Tag Archives: traveling

Main ke Rumah Nini Pelet: Gunung Ciremai 3.078 MDPL

19 Nov

El Nino adalah gejala penyimpangan pada suhu permukaan Samudra Pasifik di pantai barat Ekuador dan Peru yang lebih tinggi daripada rata-rata normalnya. Wuih berat ya bahasanya!

Yang pasti El nino dapat mempengaruhi iklim dunia selama lebih dari satu tahun. Biasanya terjadi setiap tiga sampai tujuh tahun, sebelumnya terjadi di tahun 1997, di mana kasus kebakaran hutan di Indonesia menjadi perhatian internasional karena asapnya menyebar ke negara-negara tetangga.

Kebakaran hutan memang bukan disebabkan oleh fenomena el-nino secara langsung. Namun kondisi udara kering dan sedikitnya curah hujan telah membuat api menjadi mudah berkobar dan merambat dan juga sulit dikendalikan.

Dan hal itu terulang kembali, September-Oktober 2015 adalah puncak periode el nino yang selanjutnya. Wilayah Sumatera dan Kalimantan telah tertutup asap, bahkan tidak sedikit gunung yang terbakar hampir merata di seluruh Wilayah Indonesia dan memakan sejumlah korban jiwa seperti kasus kebakaran dengan 7 korban jiwa pendaki di Gunung Lawu. Kita doakan bersama agar kondisi kembali pulih dan yang meninggal di terima di sisi-Nya. Aamiin.

Hal ini menjadi peringatan bagi saya pribadi untuk tidak melakukan kegiatan pendakian dahulu sampai kondisi cuaca normal kembali. Tetapi tidak ada salahnya membagikan pengalaman pendakian saya yang terakhir kali di pertengahan tahun ini ke gunung tertinggi di Jawa Barat atau biasa disebut atap Jawa Barat, yaitu Gunung Ciremai.

C360_2015-07-30-10-08-44-635[1]

Gunung Ciremai (3078 MDPL) ada yang menyebut Cerme atau Ceremai) terletak dalam wilayah tiga kabupaten, yakni Cirebon, Kuningan dan Majalengka, Provinsi Jawa Barat. Gunung ini memiliki kawah ganda. Kawah barat yang beradius 400 m terpotong oleh kawah timur yang beradius 600 m. Pada ketinggian sekitar 2.900 m dpl di lereng selatan terdapat bekas titik letusan yang dinamakan Gowa Walet.

Perlu diketahui, dari semua gunung yang ada di tanah Jawa hanya Gunung Ciremai-lah yang start pendakiannya dimulai dari ketinggian 750 mdpl (berarti sisa perjalanan menuju puncak Ciremai sekitar 2.350 meter garis vertical. Huf!) . Jalur dakinya tidak ada jalan datar, 90 persen berjalur terjal dan sudut kemiringannya antara 70 sampai 80 derajat, sehingga waktu tempuh pendaki sampai di puncak dibutuhkan sekitar 12-16 jam (sesuai dengan keuatan pendaki tersebut) tanpa sumber air yang cukup.

Sebenarnya sudah berkali-kali saya berencana untuk ke gunung ini, tetapi setiap mau naik ada saja cerita-cerita miring dari kerabat terdekat yang memang pendaki. Seperti cerita dari Sendy (teman pendaki) yang bilang sempat papasan sama macan kumbang di sana, atau mitos-mitos tidak boleh buang hajat langsung ke tanah (aduh, saya beser-an banget anaknya), yang buat saya lagi-lagi batal untuk berangkat ke sana.

Pernah nonton “Misteri Gunung Merapi” yang pemerannya “Nini Pelet”? Cerita itu tepat berasal dari Gunung Ciremai. Bahkan prasasti presejarah berupa batu besar berbentuk peti mati berumur sekitar 3.000 tahun sebelum masehi juga ditemukan di kawasan ini. Para ahli peneliti sepakat bila wilayah Kuningan Gunung Ciremai merupakan tempat bermukim manusia tua usia.

Cerita tetaplah cerita, namun takdir dan tekad akhirnya tetap membawa saya untuk mendaki Gunung Ciremai pada waktunya.

Hari ke-tiga Lebaran tahun ini, yang sebenarnya sudah dalam beberapa periode terakhir keluarga saya memutuskan untuk tidak mudik karena mayoritas keluarga sudah ada di Jakarta. Alih-alih menghindari kemacetan arus mudik Lebaran, saya dan ketiga teman saya (dua diantaranya admin @infopendaki dan @backpackerlover) berangkat menuju Ciremai, Kuningan Jawa Barat via Palutungan pada malam hari. Rencana akan tiba di Kuningan mendekati Subuh dan sempat beristirahat sejenak.

Setelah lama menunggu, akhirnya kami naik bus tujuan Kuningan dengan tarif Rp 100.000 dan memulai perjalanan ini. Ya! Saya ini genk Antimo, jadi sesaat setelah naik pastikan untuk meminumnya, karena kebayang bagaimana cara supir antar kota ini membawa kendaraannya, aksi di film Batman waktu kejar-kejaran sama musuh juga lewat!

IMG-20151027-WA0019[1]

Tidak disangka di dalam bus kami bertemu 4 orang lain yang akan berangkat dengan tujuan yang sama dan bergabung menjadi satu rombongan dengan kami (salah satunya adalah admin @trackmountain).

Tibalah kami di Kuningan sesuai rencana, yang ternyata kami sempatkan untuk beristirahat sejenak di rumah rekan kami dan bertemu dengan 4 orang lainnya yang akan ikut perjalanan ini (dua diantaranya admin @infociremai dan ex-admin @jelangkung_indo).

Total 12 orang dalam 1 rombongan pendakian bukanlah termasuk rombongan kecil. Terlebih di dalamnya ada 5 admin hits yang paham banget soal pendakian). Saat ini difikiran saya hanya ada dua kemungkinan, mungkin saya akan santai dan aman karena mereka paham betul dengan medannya atau kemungkinan kedua saya akan sangat kelelahan karena harus memacu fisik-mental agar mampu mengimbangi pakar-pakar pendakian itu). Ya maklum saja, saya masih pemula.

Setelah Sholat Subuh, kami melakukan packing ulang dan dengan bismillah kami memulai pendakian melalui Pos Palutungan dengan melakuan pendaftaran dan membayar biaya administratif Rp. 50.000/orang (harga naik per Apr 2015).

CAMERA

Basecamp – Pos 1 Cigowong (2,5 jam) 1450 mdpl

Trek di awal perjalanan didominasi dengan trek menanjak dan menyusuri lembah naik turun (gak perlu sambil nyanyi Ninja Hatori waktu bacanya ya). Ini adalah jarak pos terlama dibandingkan pos-pos lainnya, jadi cukup wajar jika merasa agak lelah di awal pendakian.
Beberapa jam pertama menjadi awal dari proses yang sangat penting, dari adaptasi langkah kaki, adaptasi dengan beban berat di pundak, adaptasi bernafas, sampai adaptasi dengan sifat dan karakter teman satu team, terlebih untuk yang baru saja bertemu pada saat itu.
Di pos 1 atau Cigowong dengan lahan yang cukup luas dan datar dengan dikelilingi pepohonan besar inilah satu-satunya sumber air yang memadai di Gunung Ciremai. Makin banyak jumlah orang makin banyak pula jumlah air yang harus di bawa. Minimal 2 botol x 1,5 liter air untuk masing-masing orang. Dan ternyata tidak ada pengecualian untuk pendaki wanita bin lemah letih lesu letoy seperti saya! (melirik pedas team lainnya. Hahaha). Tetapi cukup senang, dengan begitu saya merasa tidak dianggap sebagai pihak yang lemah-lemat banget ataupun beban buat mereka (ya walaupun agak ya.)

Pos 1 – Pos 2 Kuta (45 menit) 1575 mdpl

CAMERA

Setelah perjalanan 30 menit tibalah kami di Kuta (bukan Kuta Bali atau Lombok ya), dengan trek menanjak dan beban yang semakin berat jadi tetap terasa melelahkan.

Pada pos 2 ini saya sudah mulai merasakan ritme pendakian bersama pakar-pakar ini. Misal, seperti istirahat yang tidak bisa terlalu sering atau lama dan minum yang dijatah.

Tapi saya rasakan team yang sangat solid, ada petugas yang bikin ketawa, ada petugas yang jatahin air, ada petugas timekeeper biar gak lama-lama istirahatnya, dll. Bahkan saya sempat mendengar mereka sudah menyusun timeframe waktu sampai tiba di tempat camp nanti. Wow!

Pos 2 – Pos 3 Pangguyangan Badak (1 jam) 1800 mdpl

Penasaran sama namanya, kirain beneran ada badak dan ternyata gak, lagian ini bukan habitatnya juga (fyi, habitat badak adalah hutan hujan dataran rendah, padang rumput basah dan daerah daratan banjir besar.) Skip skip jadi bahas badak.

IMG-20151027-WA0026

Trek dari Pos 2 menuju Pos 3 Pangguyangan Badak melewati jalan yang lumayan landai namun memutar. Setelah beristirahat, makan siang bersama, dan menunaikan Zuhur berjamaah kami melanjutkan perjalanan. (Maaf ya Ujang, bukannya pelit gak mau pinjemin mukena, tapi kata mama cowok gak boleh pake, hihihi).

Pos 3 – Pos 4 Arban (1,5 jam) 2050 mdpl

Pendakian menuju Pos Arban termasuk perjalanan yang cukup melelahkan karena sebagian besar didominasi trek menanjak. Kalau bikin FTV, ini judulnya “jalan tak berujung”. Di sinilah sebenarnya tenaga fisik dan mental terkuras hampir habis. Di sinilah mulai terlihat pudar wajah-wajah yang sejak tadi ceria dan penuh canda. Di sinilah mulai terlihat kami sangat kelelahan.

Dan entah mengapa sang admin @infociremai berpesan untuk menjaga perkataan kami di pos ini. Ssstt! Jadi merinding.

Pos 4 – Pos 5 Tanjakan Asoy (45 menit) 2108 mdpl

Dengan kondisi yang sudah sangat lelah dan dahaga, rasanya mendengar nama tujuan pos nya saja sudah sangat melelahkan, ya Pos Tanjakan Asoy. Sudah terbayang pasti tanjakannya akan seperti apa.

Dengan langkah yang lebih perlahan dan berat dari sebelumnya, setapak demi setapak kami lewati. Dan atas kondisi tersebut, kami putuskan untuk segera mencari tempat untuk membangun tenda sebelum gelap, sehingga kami bisa menunaikan sholat dan menyiapkan makanan untuk makan malam.

Camping Time!

Tak lama kemudian, kami mendapati tempat yang cukup bagus untuk membangun 4 tenda. Setelah perut terisi, sesi curhat di mulai. Saya bertugas menjadi pendengar dan inilah awal mula mereka memanggil saya “emak”. (Ah kesannya tua banget!)

Mata sudah sangat kantuk, tetapi mereka mengingatkan untuk tidak tidur di bawah jam 10 malam, karena nanti akan terbangun jam 1 malam dan merasa sangat menggigil setelahnya. Terlebih sudah masuk musim kemarau, suhu malam di gunung akan lebih dingin dari biasanya. Baiklah, sambil dengerin yang lagi pada galau, emak pun mendengarkan dengan seksama.

Pos 5 – Pos 6 Pasanggrahan (1 jam) 2200 mdpl

Subuh tiba, kami bergegas bangun dan mempersiapkan segala sesuatu untuk saat-saat yang kami nantikan, apalagi kalau bukan MUNCAK!

IMG-20151027-WA0041[1]

Melihat kondisi badan, jarak tempuh yang masih cukup jauh ke puncak, dan juga karena ini bukan pendakian Ceremai pertama sebagian besar dari mereka (apalagi admin @backpackerlover yang bahkan rela jaga tenda dan gak ikut muncak. Salut!), sepertinya kami tidak memaksakan untuk mengejar sunrise di puncak. Setelah memasak dan sarapan pagi, kami bersiap menuju pos berikutnya.
Sejak pos terakhir kemarin, dominasi trek masih tanjakan-tanjakan liar, sehingga perlu ekstra waspada agar tidak salah melangkah.

Pos 6 – Pos 7 Sanghyang Ropoh (1 jam) 2650 mdpl

IMG-20151027-WA0038[1]

Selain trek yang terus menanjak ekstrim yang didominasi oleh bebatuan dan bekas lava, pasir kemarau dan panas terik mulai menguras tenaga kami. Sehingga wajib untuk menggunakan buff (penutup mulut/muka). Namun dengan keinginan untuk segera tiba di puncak tidak menyurutkan semangat untuk tetap bergerak.

Pada Pos Sanghyang Ropoh akan menjumpai percabangan “Simpang Apuy”, yaitu percabangan antara jalur Apuy dari Majalengka dan jalur Palutungan Kuningan. Menuju pos Sanghyang Ropoh kita akan memasuki Vegetasi Cantigi dan Edelweiss, tapi sayangnya sedang tidak musim berbunga, sehingga kita cukup puas disajikan hamparannya saja sepanjang mata memandang.

Pos 7 – Pos 8 Goa Walet (1 jam)

Sebenarnya ini Pos yang sangat diminati pendaki untuk mendirikan tenda, karena cukup luas untuk menampung sampai dengan 10 tenda dan ada sumber air yang cukup pada saat musim penghujan.
Kami beristirahat sejenak dan melanjutkan perjalanan ke pos terakhir, PUNCAK!

Pos 8 – Puncak Ciremai (30 menit)

Setelah 30 menit pendakian dari Pos Goa Walet, tibalah kami di Puncak Gunung Ciremai. Canda tawa dan rasa syukur kami panjatkan setiba kami di sana. Sungguh pemandangan yang sungguh jauh lebih indah dari ekspektasi saya.

C360_2015-07-21-13-17-58-158[1]

CAMERA

CAMERA

Ini adalah pendakian musim kemarau pertama saya, setelah sebelumnya entah mengapa saya selalu melakukan pendakian di musim penghujan yang lebih melelahkan lagi. Selain lebih aman dan nyaman, view yang terjadi terlihat jelas tanpa tertutup awan dan kabut, menjadi lebih indah. Masya Allah!

IMG-20151027-WA0008[1]

Setelah puas berfoto, kami masak dan makan makanan seadanya untuk mengisi kekosongan perut dan bergegas turun. Jam menunjukkan tengah hari, dan sangat terik.
Setelah tiba di tenda, kami sempatkan untuk makan siang, menunaikan sholat, dan segera turun melalui jalur Palutungan kembali. Target kami (target mereka maksudnya, hihi) adalah 4-6 jam agar segera tiba di perkampungan kembali, sebelum matahari gelap dan itupun dengan berlari kecil. Baiklah, bismillah!
Maghrib-pun tiba, tetapi kami belum tiba di perkampungan, sedikit lagi. Tetapi kami harus taat peraturan, ini mitos ataupun bukan, tetapi rekan kami mengingatkan untuk berhenti saat azan maghrib berkumandang (penting!). Setelah azan selesai, kami bergegas untuk segera kembali ke Pos Palutungan. Dan inilah yang menjadi akhir dari perjalanan kami.

IMG_20151009_174731[1]

Puncak Ciremai – Pos Palutungan (5 jam)

Terkadang, kita selalu dipertemukan dengan orang lain, misalnya saat di antrian busway, saat lari di Senayan, saat ke mall, saat makan atau minum di café dan sebagainya. Namun, pernahkah kalian bertemu dan bersama orang baru di gunung? Berbeda dengan saat bertemu seseorang di tempat lainnya, bertemu di gunung berarti menikmati saat dimana kami saling menjaga, saat dimana mereka ikut beristirahat kala anggota tim ada yang kelelahan, saat dimana berbagi tugas memasak, mendirikan tenda, atau mengambil air di sumber yang harus berjalan lumayan jauh, atau dimana mereka berusaha membuat semua tertawa disaat lelah dan emosi sudah bercampur-aduk.

Terima kasih Allah atas kesempatan yang diberikan.
Terima kasih mama papa atas izin mendakinya.

CAMERA

Terima kasih team Ciremai yang selalu di hati: Yudi (@backpackerlover), Emon (@infopendaki), Ujang (ex-admin @jelangkung_indo), Eggi (@infociremai), Ogy (partner langganan naik bareng), Tono (Tim sukses galau), Alif (sepupunya Tono yang bilang suara gw mirip Pevita, padahal kan suara gw cempreng), Kevin (@trackmountain), Wasiq (cinlok-an nya Ujang), Rakka dan Rifqi (genk SMA yang selalu bikin gw ketuker manggilnya).

Dan itulah saat dimana saya menyadari, Ya! Ternyata kebersamaan kami yang saling membantu, memberi dorongan semangat, melengkapi inilah yang kami sebut keluarga cemara yang dipertemukan di rumah “Nini Pelet” ini.

Advertisements

Gunung Guntur, 2249 MDPL: “Si Pendek” yang menantang!

30 Aug

Akhir pekan, tidak terlalu banyak gunung yang dapat dikunjungi dalam waktu hanya 2 hari. Terlebih jika kawasannya sangat jauh dari Jakarta. Sehingga lagi-lagi kota Garut menjadi tujuan utama kami.

Kota Garut memang menyimpan keindahan alam yang tak berbatas. Selain Gunung Papandayan dan Cikuray yang sudah cukup dikenal, ternyata masih ada satu lagi gunung indah di sana. Gunung Guntur atau biasa disebut warga setempat gunung Gede. Hasil penelusuran singkat sebelum memutuskan berangkat, saya mendapati bahwa gunung ini memiliki ciri khas yang cukup unik dibandingkan gunung lainnya di Garut, yaitu mayoritas konturnya berpasir dan berbatu serta hanya ditumbuhi rumput ilalang (sabana) yang cukup tinggi bahkan sampai ke puncaknya. Sungguh memesona. Wajar jika beberapa orang menyebutnya Rinjaninya Kota Garut.

View dari Gunung Guntur

View dari Gunung Guntur

Gunung yang terletak di Kampung Dukuh Desa Pananjung, Kecamatan Tarogong Kaler, Kabupaten Garut ini merupakan gunung api yang masih aktif meskipun aktivitas vulkaniknya cenderung menurun hingga kini. Namun pada tahun 1800 an, gunung ini merupakan gunung berapi paling aktif di Kota Garut dan letusan terbesarnya terjadi pada tahun 1840.

Ada beberapa yang menyebutkan bahwa Guntur adalah Rinjani-nya Kota Garut. Karena panoramanya sangat indah.Selain medan gunung yang menantang, Guntur juga dilengkapi dengan lembah, air terjun, sungai, panorama alam dan kawah.

Jumat pulang kantor seperti biasa, saya dan 6 orang teman lainnya berkumpul di Kp Rambutan. Dan langsung naik bus tujuan Garut dengan pemberhentian di pom bensin Tanjung, Garut dan masjid di dalamnya menjadi titik kumpul pertama. Kami tiba pukul 2 dini hari, sehingga sekedar merebahkan badan setelah melaksanakan 2 rakaat rasanya baik untuk kami mengumpulkan tenaga untuk tracking beberapa jam ke depan.

Jam menunjukkan pukul 5 pagi, setelah kami melakukan Shalat Subuh dan packing ulang, kami siap untuk memulai perjalanan melalui gang sebelah pom bensin yang merupakan awal mula jalur pendakiannya. Rejeki anak sholeh sholehah! Baru jalan kaki sedikit, langsung dapat tebengan truk. Sebenernya nebeng truk itu pilihan hidup dan mati. Jalur berpasirnya yang kayaknya gak cocok buat truk untuk memanjat dan berkelok dengan sisi kanan dan kiri jurang selain bikin mules, kalau lengah sedikit bisa kelempar keluar dari truknya. Tetapi karena dapat menghemat waktu selama 2 jam dengan berjalan kaki, alhasil kamipun menaikinya.

Naik truk penambang pasir

Naik truk penambang pasir

Sunrise di perjalanan di atas truk

Sunrise di perjalanan di atas truk

 

Kalau dilihat dari ketinggian Gunung Guntur 2249 MDPL, banyak orang yang meremehkannya. Sepertinya mudah saja untuk mendaki, bahkan pendaki pemula juga oke. Terlebih ketinggian gunung ini lebih rendah dari ketinggian Gunung Papapandayan (2665 MDPL) yang biasanya digunakan untuk sekedar camping ceria. Rasanya cukup untuk sekedar melepaskan rindu dengan tracking dan udara gunung. Terlebih saya saat itu baru saja sembuh dari demam selama 3 hari. Itupun setelah mendesak dokter untuk memberikan obat yang paling manjur yang dia punya agar dapat sembuh selama 3 hari saja. Walaupun sang dokter kala itu hanya tertawa mendengar permintaan saya, tetapi Alhamdulillah berkat ridho Allah SWT melaui obat dokter itupun saya siap bertempur setelah 3 hari sakit.

Tetapi… dugaan saya terpatahkan sesaat setelah saya berada sejak di kaki gunungnya pun.

Gunung Guntur memiliki kemiringan yang sangat curam dan material tanah berupa tanah pasir berbatu. Untuk stabilitas tanahnya wilayah ini tergolong labil, dengan tingkat kelongsoran tanah yang tinggi dan daya serap tanah yang cukup. Hal ini diperparah dengan pengrusakan yang dilakukan oleh para penambang pasir ilegal di kaki gunung ini. Terlihat betapa tandusnya kawasan kaki gunung ini sebagai akibat dari penambangan pasir tersebut.

IMG_0337

 

Dengan bismillah saya melanjutkan tracking.

 

Ini adalah pendakian pertama ke Gunung Guntur untuk kami bertujuh, sehingga bermodal bismillah kami menyusuri track dengan track yang ada. Ternyata benar saja, ada dua jalur pendakian, yaitu jalur Curug Citiis 1-3 atau yang satu lagi jalur ikan asin (sebenarnya ini julukan dari saya sendiri, betapa tidak lewat jalur ini jalanan kering kerontang tanpa air, panas, dan pepohonan rindang hanya bisa dihitung dengan jari – persis seperti proses pembuatan ikan asin hehehe). Dan kenyataannya, kami melewati jalan ikan asin itu (Ini menjadi sangat penting, jangan lupa pakai sunblock!) Sedangkan yang lainnya ternyata banyak yang melewati jalur Curug Citiis yang lebih rindang walaupun tracknya luar biasa dasyat, jalur tracknya hamper mirip seperti Gunung Cikuray.

IMG_0271

IMG_0278

 

Jika mendaki gunung lain, team tidak akan terpecah, saling tunggu dan saling susul. Berbeda dengan pendakian Gunung Guntur, masing-masing memiliki metode sendiri untuk menjaga diri masing-masing agar tetap sanggup untuk mendaki. Bahkan saya menerapkan sistem 10:1, jadi 10 kali mendaki 1 kali berhenti untuk nafas lebih panjang. Tetapi sayangnya jalur pasir nan seru ini membuat perjalanan lebih istimewa, karena dengan mendaki 10 langkah, akan merosot 5 langkah.

IMG_0258

 

Namun jangan salah, melewati jalur Curug juga hanya sampai batas Curug 3, setelah itu sama seperti jalur ikan asin yang kejemur luar biasa maha dasyat dengan nafas senin-kamis dan tidak ada sumber air lagi. Curug Citiis 3 adalah sumber air terakhir, yang berarti pendakian semakin berat karena harus mengambil air sebanyak-banyaknya biar tetap bertahan hidup selama di puncak. Dengan track nan aduhai dan stok berliter-liter air di gendongan membuat perjalann ini semakin menantang.

 

Seperti yang saya ungkap sebelumnya, jumlah pohon rindang bisa dihitung dengan jari, sehingga dirasa setiap pohon rindang kami anggapn sebagai pos untuk beristirahat sejenak dan bahkan sampe umpel-umpelan dengan pendaki lain yang juga lagi neduh dan istirahat saking jarangnya pohon rindang.

IMG_0333

 

Semakin menuju puncak semakin miring juga jalannya, bahkan sampai hampir harus mencium tanah, karena sudah tidak bisa dibedakan kembali mana tanah untuk dipijak mana tanah untuk berpegangan. Bisa dibayangkan sistem 10:1 tadi akhirnya berubah menjadi 5:1 dengan paha dan betis yang saling bergema di setiap langkahnya (nyut-nyutan). Luas biasaaaa seruuu!

IMG_1212

IMG_0352

 

Tidak terasa 7 jam sudah berlalu (siapa bilang tidak terasa?), tibalah kami di puncak bersama 2 rekan saya yang lain. Dari situ kami tersedar, bahwa tendanya ada bersama 4 kami lainnya yang belum sampai puncak. Akhirnya dengan panas terik kami memulai memasak karena perut juga sudah terasa sangat lapar 4 bungkus indomie kami makan bersama 3 pendaki lain yang juga sedang menunggu rombongannya.

IMG_0243

 

Lelah berubah menjadi rasa syukur saat melihat panorama indah dari atas sini. Kota Garut nan indah, terlihat lebih indah dari atas sini. Subhanallah.

 

Beberapa jam kemudian, 4 teman kami lainnya. Dengan sigap kami bekerjasama membangun tenda dan memasak untuk rekan kami yang baru tiba. Satu nilai plus lagi untuk hobi mendaki ini, bersosialisasi dan kerjasama dengan yang lainnya tanpa pamrih.

IMG_0467

IMG_0494

 

Malam tiba, terdengar di luar tenda riuh tertawa bersorak pendaki-pendaki yang sudah membangun tendanya. Bahkan salah satu rekan kami berkata bahwa pemandangan kota Garut sangat canti di malam hari dengan cahaya-cahaya lampunya yang menghias seperti bintang. Seperti sedang berada tengah langit, dengan kemilau bintang dari atas langit dan dari bawah dari cahaya lampu Kota Garut. Namun apa daya, karena badan kembali tidak enak. Padahal inilah yang dinantikan semua pendaki Gunung Guntur.

 

Setelah saya memutuskan untuk berada di dalam tenda, dingin malah semakin menggigit. Kulit terasa semakin kering terlebih setelah siangnya tersengat panas terik, terlebih di Puncak Gunung Guntur ini dehidrasi sangat tinggi karena tidak ada sumber air. Sehingga berpengaruh pada kulit yang juga dirasa butuh untuk meregenerasi dengan asupan yang cukup. Terbawa saat kebiasaan di rumah, caring moment pakai pelembab Nivea Night Whitening Body Serum pun saya lakukan di sini. Siapa bilang pendaki atau seorang backpacker ga boleh menjaga kulitnya. Bahkan akibat sengatan matahari langsung, kulit lebih cepat rusak dan harus cepat pula diperbaiki. Terlebih malam hari adalah saat yang paling aktif, bahkan 2 kali lebih aktif ber-regenerasi mengeluarkan hormon pertumbuhan yang berguna buat memperbaiki sel-sel yang rusak itu jika dirangsang dengan serum bervitamin C ini. Jadilah kebiasaan ini kebawa-bawa kemanapun, dan siap tidur berselimut sleeping bag hangat di malam hari.

IMG_1894

 

Dan besoknya saya baru sadar, kalau kita baru di puncak 1 karena dari situ melihat puncak lainnya yaitu puncak 2, dan yang lebih terkejut lagi ternyata Guntur punya 4 puncak.

 

Karena saya ga sanggup, saya rasa tidak wajib sampai ke puncak 4 (ya daripada ga bisa turun lagi ya boooo ini udah pegel banget).

Pagi hari, saatnya berjumpa dengan sunrise yang indah.

Sunrise cantik dan Gunung Ceremai, view dari gunung Guntur

Sunrise cantik dan Gunung Ceremai, view dari gunung Guntur

Matahari tertutup kabut

Matahari tertutup kabut

kami!

kami!

 

It’s time to Turun Gunung!

Tanpa ragu-ragu, gunung Guntur saya nobatkan sebagai gunung yang lebih susah dituruni walaupun lebih pendek mdplnya dari gunung lain yang pernah didaki. Di Gunung Slamet manjat berjam-jam, turun bisa cuma 2 jam. Minimal bisa gelindingan. Sedangkan di Guntur, jangankan lari, gelesoran ngikutin kerikil saja masih sulit. Akhirnya saya memilih seperti turun dengan teknik perosotan sampai celana sobek di bagian belakang yang baru saya sadari saat hamper sudah sampai bawah. Hiks!

Teknik merosot turun

Teknik merosot turun

 

Celana Belakang Sobek akibat Merosot turun

Celana Belakang Sobek akibat Merosot turun

Catatan wajib: sarung tangan tebal, buff (penutup muka), dan sepatu di Gunung Guntur adalah wajib.

City Sight from Here, Garut

City Sight from Here, Garut

Pendaki dan Kota Garut

Pendaki dan Kota Garut

 

Setelah beberapa jam akhirnya, tibalah di bawah. Perjuangan maha Dasyat mendaki Gunung Guntur malah membuat saya rindu sesaat setelah mencapai kaki gunungnya. Dan suatu saat pasti akan melalukannya lagi, suatu saat.

 

 

 

Remember this:

Take nothing but pictures, 

Leave nothing but footprints, 

Kill nothing but time.