Tag Archives: masjid aikmel

Heaven on Earth: Gunung Rinjani 3726 MDPL

8 Feb

Indonesia – Semua hal di sini punya nilai dan cerita, bahkan disisipi beberapa mitos di dalamnya. Seperti Gunung Rinjani dengan ketinggian 3.726 mdpl (yang mendominasi sebagian besar luas Pulau Lombok) merupakan gunung tertinggi ke dua di Indonesia (di luar pegunungan Irian Jaya), pun memiliki cerita di balik keindahannya.

20edit

Konon, di Lombok ada seorang putri raja yang cantik jelita yang bernama Dewi Anjani. Namun, di balik kecantikan Dewi Anjani tersimpan misteri, dimana akhirnya sang putri menjadi ratu penguasa makhluk gaib. Berawal dari kekecewaan atas tidak diizinkan oleh sang ayah untuk menikah dengan lelaki pujaan hati, maka Dewi Anjani mengasingkan diri dan bertapa, hingga akhirnya diangkat menjadi penguasa makhluk halus. Ini merupakan satu dari beberapa versi lainnya tentang kisah Dewi Anjani yang konon menguasai Gunung Rinjani.

Paras Sang Dewi Anjani sangat cantik, seperti saat melihat Gunung Rinjani yang digunakan sebagai istananya. Diameternya memiliki kaldera hingga 10 km dan kedalaman kawah -230 m. Begitulah Gunung Rinjani istana Dewi Anjani yang secantik pemiliknya dan menjadi pujaan para pencinta alam bebas untuk datang menjajakinya.

Berbeda dengan perjalanan pendakian saya yang lain. Buat saya Rinjani adalah impian, yang entah akan terwujud atau tidak dan bahkan sempat terkubur dalam. Maka, saat mendengar kabar dari teman akan ke sana, seolah keinginan itu kembali dan saat itu lah saya mulai mempersiapkannya.

Jika ditanya kenapa harus Rinjani si gunung berapi tertinggi kedua? Kenapa bukan Kerinci si nomor 1 tertinggi atau yang lainnya? Saya pun tidak yakin alasannya mengapa.

IMG_4354

Berdiri kokoh di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat, Gunung Rinjani menjadi salah satu kiblat kecantikan di Indonesia. Kecantikan rinjani tak hanya memikat petualang-petualang dari dalam negeri, tetapi banyak orang asing. Bahkan sesekali saya merasa terasing saat mendaki Rinjani, saking banyak orang luar negeri yang menjajakinya.

Walaupun saya sudah bayar include dalam trip, sebagai informasi bahwa per 1 April 2014, harga tiket masuk Gunung Rinjani ini naik. Bagi pengunjung domestik sebesar Rp. 25.000/hari (sebelumnya Rp. 2.500/hari), bagi pengunjung mancanegara dikenakan sebesar Rp. 250.000/hari (sebelumnya Rp.20.000/hari). Hal ini dikarenakan penetapan status Taman Nasional Gunung Rinjani masuk Zona I, yaitu yang paling dimanati.

Hari itu, 26 Desember 2014, menjadi langkah pertama dalam perjalanan ini. Saya dan dua sahabat saya (Fikha dan Yona) bersama sekitar 40 orang dari komunitas Pecel Lele (Pendaki Cepat Lelah Letih Letoy – sebutannya) lainnya ini, kami berangkat dengan bus dengan lama perjalanan 2 hari 2 malam. Berhari-hari duduk di bus dalam perjalanan darat lengkap dengan dua kali penyeberangan antar pulau (Pulau Jawa – Pulau Bali – Pulau Lombok). Kebayang dong pegal dan capeknya perjalanan, tetapi sungguh tidak menurunkan semangat dan keinginan yang sudah terlanjur membara di dalam diri (ngebet! Haha). Perjalanan tidak terlalu membosankan, karena kebetulan saya berangkat bersama team yang super seru!

 

2

Kericuhan di dalam bus

 

3

Kericuhan di atas kapal perjalanan berangkat

 

Ini adalah perjalanan pertama saya ke “Indonesia Bagian Tengah” (selain Kalimantan, karena Kalimantan itu lokasi kebun sawit tempat saya bekerja dan mengharuskan untuk beberapa kali bolak-balik ke sana), terlebih dengan jalur darat yang ternyata tidak “seseram” yang dibayangkan, sungguh kesempatan dan pengalaman yang luar biasa. Alhamdulillah.

28 Desember 2014 dini hari WITA (Waktu Indonesia bagian Tengah), kami tiba di Aikmel, Lombok Timur. Kami beristirahat sejenak dan melepaskan lelah dengan mandi (setelah dua hari libur mandi. Hehe) di Masjid Mujahid, Aikmel.

Pernah dengar soal kabar “jangan pernah ke Lombok sendirian, karena rentan dengan kriminalitas”. Semua sirna sesaat setelah tiba di sini. Kami betul-betul dianggap sebagai musafir, diberikan tempat istirahat, mandi sepuasnya, bahkan pada saat sholat tiba, beberapa jamaah wanita mengundang kami untuk beristirahat di rumah mereka.

49edit

Sedikit tentang Aikmel, sejak pagi hari kami mulai menjajaki pasar dan membeli beberapa keperluan selama pendakian. Berbeda dengan pasar di “Indonesia bagian Barat”, biasanya tinggal bilang “bu, beli sop-sop-an” dengan cekatan ibu penjual sayuran tersebut mencampur-aduk semua sayur dan bahan sop dalam satu plastik. Namun tidak di Aikmel, kita harus membelinya secara terpisah satu persatu sayuran dan kebutuhannya. Kebayang wajah bingung dan mondar-mandirnya kami saat itu.

IMG_4166edit

Satu dari Aikmel yang sangat saya kagumi, sejauh mata memandang saya hampir tidak melihat satupun wanita yang tidak berhijab, besar kecil tua muda baik di dalam pasar atau di jalanan kota, semua berhijab. Maka wajar jika mereka menyebut Lombok sebagai “Pulau Seribu Masjid”. Subhanallah.

Pukul 8.00 WITA, setelah sarapan (dua kali. Hehe), kami melanjutkan perjalanan ke Pos Sembalun menggunakan mobil bak dengan perjalanan yang gerimis berkelok-kelok, menanjak dan menurun yang semuanya sudah kami pasrahkan ke abang supirnya saja (hiks!). Tetapi ini sebanding dengan pemandangan sepanjang perjalanan yang sungguh luar biasa.

1

Setelah beberapa jam kemudian, tibalah di Pos Sembalun. Agak lama di sana, karena niat awal kami ingin menggunakan jasa porter (maklum usia. Hehe). Tetapi ternyata setelah ditunggu beberapa jam, porterpun tetap tidak tersedia. Karena hari itu sedang ada shooting katanya. Alhasil kami bawa tas carriel dan peralatan sendiri (kecuali beberapa logistik yang kami titipkan bersama porter kelompok).

IMG_4417

Di pos Sembalun menunggu kepastian

 

“yang.. hujan turun lagi, di bawah payung hitam ku berteduh”. (malah nyanyi!) Hahahaha

Tak sampai pakai payung hitam juga sih, tetapi cuaca di sana memang sedang tidak begitu bagus. Hujan terus-menerus mengguyur sepanjang perjalanan kami. Mengharuskan kami untuk selalu fokus dan waspada pada langkah kami.

Perjalananpun dimulai, dengan bismillah dan restu dari orang-orang tercinta di rumah, akhirnya kami mulai melakukan pendakian ini. Langkah-langkah awal dirasa lumayan berat, dengan beban yang berat (asal bukan beban hidup dan pikiran ya. Hehe), serta cuaca dingin dan hujan menjadi saat terpenting khususnya buat saya untuk beradaptasi.

Tiga setengah jam kemudian dengan nafas yang sudah Senin-Kamis (read: kelelahan) tibalah di pintu gerbang Taman Nasional Gunung Rinjani. Sekali lagi, baru sampai PINTU GERBANG! Maklum sudah lumayan lama juga tidak naik gunung.

IMG_4289

IMG_4371

Si buta dari Goa Hantu gini bentuknya

 

Setelah berfoto sejenak (penting!Hehe) kami melanjutkan perjalanan ke Pos I memalui jalur padang savana cantik! Buat saya, Rinjani bagaikan dunia lain, karena sejak awal pendakian kami sudah disuguhi padang savana yang eksotis, hutan tropis yang mempesona, serta perbukitan yang luar biasa indah. Ketinggian 1500 MDPL ini adalah awal pendakian, tetapi sudah sangat indah.

a

k

Dua jam kemudian kami tiba di pos 1, tetapi namanya savana, pohon sampai bisa dihitung pakai jari, tidak heran banyak yang menyebut Rinjani sebagai ‘gunung pantai’. Angin padang rumput yang bertiup membuat ilalang melambai seperti jutaan rajutan yang terangkai begitu indah. Eksotisme yang tidak terbantahkan walaupun hujan sesekali mengguyurnya. Hati-hati dengan langkah, bisa jadi kotoran sapi sudah menempel di sepatu kita.

Jam menunjukkan pukul 19:00 WITA, tetapi belum gelap di sana. Tidak sejauh pos sebelumnya, 1,5 jam kemudian kami tiba di POS II. Dan tepat gelap disertai hujan sudah mulai menggangu perjalanan kami. Dengan rencana awal untuk membangun tenda di POS III, akhirnya kami memutuskan untuk membangun tenda di sini. Setelah mendirikan tenda, mengganti dan menjemur pakaian yang basah kehujanan, memasak, dan makan malam bersama, kami memutuskan segera istirahat untuk persiapan tenaga esok hari. Untuk suhu di dalam tenda malam itu, jangan ditanya… dingin!

Pagi hari, saatnya pembagian tugas ada yang memasak, mencuci, membuang hajat (penting!hehe), mengambil air (karena di POS II ini lah ada sumber air yang banyak dan bersih), ada pula yang tinggal makan. Hehe. Setelah selesai makan dan packing tenda, kami segera melanjutkan perjalanan. Ops sial! Jas hujan saya hilang, mungkin terselip di peralatan rekan lainnya. Tetapi perjalanan tetap harus dilanjutkan, dengan berbekal jaket semi-waterproof yang saya kenakan, dengan bismillah kami melangkah.

i

Perjalanan POS III inilah ternyata perjalanan yang ternama dan sering disebut orang tentang tracking Rinjani, ya apalagi selain “Tujuh Bukit Penyesalan” yang mungkin artinya kita merasa terlambat untuk menyesal dengan perjalanan sejauh itu, perjalanan tiada akhir. Saya lebih senang menyebutnya “Tujuh Bukit PHP” berasa sudah sampai ternyata setiap bukit hanya menjanjikan harapan palsu ke puncak (fiuh!pengalaman banget di-PHP kayaknya.hehe). Tidak punya pilihan selain terus bergerak maju bukit demi bukit yang brutal. Tetapi alam sepanjang perjalanan tracking Rinjani tidak berhenti menghibur dan memesona, sensasinya mirip seperti sedang berjalan di film dunia khayal sekaligus action, sangat menantang!

IMG_4470

Berisitirahat sejenak pada salah satu dari 7 bukit penyesalan

 

4

Lihat! yang di belakang kami itu bukit pertama.

 

3

Cuaca yang tidak menentu saat pendakian

 

Selama perjalanan, saya lebih sering berpapasan dengan pendaki asing. Sempat berbincang dengan salah satu dari mereka dan berkata, “Indonesia is awesome”, saya tersenyum dan berkata, “Indeed, see you on top then!”. Ah! Bangga banget jadi orang Indonesia.

Saya, Fika, Yona, tiga wanita bukan pendaki betulan ini berjuta-juta kali istirahat. Di saat yang lain satu per satu melewati kami. Prinsip kami cuma satu “alon-alon asal klakon”. Tidak apa lambat asal selamat.

IMG_4295

Bahkan kami bertiga membuat permainan sendiri agar termotivasi untuk dapat melewati satu per satu bukit tersebut. “Ayo sampai ke atas bukit yang itu, nanti kita berbagi biskuit di atasnya!” atau “Ayo sampai ke bukit yang itu, nanti kita berbagi minum!” Alhamdulillah, satu per satu si Bukit Penyiksaan itu telah berhasil dilalui, bahkan diantara 7 bukit itu, ada yang sangat terjal. Untung dengkul masih belum keropos, biar agak lambat, tetapi sampai juga.

10

16:00 WITA, tibalah kami di Plawangan Sembalun yang merupakan pos terakhir sebelum puncak, dengan ketinggian 2639 mdpl (dari total Puncak Rinjani 3726 mdpl, berarti masih lumayan jauh!), tetapi sudah berhasil membuat kami menangis haru. Bayangkan sana, kami sudah sejajar dengan awan, angin membisik dengan indah, mata tersaji Maha Karya Tuhan yang belum tentu dapat dilihat semua orang secara langsung. Terlebih kami bertiga tidak menyangka bahwa kami tante-tante lelet inilah wanita pertama dari team kami yang tiba di Plawangan Sembalun tersebut. Selamat saja alhamdulillah (ngetiknya sambil nangis.hehe).

IMG_4382

IMG_4433

IMG_4486

Kami mulai mempersiapkan kembali untuk berkemah di sana, target kami besok dini hari jam 2:00 WITA harus segera berangkat dan memetik impian kami, ke Puncak Rinjani!

26

2.00 WITA, kami segera bersiap dan membangunkan beberapa orang team yang akan bergabung untuk ke puncak pagi itu. Bukan soal ganjen, tetapi bukan hanya jaket tebal, peralatan lainnya seperti kacamata, masker penutup wajah (buff) dan lip gloss agar digunakan, untuk menghindari hempasan angin dingin, pasir dan debu, juga sengatan sinar matahari langsung.

13

Perjalanan sekitar 5 jam ini terasa lebih berat dari yang sebelumnya. Hal ini karena medan pendakian menuju puncak cukup melelahkan, padang pasir, kawah, dan jurang yang seolah tanpa dasar, akan memaksa berpacunya adrenalin selama pendakian. Untung pendakian dimulai saat masih gelap, jika tidak pasti mental jatuh duluan saat melihat jalurnya. Terlebih cuaca sedang tidak menentu, tiba-tiba panas, tiba-tiba hujan, yang kita semua tahu bahwa itu adalah pertanda akan datangnya badai. (hiks).

IMG_4396

“Seorang pendaki sejatinya tidak sedang menaklukan pucuk-pucuk tertinggi yang menusuk ke langit, melainkan ia sedang menaklukan pucuk-pucuk tertinggi dirinya sendiri sebagai manusia” – unknown

Sejujurnya, saat tanjakan pasir terakhir saya sudah tidak kuat sama sekali. Tetapi banyak penyemangat dan rekan yang membantu sehingga memberi kekuatan kepada saya untuk tetap melangkah.

14

15

Rinjani mengajarkan saya untuk tidak menyerah. Walaupun terkadang kaki terjebak di pasir, yang hanya perlu saya lakukan hanyalah melangkah dan terus berdoa.

Kemudian, tibalah saya di Puncak Rinjani..

IMG_4362

17 IMG_4250

Ya, tentu tangisan haru kami kembali membanjir (hehe). Dari puncak 3726 meter di atas permukaan laut, saya bisa melihat semua sisi pulau lombok, bahkan pulau bali dan sumba. Bahkan di kejauhan terlihat Gunung Agung Bali berdiri dengan angkuh.

Masih tidak menyangka, melihat kaldera rinjani sebesar itu, merasa bagikan buih di lautan dan membuat teringat bahwa saya sangat kecil di hadapan-Nya.

21edit

Setelah berfoto, kami harus segera turun karena tanda-tanda badai akan segera turun. Saat melihat jalur turun, saya sedikit merinding. Dan benar saja, di perjalanan turun, kami terjebak badai dan hujan yang amat derasnya. Pandangan kami tidak lebih dari 1 meter ke depan. Kanan kiri depan belakang kami telah rata tertutup kabut.

IMG_4449

Sempet-sempetnya di tengah badai

Sampai pada satu jalan lurus tepat kanan dan kiri jurang, kami melihat angin badai yang memutar-mutar dengan “cantiknya”. Bahkan saat itu saya bergumam dalam hati sebelum melangkahinya “Tuhan jika ini adalah akhir hidupku, mohon ampuni segala dosaku dan bahagiakanlah keluarga dan orang-orang tersayang”. Dengan bismillah saya melangkah dan berhasil melewatinya. Saat itu pula saya sadar, jaket saya anti anti, tetapi bukan anti badai. Segala camera dan gadget sudah saya pasrahkan jikalau memang harus rusak karena derasnya air hujan badai itu.

Alhamdulillah. Setelah beberapa jam, kami selamat dan berhasil melewati itu semua hingga tiba di camp Plawangan Sembalun kembali pada sore harinya.

Perut baru terasa lapar terlebih dengan kondisi pakaian yang basah kuyup. Kami mulai memasak hingga malam hari, makan, dan segera tidur untuk menyiapkan tenaga esok hari untuk turun.

Keesokan harinya, ini adalah titik dimana saya sebenarnya sangat sulit untuk memutuskan. Ingin hati rasanya melanjutkan ke Segara Anakan, tetapi apa daya. Karena semua pakaian sudah basah, logistik sudah habis, dan fisik setelah melawan badai di puncak kemarin harinya. Beberapa dari kami, termasuk saya, memutuskan untuk turun melewati jalur Sembalun kembali. Ah! Iri rasanya dengan rekan lainnya yang masih kuat turun melalui Senaru dan menyempatkan diri untuk membangun tenda kembali di Segara Anak.

IMG_4427

Sedikit tentang Segara Anak. Ialah danau kawah dengan kedalaman sekitar 230 m. Air yang mengalir dari danau ini membentuk air terjun yang sangat indah, mengalir melewati jurang yang curam. Danau Segara Anak ini banyak terdapat ikan mas dan mujair, sehingga sering digunakan untuk memancing. Dengan warna airnya yang membiru, danau ini bagaikan anak lautan, karena itulah disebut “Segara Anak”.

Katanya, danau segara anak menyimpan berbagai misteri dan dan kekuatan gaib, itulah sebabnya manusia merasa betah tinggal lama di tempat ini. Keyakinan masyarakat apabila Danau Segara Anak terlihat luas menandakan bahwa umur orang orang yang melihat itu masih panjang. Sebaliknya jika tampak sempit maka menandakan umur si penglihat pendek, untuk itu harus melakukan bersih diri artinya harus berjiwa tenang, bangkitkan semangat hidup, pandang kembali danau sepuas-puasnya. Wallahualam.

Selain Segara Anak, jalur pulang Senaru yang katanya lebih terjal dari jaur Sembalun ini juga terdapat air terjun kokok putih dan juga air panas yang sering dikunjungi orang, bahkan katanya bisa juga untuk pengobatan.

Cerita tinggallah cerita, kenyataannya saya harus menelan kekalahan atas fisik yang tidak lagi kuat melaluinya.

Tepat pukul 00:00 WITA tanggal 1 Bulan Januari 2015 saya dan team menginjakkan kaki kembali di Pos Sembalun. Saya merayakan pergantian tahun, dengan kesederhanaan segelas teh hangat, semangkuk mie rebus, dan canda tawa lepas rekan seperjuangan kala itu. Alhamdulillah.

Seminggu di Lombok sungguh tidak terasa. Setelah team yang pulang melalui Senaru tiba, kami langsung pulang menuju Jakarta. Kembali menempuh perjalanan berhari-hari di bus dan terombang-ambing di kapal laut saat menyebrang.

4

Kericuhan di atas kapal perjalanan pulang

 

9

Mba Aas, pengamen dangdut cantik khas Pantura sempat mengiringi perjalanan pulang kami

 

Detil perjalanan kami – An awesome video captured by my friend, Alif Raharjo

 

 

Terima kasih Allah atas kesempatan yang diberikan. Terima kasih atas semua keindahan dan keajaiban Rinjani yang telah memberikan keyakinan bahwa mimpi memang dapat diraih jika tidak pernah menyerah. Terima kasih atas teman-teman atas bantuan dan kehangatannya. Saya akan menjemput Segara Anak suatu saat nanti, In Sha Allah. Sampai bertemu lagi!

 

 

 

 

Source foto:

1. Koleksi Pribadi
2. Alif Raharjo
3. Hasan Cullen
4. Yona Intan Zariska
5. Tante Jessy