau “Ayo sampai ke bukit yang itu, nanti kita berbagi minum!” Alhamdulillah, satu per satu si Bukit Penyiksaan itu telah berhasil dilalui, bahkan diantara 7 bukit itu, ada yang sangat terjal. Untung dengkul masih belum keropos, biar agak lambat, tetapi sampai juga.

10

16:00 WITA, tibalah kami di Plawangan Sembalun yang merupakan pos terakhir sebelum puncak, dengan ketinggian 2639 mdpl (dari total Puncak Rinjani 3726 mdpl, berarti masih lumayan jauh!), tetapi sudah berhasil membuat kami menangis haru. Bayangkan sana, kami sudah sejajar dengan awan, angin membisik dengan indah, mata tersaji Maha Karya Tuhan yang belum tentu dapat dilihat semua orang secara langsung. Terlebih kami bertiga tidak menyangka bahwa kami tante-tante lelet inilah wanita pertama dari team kami yang tiba di Plawangan Sembalun tersebut. Selamat saja alhamdulillah (ngetiknya sambil nangis.hehe).

IMG_4382

IMG_4433

IMG_4486

Kami mulai mempersiapkan kembali untuk berkemah di sana, target kami besok dini hari jam 2:00 WITA harus segera berangkat dan memetik impian kami, ke Puncak Rinjani!

26

2.00 WITA, kami segera bersiap dan membangunkan beberapa orang team yang akan bergabung untuk ke puncak pagi itu. Bukan soal ganjen, tetapi bukan hanya jaket tebal, peralatan lainnya seperti kacamata, masker penutup wajah (buff) dan lip gloss agar digunakan, untuk menghindari hempasan angin dingin, pasir dan debu, juga sengatan sinar matahari langsung.

13

Perjalanan sekitar 5 jam ini terasa lebih berat dari yang sebelumnya. Hal ini karena medan pendakian menuju puncak cukup melelahkan, padang pasir, kawah, dan jurang yang seolah tanpa dasar, akan memaksa berpacunya adrenalin selama pendakian. Untung pendakian dimulai saat masih gelap, jika tidak pasti mental jatuh duluan saat melihat jalurnya. Terlebih cuaca sedang tidak menentu, tiba-tiba panas, tiba-tiba hujan, yang kita semua tahu bahwa itu adalah pertanda akan datangnya badai. (hiks).

IMG_4396

“Seorang pendaki sejatinya tidak sedang menaklukan pucuk-pucuk tertinggi yang menusuk ke langit, melainkan ia sedang menaklukan pucuk-pucuk tertinggi dirinya sendiri sebagai manusia” – unknown

Sejujurnya, saat tanjakan pasir terakhir saya sudah tidak kuat sama sekali. Tetapi banyak penyemangat dan rekan yang membantu sehingga memberi kekuatan kepada saya untuk tetap melangkah.

14

15

Rinjani mengajarkan saya untuk tidak menyerah. Walaupun terkadang kaki terjebak di pasir, yang hanya perlu saya lakukan hanyalah melangkah dan terus berdoa.

Kemudian, tibalah saya di Puncak Rinjani..

IMG_4362

17 IMG_4250

Ya, tentu tangisan haru kami kembali membanjir (hehe). Dari puncak 3726 meter di atas permukaan laut, saya bisa melihat semua sisi pulau lombok, bahkan pulau bali dan sumba. Bahkan di kejauhan terlihat Gunung Agung Bali berdiri dengan angkuh.

Masih tidak menyangka, melihat kaldera rinjani sebesar itu, merasa bagikan buih di lautan dan membuat teringat bahwa saya sangat kecil di hadapan-Nya.

21edit

Setelah berfoto, kami harus segera turun karena tanda-tanda badai akan segera turun. Saat melihat jalur turun, saya sedikit merinding. Dan benar saja, di perjalanan turun, kami terjebak badai dan hujan yang amat derasnya. Pandangan kami tidak lebih dari 1 meter ke depan. Kanan kiri depan belakang kami telah rata tertutup kabut.

IMG_4449

Sempet-sempetnya di tengah badai

Sampai pada satu jalan lurus tepat kanan dan kiri jurang, kami melihat angin badai yang memutar-mutar dengan “cantiknya”. Bahkan saat itu saya bergumam dalam hati sebelum melangkahinya “Tuhan jika ini adalah akhir hidupku, mohon ampuni segala dosaku dan bahagiakanlah keluarga dan orang-orang tersayang”. Dengan bismillah saya melangkah dan berhasil melewatinya. Saat itu pula saya sadar, jaket saya anti anti, tetapi bukan anti badai. Segala camera dan gadget sudah saya pasrahkan jikalau memang harus rusak karena derasnya air hujan badai itu.

Alhamdulillah. Setelah beberapa jam, kami selamat dan berhasil melewati itu semua hingga tiba di camp Plawangan Sembalun kembali pada sore harinya.

Perut baru terasa lapar terlebih dengan kondisi pakaian yang basah kuyup. Kami mulai memasak hingga malam hari, makan, dan segera tidur untuk menyiapkan tenaga esok hari untuk turun.

Keesokan harinya, ini adalah titik dimana saya sebenarnya sangat sulit untuk memutuskan. Ingin hati rasanya melanjutkan ke Segara Anakan, tetapi apa daya. Karena semua pakaian sudah basah, logistik sudah habis, dan fisik setelah melawan badai di puncak kemarin harinya. Beberapa dari kami, termasuk saya, memutuskan untuk turun melewati jalur Sembalun kembali. Ah! Iri rasanya dengan rekan lainnya yang masih kuat turun melalui Senaru dan menyempatkan diri untuk membangun tenda kembali di Segara Anak.

IMG_4427

Sedikit tentang Segara Anak. Ialah danau kawah dengan kedalaman sekitar 230 m. Air yang mengalir dari danau ini membentuk air terjun yang sangat indah, mengalir melewati jurang yang curam. Danau Segara Anak ini banyak terdapat ikan mas dan mujair, sehingga sering digunakan untuk memancing. Dengan warna airnya yang membiru, danau ini bagaikan anak lautan, karena itulah disebut “Segara Anak”.

Katanya, danau segara anak menyimpan berbagai misteri dan dan kekuatan gaib, itulah sebabnya manusia merasa betah tinggal lama di tempat ini. Keyakinan masyarakat apabila Danau Segara Anak terlihat luas menandakan bahwa umur orang orang yang melihat itu masih panjang. Sebaliknya jika tampak sempit maka menandakan umur si penglihat pendek, untuk itu harus melakukan bersih diri artinya harus berjiwa tenang, bangkitkan semangat hidup, pandang kembali danau sepuas-puasnya. Wallahualam.

Selain Segara Anak, jalur pulang Senaru yang katanya lebih terjal dari jaur Sembalun ini juga terdapat air terjun kokok putih dan juga air panas yang sering dikunjungi orang, bahkan katanya bisa juga untuk pengobatan.

Cerita tinggallah cerita, kenyataannya saya harus menelan kekalahan atas fisik yang tidak lagi kuat melaluinya.

Tepat pukul 00:00 WITA tanggal 1 Bulan Januari 2015 saya dan team menginjakkan kaki kembali di Pos Sembalun. Saya merayakan pergantian tahun, dengan kesederhanaan segelas teh hangat, semangkuk mie rebus, dan canda tawa lepas rekan seperjuangan kala itu. Alhamdulillah.

Seminggu di Lombok sungguh tidak terasa. Setelah team yang pulang melalui Senaru tiba, kami langsung pulang menuju Jakarta. Kembali menempuh perjalanan berhari-hari di bus dan terombang-ambing di kapal laut saat menyebrang.

4

Kericuhan di atas kapal perjalanan pulang

 

9

Mba Aas, pengamen dangdut cantik khas Pantura sempat mengiringi perjalanan pulang kami

 

Detil perjalanan kami – An awesome video captured by my friend, Alif Raharjo

 

 

Terima kasih Allah atas kesempatan yang diberikan. Terima kasih atas semua keindahan dan keajaiban Rinjani yang telah memberikan keyakinan bahwa mimpi memang dapat diraih jika tidak pernah menyerah. Terima kasih atas teman-teman atas bantuan dan kehangatannya. Saya akan menjemput Segara Anak suatu saat nanti, In Sha Allah. Sampai bertemu lagi!

 

 

 

 

Source foto:

1. Koleksi Pribadi
2. Alif Raharjo
3. Hasan Cullen
4. Yona Intan Zariska
5. Tante Jessy

 

 

Gunung Guntur, 2249 MDPL: “Si Pendek” yang menantang!

30 Aug

Akhir pekan, tidak terlalu banyak gunung yang dapat dikunjungi dalam waktu hanya 2 hari. Terlebih jika kawasannya sangat jauh dari Jakarta. Sehingga lagi-lagi kota Garut menjadi tujuan utama kami.

Kota Garut memang menyimpan keindahan alam yang tak berbatas. Selain Gunung Papandayan dan Cikuray yang sudah cukup dikenal, ternyata masih ada satu lagi gunung indah di sana. Gunung Guntur atau biasa disebut warga setempat gunung Gede. Hasil penelusuran singkat sebelum memutuskan berangkat, saya mendapati bahwa gunung ini memiliki ciri khas yang cukup unik dibandingkan gunung lainnya di Garut, yaitu mayoritas konturnya berpasir dan berbatu serta hanya ditumbuhi rumput ilalang (sabana) yang cukup tinggi bahkan sampai ke puncaknya. Sungguh memesona. Wajar jika beberapa orang menyebutnya Rinjaninya Kota Garut.

View dari Gunung Guntur

View dari Gunung Guntur

Gunung yang terletak di Kampung Dukuh Desa Pananjung, Kecamatan Tarogong Kaler, Kabupaten Garut ini merupakan gunung api yang masih aktif meskipun aktivitas vulkaniknya cenderung menurun hingga kini. Namun pada tahun 1800 an, gunung ini merupakan gunung berapi paling aktif di Kota Garut dan letusan terbesarnya terjadi pada tahun 1840.

Ada beberapa yang menyebutkan bahwa Guntur adalah Rinjani-nya Kota Garut. Karena panoramanya sangat indah.Selain medan gunung yang menantang, Guntur juga dilengkapi dengan lembah, air terjun, sungai, panorama alam dan kawah.

Jumat pulang kantor seperti biasa, saya dan 6 orang teman lainnya berkumpul di Kp Rambutan. Dan langsung naik bus tujuan Garut dengan pemberhentian di pom bensin Tanjung, Garut dan masjid di dalamnya menjadi titik kumpul pertama. Kami tiba pukul 2 dini hari, sehingga sekedar merebahkan badan setelah melaksanakan 2 rakaat rasanya baik untuk kami mengumpulkan tenaga untuk tracking beberapa jam ke depan.

Jam menunjukkan pukul 5 pagi, setelah kami melakukan Shalat Subuh dan packing ulang, kami siap untuk memulai perjalanan melalui gang sebelah pom bensin yang merupakan awal mula jalur pendakiannya. Rejeki anak sholeh sholehah! Baru jalan kaki sedikit, langsung dapat tebengan truk. Sebenernya nebeng truk itu pilihan hidup dan mati. Jalur berpasirnya yang kayaknya gak cocok buat truk untuk memanjat dan berkelok dengan sisi kanan dan kiri jurang selain bikin mules, kalau lengah sedikit bisa kelempar keluar dari truknya. Tetapi karena dapat menghemat waktu selama 2 jam dengan berjalan kaki, alhasil kamipun menaikinya.

Naik truk penambang pasir

Naik truk penambang pasir

Sunrise di perjalanan di atas truk

Sunrise di perjalanan di atas truk

 

Kalau dilihat dari ketinggian Gunung Guntur 2249 MDPL, banyak orang yang meremehkannya. Sepertinya mudah saja untuk mendaki, bahkan pendaki pemula juga oke. Terlebih ketinggian gunung ini lebih rendah dari ketinggian Gunung Papapandayan (2665 MDPL) yang biasanya digunakan untuk sekedar camping ceria. Rasanya cukup untuk sekedar melepaskan rindu dengan tracking dan udara gunung. Terlebih saya saat itu baru saja sembuh dari demam selama 3 hari. Itupun setelah mendesak dokter untuk memberikan obat yang paling manjur yang dia punya agar dapat sembuh selama 3 hari saja. Walaupun sang dokter kala itu hanya tertawa mendengar permintaan saya, tetapi Alhamdulillah berkat ridho Allah SWT melaui obat dokter itupun saya siap bertempur setelah 3 hari sakit.

Tetapi… dugaan saya terpatahkan sesaat setelah saya berada sejak di kaki gunungnya pun.

Gunung Guntur memiliki kemiringan yang sangat curam dan material tanah berupa tanah pasir berbatu. Untuk stabilitas tanahnya wilayah ini tergolong labil, dengan tingkat kelongsoran tanah yang tinggi dan daya serap tanah yang cukup. Hal ini diperparah dengan pengrusakan yang dilakukan oleh para penambang pasir ilegal di kaki gunung ini. Terlihat betapa tandusnya kawasan kaki gunung ini sebagai akibat dari penambangan pasir tersebut.

IMG_0337

 

Dengan bismillah saya melanjutkan tracking.

 

Ini adalah pendakian pertama ke Gunung Guntur untuk kami bertujuh, sehingga bermodal bismillah kami menyusuri track dengan track yang ada. Ternyata benar saja, ada dua jalur pendakian, yaitu jalur Curug Citiis 1-3 atau yang satu lagi jalur ikan asin (sebenarnya ini julukan dari saya sendiri, betapa tidak lewat jalur ini jalanan kering kerontang tanpa air, panas, dan pepohonan rindang hanya bisa dihitung dengan jari – persis seperti proses pembuatan ikan asin hehehe). Dan kenyataannya, kami melewati jalan ikan asin itu (Ini menjadi sangat penting, jangan lupa pakai sunblock!) Sedangkan yang lainnya ternyata banyak yang melewati jalur Curug Citiis yang lebih rindang walaupun tracknya luar biasa dasyat, jalur tracknya hamper mirip seperti Gunung Cikuray.

IMG_0271

IMG_0278

 

Jika mendaki gunung lain, team tidak akan terpecah, saling tunggu dan saling susul. Berbeda dengan pendakian Gunung Guntur, masing-masing memiliki metode sendiri untuk menjaga diri masing-masing agar tetap sanggup untuk mendaki. Bahkan saya menerapkan sistem 10:1, jadi 10 kali mendaki 1 kali berhenti untuk nafas lebih panjang. Tetapi sayangnya jalur pasir nan seru ini membuat perjalanan lebih istimewa, karena dengan mendaki 10 langkah, akan merosot 5 langkah.

IMG_0258

 

Namun jangan salah, melewati jalur Curug juga hanya sampai batas Curug 3, setelah itu sama seperti jalur ikan asin yang kejemur luar biasa maha dasyat dengan nafas senin-kamis dan tidak ada sumber air lagi. Curug Citiis 3 adalah sumber air terakhir, yang berarti pendakian semakin berat karena harus mengambil air sebanyak-banyaknya biar tetap bertahan hidup selama di puncak. Dengan track nan aduhai dan stok berliter-liter air di gendongan membuat perjalann ini semakin menantang.

 

Seperti yang saya ungkap sebelumnya, jumlah pohon rindang bisa dihitung dengan jari, sehingga dirasa setiap pohon rindang kami anggapn sebagai pos untuk beristirahat sejenak dan bahkan sampe umpel-umpelan dengan pendaki lain yang juga lagi neduh dan istirahat saking jarangnya pohon rindang.

IMG_0333

 

Semakin menuju puncak semakin miring juga jalannya, bahkan sampai hampir harus mencium tanah, karena sudah tidak bisa dibedakan kembali mana tanah untuk dipijak mana tanah untuk berpegangan. Bisa dibayangkan sistem 10:1 tadi akhirnya berubah menjadi 5:1 dengan paha dan betis yang saling bergema di setiap langkahnya (nyut-nyutan). Luas biasaaaa seruuu!

IMG_1212

IMG_0352

 

Tidak terasa 7 jam sudah berlalu (siapa bilang tidak terasa?), tibalah kami di puncak bersama 2 rekan saya yang lain. Dari situ kami tersedar, bahwa tendanya ada bersama 4 kami lainnya yang belum sampai puncak. Akhirnya dengan panas terik kami memulai memasak karena perut juga sudah terasa sangat lapar 4 bungkus indomie kami makan bersama 3 pendaki lain yang juga sedang menunggu rombongannya.

IMG_0243

 

Lelah berubah menjadi rasa syukur saat melihat panorama indah dari atas sini. Kota Garut nan indah, terlihat lebih indah dari atas sini. Subhanallah.

 

Beberapa jam kemudian, 4 teman kami lainnya. Dengan sigap kami bekerjasama membangun tenda dan memasak untuk rekan kami yang baru tiba. Satu nilai plus lagi untuk hobi mendaki ini, bersosialisasi dan kerjasama dengan yang lainnya tanpa pamrih.

IMG_0467

IMG_0494

 

Malam tiba, terdengar di luar tenda riuh tertawa bersorak pendaki-pendaki yang sudah membangun tendanya. Bahkan salah satu rekan kami berkata bahwa pemandangan kota Garut sangat canti di malam hari dengan cahaya-cahaya lampunya yang menghias seperti bintang. Seperti sedang berada tengah langit, dengan kemilau bintang dari atas langit dan dari bawah dari cahaya lampu Kota Garut. Namun apa daya, karena badan kembali tidak enak. Padahal inilah yang dinantikan semua pendaki Gunung Guntur.

 

Setelah saya memutuskan untuk berada di dalam tenda, dingin malah semakin menggigit. Kulit terasa semakin kering terlebih setelah siangnya tersengat panas terik, terlebih di Puncak Gunung Guntur ini dehidrasi sangat tinggi karena tidak ada sumber air. Sehingga berpengaruh pada kulit yang juga dirasa butuh untuk meregenerasi dengan asupan yang cukup. Terbawa saat kebiasaan di rumah, caring moment pakai pelembab Nivea Night Whitening Body Serum pun saya lakukan di sini. Siapa bilang pendaki atau seorang backpacker ga boleh menjaga kulitnya. Bahkan akibat sengatan matahari langsung, kulit lebih cepat rusak dan harus cepat pula diperbaiki. Terlebih malam hari adalah saat yang paling aktif, bahkan 2 kali lebih aktif ber-regenerasi mengeluarkan hormon pertumbuhan yang berguna buat memperbaiki sel-sel yang rusak itu jika dirangsang dengan serum bervitamin C ini. Jadilah kebiasaan ini kebawa-bawa kemanapun, dan siap tidur berselimut sleeping bag hangat di malam hari.

IMG_1894

 

Dan besoknya saya baru sadar, kalau kita baru di puncak 1 karena dari situ melihat puncak lainnya yaitu puncak 2, dan yang lebih terkejut lagi ternyata Guntur punya 4 puncak.

 

Karena saya ga sanggup, saya rasa tidak wajib sampai ke puncak 4 (ya daripada ga bisa turun lagi ya boooo ini udah pegel banget).

Pagi hari, saatnya berjumpa dengan sunrise yang indah.

Sunrise cantik dan Gunung Ceremai, view dari gunung Guntur

Sunrise cantik dan Gunung Ceremai, view dari gunung Guntur

Matahari tertutup kabut

Matahari tertutup kabut

kami!

kami!

 

It’s time to Turun Gunung!

Tanpa ragu-ragu, gunung Guntur saya nobatkan sebagai gunung yang lebih susah dituruni walaupun lebih pendek mdplnya dari gunung lain yang pernah didaki. Di Gunung Slamet manjat berjam-jam, turun bisa cuma 2 jam. Minimal bisa gelindingan. Sedangkan di Guntur, jangankan lari, gelesoran ngikutin kerikil saja masih sulit. Akhirnya saya memilih seperti turun dengan teknik perosotan sampai celana sobek di bagian belakang yang baru saya sadari saat hamper sudah sampai bawah. Hiks!

Teknik merosot turun

Teknik merosot turun

 

Celana Belakang Sobek akibat Merosot turun

Celana Belakang Sobek akibat Merosot turun

Catatan wajib: sarung tangan tebal, buff (penutup muka), dan sepatu di Gunung Guntur adalah wajib.

City Sight from Here, Garut

City Sight from Here, Garut

Pendaki dan Kota Garut

Pendaki dan Kota Garut

 

Setelah beberapa jam akhirnya, tibalah di bawah. Perjuangan maha Dasyat mendaki Gunung Guntur malah membuat saya rindu sesaat setelah mencapai kaki gunungnya. Dan suatu saat pasti akan melalukannya lagi, suatu saat.

 

 

 

Remember this:

Take nothing but pictures, 

Leave nothing but footprints, 

Kill nothing but time.

 

 

My First Summit Puncak : Pendakian Gunung Slamet

13 Jun

Gunung Slamet (3.428 mdpl) adalah gunung berapi yang terdapat di Pulau Jawa. Gunung ini berada di perbatasan Kabupaten brebes, Banyumas, Purbalingga, Tegal, Pemallang, Provinsi Jawa Tengah, dan merupakan yang tertinggi di Jawa Tengah serta kedua tertinggi di Pulau Jaya. Empat kawah yang berada di puncaknya semuanya masih aktif.

Pendakian Gunung Slamet dikenal cukup sulit karena hampir di sepanjang rute pendakian tidak ditemukan air. Pendaki disarankan untuk membawa persediaan air yang cukup dari bawah. Faktor penyulit lain adalah kabut. Kabut di Gunung Slamet sangat mudah berubah-ubah dan pekat.

Kamis, 28 Maret 2013

Seperti biasa, saya bergegas pulang kantor tepat waktu demi mengejar bus Jakarta-Purwokerto via Terminal Lebak Bulus bersama 2 orang teman saya, 5 orang lainnya sudah menunggu di Purwokerto.

Karena itu long weekend, gak mudah mendapatkan bus menuju purwokerto. Terlebih kereta, sudah sold out sejak sebulan lalunya. Sehingga sekitar pukul 9 malam baru dapat bus cadangan yang “seadanya”. Alhamdulillah, kami jadi tetap berangkat.

Di luar dugaan kami, ternyata macet terjadi di sepanjang jalur perjalanan sejak masuk tol Jakarta sampai dengan Purwokerto via Pantura. Melenceng dari estimasi, kami yang seharusnya tiba di Purwokerto pukul 4 pagi, malah sampai sana pukul 12 siang, tanpa berenti di rest area sekalipun. (Wow, eksten 8 jam!)

Tiba di terminal Purwokerto, kami melanjutkan perjalanan dengan angkutan kota menuju Purbalingga untuk berjumpa dengan 5 orang lainnya. Makan (malam,pagi, dan siang) dijadikan 1 waktu karena macet tersebut. Hihi. (Ssttt, jangan kasih tahu mama ya). Setelah beristirahat sejenak, makan, shalat dan melakukan packing ulang, kami melanjutkan perjalanan pukul 16.00 WIB.

Gn. Slamet dapat didaki melalu tiga jalur, lewat jalur sebelah Barat Kaliwadas, lewat jalur sebelah selatan Batu Raden dan lewat jalur sebelah timur Bambangan. Dari ketiga jalur tersebut yang terdekat adalah lewat Bambangan, selain pemandangannya indah juga banyaknya kera liar yang dapat ditemui dalam perjalanan menuju ke puncak slamet.

Akhirnya kami mengambil jalur Bambangan. Untuk tiba di Basecamp Bambangan, dari Purbalingga menuju Pertigaan Serayu dengan menggunakan bus 6000 rupiah. Setelah itu dilanjutkan dengan mobil carry menuju Basecamp Bambangan, selama 60 menit dengan biaya 13.000 rupiah. Untuk retribusi pendakian kita wajib membayar 5000 rupiah.

Kami tiba di basecamp pada malam hari. Karena menunggu hujan mereda, memulai pendakian pukul 22.00 (malam hari). Sehingga tidak nampak pemandangan selama pendakian, selain siluet dari pepohonan dan ditemani bulan purnama yan membulat sempurna dengan cantik. Selain tidak terlihat view pemandangan dengan jelas, perjalanan malam juga lebih melelahkan dibandingkan pagi hari. Hal ini dikarenakan oksigen yang dibutuhkan pendaki pun dibutuhkan pepohonan dan tanaman lain di hutan, sehingga sesekali nafas terasa sesak dan membutuhkan istirahat beberapa kali. Namun enaknya pendakian malam adalah, tidak tersengat sinar matahari.

IMG_5851 

 

Setelah menyusuri ladang penduduk dan barisan Pohon Pinus kami tiba di Pos I (Pondok Gembirung) dengan ketinggian 2220 mdpl. Malam itu pendakian kami ditemani rintik hujan yang tidak deras namun cukup membuat basah. Pos ini cukup luas, dan sering digunakan pendaki untuk membangun tenda, karena pos dengan pondokan seperti ini hanya ada di Pos I, V dan VII. Namun kami tidak bisa membangun tenda di Pos I, karena di area tersebut sudah penuh dengan tenda pendaki lain. Kamipun melanjutkan perjalanan.

Perjalanan dari Pos I menuju Pos II membutuhkan waktu 1 jam 30 menit dengan jalur pendakian yang panjang dan mulai vertikal, vegetasi khas hutan tropis membuat suasana menjadi lembab dan hanya sedikit cahaya matahari yang masuk dari celah-celah pepohonan. Pos II (Pondok Walang) ini ditandai dengan lahan yang cukup luas untuk 3-4 tenda kapasitas 5 orang. Jam sudah menunjukkan pukul 01.00 WIB, lelah dan kantuk mendera dan mengharuskan kami untuk membuka tenda di area tersebut.

Keesokan harinya, menyiapkan sarapan pagi untuk kemudian melannjtkan kembali perjalanan yang masih sangat panjang.

IMG_5858

Ini dia sang koki, Ajie. Masakannya dijamin Yummy! Kali ini saya tidak masak, karena sang koki ini biasa turun tangan ketika naik gunung.

IMG_5855

Tara sarapan pagi istimewa jadi, kami makan ditemani hujan yang terus gemericik.

IMG_5881

Setelah sarapan dan menunggu hujan mereda, kamipun segera packing kembali dan melanjutkan perjalanan. Sekitar 50 menit, tibalah kami di Pos III (Pos Cemara) pada ketinggian 2465 mdpl. Di pos ini juga cukup untuk membangun 2-3 tenda kapasitas 5 orang, namun setelah dirasa fisik serta keadaan lingkungan mendukung dan target kami adalah summit attack, maka kami melanjutkan pendakian ke pos berikutnya.

Kemudian tibalah kami di Pos IV (Samarantu) setelah menempuh perjalanan sekitar 40 menit. Namun kabarnya ini adalah pos yang sangat tidak direkomendasikan untuk bermalam, karena berdasarkan cerita lokal yang beredar, daerah ini merupakan tempat paling angker dari seluruh tempat di Jalur Pendakian Gunung Slamet via Bambangan. Samarantu berasal dari kata ‘samar’ dan ‘hantu’ yang berarti ‘hantu yang tidak terlihat’. Meskipun demikian pos ini dapat menampung 3-4 tenda kapasitas 5 orang, sehingga jika fisik dan cuaca sudah tidak memungkinkan, pendaki masih dapat camp di sini (hitung-hitung uji nyali ya cin!). Dari sini perjalanan mulai kering karena hutan mati sisa kebakaran masih terlihat gersang sampai pos VII. Tapi apa daya, karena hujan masih mengguyur dengan derasnya, kami tidak bisa mengeluarkan camera untuk mengabadikan beberapa tempat ini, gak kepeleset aja udah Alhamdulillah (saya jagoan kepeleset saat itu).

Dari pos IV menuju pos V (Pos Air), senang luar biasa karena target kami memang camp di pos ini yang memiliki sumber air, dingin karena baju dan celana yang kami kenakan sudah kuyup (walaupun sudah pakai jas hujan). Perjalanan dari pos IV menuju pos V memakan waktu 25 menit. Jarak mata air tidak begitu jauh, dengan berjalan ke turun ke kiri selama 5 menit. Kita harus naik ke arah batu licin berlumut sampai menemukan pipa aliran air, karena air ini yang lebih bersih dibandingkan yang mengalir di bebatuan.

Hari mulai menggelap, kabut mulai menebal, dan hujan masih juga gemericik, sehingga kami memutuskan untuk camp kembali di pos V sebelum summit puncak esok dini hari. Setelah makan malam kami memutuskan untuk segera beristihat.

IMG_5906IMG_5924

Pukul 03.00 WIB

Udara diatas ketinggian gunung tidak dapat di deskripsikan dengan kata-kata. (bangetttt). Dingin yang menusuk yang membuatkan kami menggunakan jaket tebal, dengan luaran jas hujan, karena cuaca masih tidak menentu.

Di pos VI kami hanya sedikit berhenti, karena berdasarkan catatan pos VII tidak jauh lagi. Dari pos VII menuju pos VIII kita dihadapkan pada jalur sempit vertikal. Batas Vegetasi menjadi pertanda dimulainya pendakian yang sebenarnya. Jalur pendakian yang terjal berbatu ini rentan menimbulkan bahaya, selain terpeleset dari jalur, bebatuan yang mudah jatuh ini dapat menimpa pendaki lain kalau kita berjalan tanpa hati-hati.

Tapi view inilah pengobat segala lelah dan dingin.

IMG_5944

Hari mulai pagi dan kami mengejar untuk mendapatkan sunrise di puncak.

IMG_5973IMG_5974

SUMMIT ATTACK!

BHK02G6CcAAaiOD

IMG_6111IMG_6065 IMG_6057 IMG_6082

Karena sejak memulai Summit Attack kami tidak makan, otomatis hal ini menjadi alarm untuk cepat turun dari Puncak. Akhirnya kami hanya menikmati biskuit dan nata de coco di pinggiran puncak, lalu memutuskan untuk turun, karena melihat jalur pendakian yang semakin ramai para pendaki yang akan naik menuju puncak.

Setelah semua kenyang, kami pun turun dengan berlari dan nyerosot, karena jalurnya masih berpasir sehingga tidak mudah pula untuk turun. Namun yang lebih lagi kami syukuri, turun kembali ke Pos V tidak disertakan hujan.

Pendakian Gunung Slamet ini membuka mata lahir dan batin untuk bersyukur atas lukisan yang begitu indah, masa muda berwarna, dengan menikmati setiap momen ciptaan Yang Maha Kuasa, Alhamdulillah.

Terima Kasih

Allah SWT.

Mama papa dan keluarga yang memberikan izin mendaki.

Teman-teman pendaki: Acied, Resha, Doddy, Ajie, Mbot, Peking, Eko. You Rock All!

IMG_6090 IMG_6020 IMG_6108